SMS Hadist dan Doa....
SMS SELULER
# Orang yang berzikir dan mengucapkan Subhanallah Wabihamdih 100x maka Allah akan mengampuni sebesar apapun dosanya (Bukhari/Muslim)
# Perumpamaan orang yang berzikir kepada Ronbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati (Bukhari/Muslim)
# Ummatku akan tampil di hari kiamat dengan wajah bersinar, tangan serta kakinya berkilauan dari bekas-bekas wudhu (Ahmad/Bukhari/Muslim)
# Allah swt sangat gembira menerima taubat seseorang, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang (Muslim)
# Wanita dikawini karena 4 faktor: harta kekayaan, kedudukan, kecantikan dan agamanya. Dan pilihlah agamanya, karena berkah ditanganmu (Muslim)
# Rasulullah saw: Orang yang terlewat sholat Ashar seolah-olah keluarga dan hartanya telah hilang darinya (Muslim)
# Sholat lima waktu, juga sholat jum'at ke jum'at berikutnya dapat menghapuskan dosa-dosa yang terjadi antara semuanya, selama tidak berbuat dosa-dosa besar (Muslim)
# Arak (khamar) haram walaupun diubah dalam bentuk apapun (Muslim/Tarmidzi)
Sunnah untuk memilih waktu akhir untuk zhuhur bila hawa sangat panas (Bukhari/Muslim)
# Tengoklah kepada orang yang lebih rendah darimu, jangan tengok orang yang lebih tinggi. Itulah tembok yang kukuh agar kamu tidak hina pemberian Allah (Muslim)
Tiap pagi 2 malaikat berdoa: Ya Allah, berikanlah ganti pada orang yang berinfaq, berikan kemusnahan pada orang yang tidak berinfaq (Muslim)
# Rosululloh saw: Kami tidak tidur siang dan makan siang, kecuali setelah melaksanakan sholat jum'at (Muslim)
# Rosul saw: 5 kewajiban muslim terhadap muslim lain adalah: jawab salam, doakan orang bersin, hadiri undangan, jenguk orang sakit, iringi jenazah (Muslim)
# Rosul saw: Setan, bila dengar azan untuk sholat, ia berlari sampai tidak terdengar lagi. Ketika azan berhenti ia kembali menghasut (Muslim)
# Iman itu ada 70 cabang lebih cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman (Muslim)
# Salah satu dari 7 golongan yang bakal dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari kiamat adalah orang yang bersedekah dan merahasiakannya (Muslim)
# Siapa merasa senang bila dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah sambung hubungan kekeluargaan (silaturrahmi)(Muslim)
# Allah itu maha lembut yang suka kelembutan. Allah akan beri orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberkan kepada orang yang bersikap keras (Muslim)
# Didiklah anak-anak perempuanmu dengan baik, berbuat baiklah kepada mereka, karena mereka akan menjadi penghalang bagimu dari api neraka (Muslim)
# Bagi orang yang membaca Al Quran akan mendapat sakinah (ketenangan) dalam dirinya (Muslim)
# Tak ada yang lebih sabar daripasa Allah swt. karena meski disekutukan, Allah tetap beri kesehatan dan rezeki kepada mereka (Muslim)
# Orang akan menemukan manisnya iman bila orang tersebut lebih mencintai Allah dan Rasulnya dari pada yang lain (Muslim)
# Haram membua tatto, hilangkan rambut pada wajah karena mengubah ciptaan Allah (Mus/Bukh)
# Sebaik-baik wanita adalah yang paling sayang pada anak yatim yang masih kecil dan yang paling perhatian terhadap urusan/keadaan suaminya (Muslim)
# Sunnah bagi majikan mengambil sebagian dari makanan yang terhidang untuknya dan diberikan kepada pembantunya (Bukhari/Muslim)
# Orang yang kedudukannya paling buruk di sisi Allah di hari kiamat kelak ialah orang yang dijauhi orang lain karena mereka takut akan kejahatannya (Muslim)
# Bersedekah tidak harus dengan harta, dapat dengan menghimbau berbuat kebaikan atau menahan diri dari berbuat kejahatan (Muslim)
# Siapa yang menunjukkan jalan kebaikan, maka pahalnya sama dengan orang yang mengerjakan kebaikan itu (Muslim)
# Allah swt. menyukai hamba yang bertaqwa, kaya hati dan bersembunyi/diam-diam dalam menjalankan ibadah (Muslim)
# Seseorang yang selalu berzikir kepada Allah secara sembunyi dan mencucurkan air mata, akan dinaungi Allah pada ahri kiamat (Bukhari/Muslim)
# Doa: Ya Tuhanku! Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhanku! Terimalah doaku (Ibrahin 40)
# Celakalah orang yang jadi hamba harta benda, bila dia diberi senang dan bila tidak diberi menjadi sedih (Bukhari)
# Sabda Rosul: Tiga perkara tidak terputus bila seseorang meninggal: Sedekah jariah, Ilmu yang bermanfaat dan anaknya yang sholeh yang mendoakan (Muslim)
# Nabi saw. bersabda: Hati seseorang yang sudah tua dapat menjadi muda karena mencintai 2 hal: Suka dengan kehidupan dan harta (Muslim)
# Berilah makan kepada orang yang lapar, tengoklah oran yang sakit dan ringankan orang yang menderita kesusahan (Bukhari)
# Beruntunglah orang islam yang diberi rezeki cukup dan merasa puas atas apa yang diberikan Allah kepadanya (Muslim)
#Doa: Ya Tuhan kami! Berilah kami kasih sayang dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk dalam semua urusan kami (Al Kahfi 10)
# Rosul bersabda: Dilarang memukul bagian muka walaupun terhadap orang yang melakukan perbuatan dosa, berzina, minum khamar dll. (Muslim)
# Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan syaithon dan berlindung kepada-Mu dari kedatangan mereka kepadaku (Muslim)
# Doa: Ya Tuhan! Tempatkanlah saya pada tempat yang penuh berkah, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi tempat. (Al Mukminun: 29)
# Sungguh Allah memiliki 99 nama (sifat), barang siapa yang mengucapkannya maka dia masuk surga (Muslim/Tirmizi)
# Ya Allah! Limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu (Al A'raf 126)
# Doa Nabi Ibrahim: Ya Allah! Berikanlah keapadaku keturunan yang saleh (QS As Shoffat 100)
# Rosul bersabda: Hendaklah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mengasihi (Bukhari)
# Ya Allah berilah rahmat kepada kedua orang tuaku, sebagaimana mereka telah memelihara aku sejak kecil (QS Al Isra: 24)
# Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai dan neraka dikelilingi oleh syahwat (Bukhari)
# Pemimpin yang menyusahkan rakyat dan menyenangkan dirinya sendiri adalah haram (Bukhari/Muslim)
# Siapa biasakan diri baca istighfar maka Allah lapangkan kesempitan, mudahkan kesulitan dan rizqi tanpa diduga-duga (Abu Dawud)
#Ya Tuhan kami! Berilah kesabaran kepada kami, kokohkan pendirian kami dan menangkanlah kami atas orang-orang yang kafir (Al Baqoroh 250)
# Orang-orang yang beriman menjadi tentram hati mereka, ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (Ar-Ra'du: 28)
#Ya Tuhan kami! Janganlah Engkau jadikan kami sasaran Fitnah kaum Zalim, selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari tipu daya orang-orang kafir (QS Yunus 85)
# Sabda Rosul: Allah itu indah dan suka keindahan, Allah suka melihat kenikmatan pada hambaNya, benci kemelaratan dan yang berlagak melarat (Muslim)
# Rosul: Harta dinafkahkan fisabiilillah, ke fakir miskin, atau keluargamu, maka pahala terbesar yang dinafkahkan ke keluargamu (Muslim)
# Rosulullah saw besabda: Orang mukmin bukanlah pengumpat dan suka mengutuk, yang keji dan yang ucapannya kotor (Bukhari)
# Rosul: Anak Adam itu walau telah punya harta sebanyak 2 gunung niscaya masih ingin lagi, walaupun hanya tanah dirongganya yang dibawa (Muslim)
# Muslim yang menanam tanaman dan sebagian hasilnya dimakan burung, binatang, manusia maka orang itu dapat pahala (Bukhari)
# Sedekah lebih tepat bukan pada pengemis tetapi kepada orang yang berkekurangan tetapi dia tidak mengemis (Muslim)
# Ya Allah! Dirikanlah untukku rumah di sisiMu dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan dari kaumnya yang zalim (Al Tahrim: 11)
Ya Tuhan! Berilah ganjaran antara sesama kami dengan hak (adil) karena Engkaulah sebaik-baiknya pemberi keputusan/hukuman (Al A'raf: 89)
# Hai kaum muslimat! Jangan menganggap remeh pemberian seorang tetangga walau sekecil apapun (Bukhari)
# Berdermalah! Berdermalah! Dan jangan dihitung atau ditakar, karena Allah tidak menghitung dan menakar pemberianNya (Muslim)
# Abu Said ra: Rosulullah bersabda: Bila diantara kamu menguap tutuplah mulutmu dengan tangan agar syaiton tidak masuk (Muslim)
# Orang mukmin bila mendapatkan kebahagiaan ia bersyukur dan bila mendapat kesengsaraan ia sabar (Muslim)
# Nabi saw: Allah terima taubat di malam hari bagi yang berbuat kesalahan di siang hari dan sebaliknya selama belum terbit matahari dari barat (Muslim)
# Abu Khurairah ra: Rosul bersabda: Siapa yang melihat aku dalam mimpi maka sebenarnya itulah romanku, karena syaiton tidak dapat menyerupaiku (Muslim)
# Ya allah! Terimalah amal perbuatan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui (Al-Baqoroh: 127)
# Aisyah ra. tentang Rosul: Beliau selalu bersama istrinya di rumah, bila waktu sholat tiba beliau segera bergegas untuk sholat. (Muslim)
# Rosul saw: Orang yang mengurusi janda dan orang miskin, seperti orang berjuang fiisabiilillah, seperti orang yang sholat malam tidak tidur sedikitpun (Bukhari)
# Sabda Rosul: Seisi dunia, adalah sarana penyenang hati yang paling utama di dunia adalah wanita yang solehah (Muslim)
# Ibnu Abbas ra: Aku beri tahu cara berwudhu Rasulullah saw, yaitu ia basuh anggota wudhu satu kali-satu kali dengan cermat (Bukhari)
# Sabda Rosul saw: Janganlah kamu menoleh saat sholat karena itu merupakan perampasan oleh syetan dari sholatnya seorang hamba (Bukhari)
# Kamu sekalian akan dapat lindungan di hari kiamat kelak, bila kamu perlakukan anak orang miskin seperti anakmu sendiri (Bukhari)
# Aisha ra: Setiap saat sebelum tidur malam, Rosul selalu membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas lalu mengusap kepala, muka dan dadanya 3x (Bukhari)
# Rosulullah SAW: Sedekahkan harta/uangmu, bila kamu menahannya, maka Allah akan menahan berkah/rizkiNya kepadamu(Buk)
# Rosulullah SAW: Sebuah ikhtiar/kerja di jalan Allah (siang atau petang ) adalah lebih baik drpd dunia dan seluruh isinya(Buk)
# Rosul saw: Sebelum sholat Jum'at, malaikat mencatat nama yang datang urut sesuai kedatangan. Khutbah mulai,kertas dilipat, malaikat dengar khutbah (Bukhari)
# Ketika Rosul tahu seseorang memberi hadiah tidak kepada semua anaknya (pilih kasih), beliau berkata: Ambil kembali pemberian itu (Bukhari)
# Anas bin Malik: Rosulullah saw bersabda: Lakukanlah sahur dalam berpuasa karena ada rahmat di dalamnya (Bukhari)
# Maimuna: Rosulullah saw biasa sholat mempergunakan sajadah kecil yang hanya cukup untuk muka dan telapak tangan ketika sujud (Bukhari)
# Rosul: Siapa yang tidak dapat meninggalkan ucapan/perbuatan dusta sewaktu berpuasa maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya (Bukhari)
# Apabila diantaramu berbuka puasa, hendaklah berbuka dengan air putih karena air putih sebagai pembersih (Bukhari)
Bingkisan DOA.....
Bingkisan DOA
Ya Allah..
Seandaianya telah Engkau catatkan..
Dia milikku tercipta untukku..
Satukanlah hatinya dengan hatiku..
Titipkanlah kebahagiaan antara kami..
Agar kemesraan itu abadi..
Dan Ya Allah..
Ya Tuhanku Yang Maha Mengasihi..
Seiringkanlah kami melayari hidup ini..
Ketepian yang sejahtera dan abadi..
Tetapi Ya Allah..
Seandainya telah Engkau takdirkan..
Dia bukan milikku..
Bawalah ia jauh dari pandanganku..
Luputkanlah ia dari ingatanku..
Dan peliharalah aku dari kekecewaan..
Serta Ya Allah Ya Tuhanku Yang Maha Mengerti..
Berikanlah aku kekuatan..
Melontar bayangannya jauh ke dada langit..
Hilang bersama senja nan merah..
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya..
Dan Ya Allah Yang Tercinta..
Gantilah yang telah hilang..
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah..
Walaupun tidak sama dengan dirinya..
Ya Allah Ya Tuhanku..
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu..
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan..
Adalah yang terbaik buatku..
Karena Engkau Maha Mengetahui..
Segala yang terbaik buat hambaMu ini..
Ya Allah..
Cukuplah Engkau sahaja yang menjadi pemeliharaku..
Di dunia dan di akhirat..
Dengarkanlah rintihan dari hambaMu yang dhaif ini..
Jangan Engkau biarkan aku sendirian..
Di dunia ini maupun di akhirat..
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran..
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman..
Supaya aku dan dia sama dapat membina kesejahteraan hidup..
..ke jalan yang Engkau ridhai..
Dan kurniakanlah aku keturunan yang saleh..
Amin.. ya rabbal 'alamin..
Resonansi...
| Resonansi |
|
Cinta dan waktu
Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."
Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Ia kian panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.
"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.
"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!"
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya lelaki tua tadi.
"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.
"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.
"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."
Love and Madness By RARA
Pada masa dulu, sebelum dunia diciptakan seperti yang kita kenal sekarang dan manusia belum lagi menginjakkan kakinya di sana; semua sifat kebaikan dan kejahatan berkeliaran tak tentu arah dan merasa bosan, tak tahu apa yang hendak dilakukan. Suatu hari, mereka berkumpul dan merasa lebih bosan lagi daripada sebelumnya, sampai ketika Kecerdikan mengemukakan usul: "Mari kita bermain petak umpet". Mereka semua menyukai ide tsb, dan secara tiba2 Madness/Kegilaan berteriak : "Aku ingin menghitung, biar aku saja yang menghitung!" Dan karena tidak ada yang cukup gila untuk ingin mencari kegilaan, semua yang lain setuju saja. Kegilaan segera bersandar ke pohon dan mulai menghitung, "Satu, dua, tiga..." Sementara Kegilaan menghitung, semua sifat kebaikan dan kejahatan tsb bersembunyi. Kelembutan menggantung dirinya di ujung bulan, pengkhianatan bersembunyi di tumpukan sampah. Kasih sayang bergulung di antara awan, dan Nafsu Kegairahan pergi ke tengah2 bumi. Kebohongan berkata akan bersembunyi di bawah batu, tapi ternyata justru bersembunyi di dasar danau. Sementara itu, Ketamakan masuk ke dalam kantung yang kemudian ternyata dirobeknya karena tidak muat. Dan Kegilaan masih terus menghitung, "Tujuh puluh sembilan, delapan puluh, delapan puluh satu..."
Ketika itu, semua sifat tsb telah tersembunyi kecuali Cinta. Seperti keragu-raguan dalam cinta, dia tak bisa memutuskan kemana harus bersembunyi. Dan ini tentu tidak mengejutkan karena kita semua tahu betapa sulitnya menyembunyikan cinta. Pada saat Kegilaan sampai pada hitungan ke-100, Cinta segera melompat bersembunyi ke kebun bunga Mawar. Dan dengan bersemangat Kegilaan berbalik dan berteriak, "Bersiaplah, ini aku datang! Akan kutemukan kalian semua" Kemalasan adalah yang pertama ditemukan, karena dia bahkan tidak punya energi untuk mencoba bersembunyi. Kemudian, secara hampir beruntun Kegilaan segera menemukan Kelembutan di ujung bulan, Kebohongan di dasar danau dan Gairah di tengah2 bumi. Satu persatu Kegilaan menemukan mereka semua -kecuali lagi2 Cinta.
Kegilaan mulai menjadi semakin gila karena putus asa untuk menemukan Cinta. Tapi Kecemburuan yang iri pada Cinta karena belum juga ditemukan, berbisik pada Kegilaan, "Kau hanya perlu mencari Cinta, dan dia bersembunyi di semak bunga mawar."
Kegilaan mengambil garpu taman dan menusuk2annya serampangan ke arah semak Mawar. Dia terus menusuk2 sampai terdengar suara tangis memilukan yang membuatnya berhenti. Cinta keluar dari persembunyiannya sambil menutup mukanya dengan tangan. Di antara jari2nya mengalir darah segar yang ternyata berasal dari kedua belah matanya. Kegilaan yang terlalu bersemangat untuk menemukan Cinta, tanpa sengaja telah melukai mata dari Cinta.
"Apa yang telah kulakukan!" teriaknya menyesal. "Aku telah membuatmu buta! Bagaimana aku harus memperbaikinya?" Cinta menjawab, "Kamu tak mungkin memperbaikinya. Tapi kalau kamu bersedia melakukan sesuatu untukku, kamu bisa menjadi guide-ku."
Dan semenjak itulah, Cinta itu buta. Namun ia bisa melihat dan berjalan meski dalam kegelapan, karena selalu didampingi oleh Kegilaan.
Teriakan Jarak Hati....
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pAndangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda." |
Tangis untuk adikku...
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan napas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik,hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar --ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. (Dari "I cried for my brother six times)
Karena kau tulang rusukku...
Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak cinta lagi sama aku!"
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing."
Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"
Serambi/Resonansi...
Kalah Rupo Menang Dowo
Sungguh alam ini seimbang belaka hukumnya. Ketika jalan-jalan raya di Indonesia mulai bikin penat karena keruwetannya, aneka truk datang menghibur kita, terutama dengan tulisan grafiti di bak-bak mereka. Judul di atas adalah salah satunya, berasal dari bahasa Jawa prokem yang jika diterjemahkan secara bebas berarti: kalah tampang, menang panjang.
Judul itu mengelikan saya bukan karena saya adalah orang Jawa yang paham ke mana arah kalimat itu hendak menuju. Saya tertawa, lebih karena fantasi saya sendiri. Baiklah, tampangku memang tidak seberapa, tapi panjangku ini yang harus engkau tahu. Padahal di iklan-iklan seks, di email-email sampah, tawaran untuk bikin gede dan bikin panjang itu luar biasa maraknya. Artinya betapa pentingnya yang panjang dan yang gede itu sekarang. Di Indonesia malah telah tersebar berbagai klinik, bengkel pembesaran dan perpanjangan, beberapa di antaranya malah sudah ada pula klinik yang membuat gerai waralabanya!
Jadi, betapa tampang itu, betapa pun kerennya, jika pendek dan kecil saja, apalah artinya. Zaman sudah berganti. Bumi telah mejadi venus, dan penduduk bumi, pria atau wanita telah lebih emosional. Tapi pemicu emosi itu tidak cuma dikendalikan oleh sang tampang semata tapi juga oleh si panjang. Dan tawa saya bisa makin mengeras ketika fantasi ini saya kembangkan lebih jauh.
Melayang pada teman kuliah saya dulu. Teman yang secara jujur mengakui betapa tidak menarik tampangnya. Betapa ia tidak cocok pacaran dengan bintang-bintang kampus model sinetron. Tapi ia punya satu tekat membara dalam dirinya, betapa buruk tampangnya itu tidak sanggup menghalanginya untuk menjadi seorang jagoan. ''Boleh dicek, seluruh pembantu rumah tangga di kompleks ini sudah aku jelajahi,'' katanya bangga.
Hahaha… luar biasa. Sejak saat itu, setiap kali ia melihat cowok yang lebih keren, bawaannya sinis melulu. Karena sekeren apapun, rekormu tetap saja jauh di bawah pencapaianku, terutama soal mengencani para pembantu, begitu katamu. Dan si teman ini, dengan temuan psikologi barunya itu, memang tidak lagi banyak berpikir soal kekurangan tampangnya lagi.
Grafiti di bak-bak truk itu juga memiliki semangat serupa. Ia menghibur saya karena inilah semangat post modernism itu. Semua pihak boleh berada di tengah. Tak ada lagi kata pinggir. Sopir dan kernet truk pun boleh menjadi sastrawan dan melahirkan sastra truk-nya sendiri. Ada truk bergambar Che Ghuevara tanpa kita yakin apakah si penggambar paham tokoh yang digambarnya. Ada truk bergambar wanita super montok dengan dada lebih besar dari tubuhnya ditambah tulisan "wis ngincipi", yang artinya sudah mencicipi. Ada gambar wanita cantik dalam pose yang lebih sopan bertuliskan "luput prawane, kena randhane", jika gadisnya tidak, jandanya pun jadi. Ada lagi yang sangat bekebalikan dari itu semua, yakni gambar ulama menenteng tasbih dengan pesan-pesan mulia yang cuma jamak dijumpai di masjid dan surau-surau desa: "urip mung mampir ngombe", hidup hanyalah sekadar numpang minum, jadi betapa singkatnya.
Jadi, dari bak-bak truk di Indonesia ini, saya seperti dioplos dalam berbagai suasana. Mulai fantasi seks, sampai humor dan masuk dalam dunia spritual yang otentik dan menggairahkan. Di perjalanan, ketika kita dipekakkan oleh bunyi klakson, oleh salip-menyalip yang tiada beraturan, oleh kebut-kebutan dan pelanggaran, sebuah keadaan yang membuat kita merasa kecil dan putus asa… tiba-tia ada seorang tua bertasbih di depan kita berfatwa: urip mung mampir ngombe, hidup hanyalah sekadar nebeng minum.
Jadi hidup yang sesingkat ini, kenapa harus dibikin marah oleh orang-orang yang ugal-ugalan di jalan raya, toh kalau rem mereka blong juga akan mati sendiri. Kenapa semuanya tampak sangat berburu-buru padahal tidak semua sedang betul-betul keburu. Jadi, kenapa hidup yang singkat ini mesti selalu dipanggang watak buru-buru. Buru-buru untuk menjangkau apa saja secepatnya. Dan karena begitu hebat watak buru-buru ini sehingga malah membuat hidup yang singkat ini akan makin singkat belaka oleh buruknya perilaku. Dan akhirnya ada jenis hidup yang keburu diakhiri sebelum ketenangan benar-benar telah kita dapatkan.(Suaramerdeka.com)
Tuhan, tunjukkanlah jalan-Mu
Tak pernah kusangka, niat baik yang kubenihkan, kelak tumbuh menjadi pohon penderitaan. Dan aku harus menyembunyikan penderitaan ini, bertahun-tahun. Tapi, kini, kurasakan batinku sudah tak kuat lagi. Airmata yang kutumpahkan sudah tak lagi memberi keringanan pada bebanku. Menikah, barangkali menjadi impian kebahagiaan semua orang. Aku pun pernah membayangkan demikian. Tapi kenyataan berbicara lain. Menikah ternyata hanya membuatku memamah sengsara, terzalimi. Memang bukan siksa fisik yang kudera, melainkan beban batin yang sangat sulit aku ungkapkan.
Perkenalanku dengan Irwan berlangsung karena penasaran semata. Di kampus, dia acap menjadi topik pembicaraan rekan-rekannku, dengan nada miring. Bahkan, sewaktu aku ikut dalam kegiatan pengajian, seorang senior mengatakan, "Jangan berdekatan dengan Irwan. Dia sesat." Semakin aktif aku dalam kegiatan itu, Irwan kian muncul sebagai hantu, acap dibicarakan tanpa aku tahu wujudnya. Sampai satu ketika, aku bertemu dia, ketika menghadiri sebuah seminar universitas. Dia jadi pembanding diskusi pemikiran Nurcholis Madjid. Dan aku terpesona. Dia terkesan pintar, dan pandai mengomunikasikan ide-idenya. Apa yang harus ditakuti? Tapi kami belum sempat berkenalan.
Barangkali beberapa hari setelah itu, kami bertemu di kampus. Dan, percakapan yang pertama keluar dari bibirnya adalah, "Kenapa kamu berjilbab?" Aku kaget. Dia tak menanyakan namaku, dan dengan entengnya bertanya hal itu, di antara temen-teman yang juga duduk di sekitar kami. Aku mencoba tak menjawab, tapi ia menunggu. "Ini pilihanku," kukatakan begitu, sebelum dia berlalu.
Selanjutnya aku tahu banyak tentang dia, karena kami akhirnya dekat. Dan, satu yang tak bisa aku terima darinya, ia tak pernah salat. Dan kalau aku tanya kenapa, ia berkata, "Ini pilihan sadarku." Sebuah jawaban yang sulit untuk didebat. Tapi hal itu tak membuat kami renggang. Selain masalah ibadah, dia memang memesona. Apalagi, aku ada misi untuk membuatnya berubah.
Ketika hubungan kami meningkat, aku mengajukan satu syarat: dia harus salat. Dan aku bersorak, dia patuh. Bahagia rasanya bisa salat berjamaah bersama. Dan puasa tahun itu, aku lewati dengan bahagia, karena berada di samping seseorang yang kunilai baru sama sekali, yang rajin menemaniku tarawih, salat subuh, dan mengaji. Ayah dan ibu yang semula tak suka dengannya, perlahan mulai mengajaknya bicara. Di rumah, ayah bahkan sudah terbiasa mengajaknya salat berjamaah. Aku bangga, merasa berhasil mengubahnya.
Ia yang lebih tua empat tahun dariku, setamat kuliah langsung bekerja. Semula dia menjadi teknisi di sebuah perusahaan penjualan komputer. Namun, dua tahun setelah itu, ia dan beberapa rekannya membuka usaha sendiri wartel dan perakitan komputer. Waktu itu bisnis sejenis belum banyak terdapat di Solo, sehingga usahanya boleh dikatakan cepat berkembang. Ia kemudian melebarkan usaha dengan membuka bisnis tukar-tambah mobil bekas. Dan kukira sangat sukses. Dan, di tengah kesuksesan itulah kami menikah, setelah aku tamat kuliah.
Perkawinanku sangat berbahagia. Begitu pada awalnya. Tapi, saat aku hamil, mulai kurasakan perubahan drastis pada Irwan. Ia tak lagi lembut. Bicaranya pun hanya seperlunya. Dan yang paling utama, dia kian jarang di rumah. Alasannya sibuk. Yang tak berubah adalah pendanaan rumah tangga, yang kunilai sangat berlebih. Semula, perubahan ini aku anggap bagian dari pengorbanan yang harus aku bayar atas kesuksesan dia. Tapi, lama-lama, aku mulai tahu, dia jarang salat. Bahkan, ketika kandunganku kian menua, kusadari, dia tak lagi pernah salat. Kalau kuajak, ada saja alasannya. Capai, lelah, dan aneka macam dalih, sampai sumpah serapah. Ya, Irawan, Masku itu, telah berubah.
Ketika anakku lahir, ia pun tak menunjukkan perhatian yang lebih padaku. Bahwa ia sangat sayang pada Rehan anak kami, tak dapat aku bantah. Tapi, sampai usia anakku setahun, satu hal yang aku sadari, Irwan hanya beberapa kali saja menggauliku. Ia bahkan menyentuhku seperti karena terpaksa, tanpa peluk-cumbu. Ada apa ini?
Lalu, tanpa sengaja aku menemukan sesuatu: batu akik, rajah di kulit, dan sabuk kain di dalam tasnya. Lebih dari itu, aku juga tahu, ia selalu membaca sesuatu saat masuk rumah, dan selalu mandi dengan air yang baru, bukan air yang sudah menginap di dalam bak kamar mandi. Ada apa ini? Apakah Mas Irwan berdukun? Aku tak akan marah dengan kekakuan sikapnya. Aku tak akan marah meski ia tak menggauliku, itu haknya. Aku juga masih berharap dia berubah dan mau salat kembali. Tapi, kalau dia sudah berdukun, aku marah. MARAH!
Malam itu aku ajak dia bicara, aku tanyakan tentang akik dan jimat-jimat itu. Tapi, radangku ternyata kalah hebat dari amarahnya. Dia yang sepanjang dua tahun pernikahan kami tak pernah main tangan, malam itu menendangku. Dan satu perkataannya yang paling aku ingat adalah: "dasar gadis sial, tidak tahu diri!"
Aku menangis? Apa maksudnya dengan perkataan itu? Apa kesialan yang aku bawa? Apa? Aku marah, aku marah, dan aku tanya alasannya. Tapi dia bungkam. Ia bahkan meninggalkan rumah pukul 1 malam itu, tak kembali, sampai seminggu. Dan ketika kembali, ia bahkan membawa daun pisang muda ke kamar mandi. "Biar aku tak terikut kesialanmu," sumpahnya waktu kutanyakan.
Tuhan, suamiku berdukun. Dan ia lebih percaya kepada dukun itu daripada kepadaku. Tolonglah hamba-Mu ini, Tuhan? Dalam panik, aku mencoba menghubungi paman Mas Irwan di Semarang. Dan hasilnya aku dapatkan: Mas Irwan memang berguru pada seseorang. Telah satu tahun dia mengikuti guru spiritual itu, bahkan secara ekonomi membantu guru tersebut, seoranng perempuan tua asal Manado. Aku minta dipertemukan dengan "guru" itu. Tapi Paman menolak. Dia lebih takut pada Mas Irwan daripada Tuhan. Lalu aku mendesak pada Mas Irwan, dan dia juga menolak. Dia hanya memintaku untuk membaca sebuah mantra tiap subuh dan tengah malam. Aku menolak. Aku tak mau menyekutukan Tuhanku, apalagi dengan mantra yang tidak aku ketahui untuk apa, dengan bahasa yang juga tidak aku pahami. Ini gila. Dan Mas Irwan marah. Ia akhirnya tak pernah mau pulang ke rumah.
Aku tak putus asa. Kuhubungi adiknya. Dan dari Isman, adiknya, aku ketahui, Mas Irwan telah punya istri lagi. Mereka telah dinikahkan oleh sang "guru". Masya-Allah, apalagi cobaan yang menimpaku ini. Aku meraung, menangis, sampai memeluk Rehan. Aku mencoba menghubungi Bapak, tapi selalu saja aku tak bisa cerita. Mereka hanya tahu rumah tanggaku sedang bermasalah, tapi tak tahu apa. Dan aku kian remuk, kian kurus. Waktu aku datangi Mas Irwan ke kantor, dengan enteng dia berkata, "Hanya perempuan itu yang dapat mencegak kesialan kamu."
Akhirnya aku tahu. Ternyata, setelah menikahi aku, usahanya mandeg, bahkan nyaris bangkrut. Pelan tapi pasti, bisnis tukar-tambah mobilnya memburuk. Juga usaha lainnya. Teman-temannya malah keluar dan membentuk usaha sendiri. Ia mencari sebab, dan "guru spiritual" itu menunjuk aku sebagai biang semua keburukan ekonomi itu. Ya Allah, sungguh aku tak dapat mengerti, bagaimana Mas Irwan bisa membenarkan pendapat yang jauh dari nalar itu.
Kini anakku sudah berusia 3 tahun, dan aku telah dua tahun berada dalam penderitaan begini. Uang belanja yang semula lancar, kini tak ada lagi. Ia hanya memberi uang susu untuk Rehan. Selebihnya, ia tak pernah datang. Hanya dua minggu sekali, ia mengirim orang untuk menjemput Rehan dan diajak ke rumahnya dengan istri pilihan "guru"-nya itu. Dan aku tak tahu harus berbuat apa. Ayah dan ibu yang akhirnya tahu, sudah memintaku bercerai. Apalagi, secara batin dan lahir, aku telah tak lagi dinafkahi, lebih dari satu tahun. Tapi, aku tak berani memikirkan itu, tak berani. Aku takut dengan nasib Rehan, yang akan besar tanpa ayah. Aku juga merasa masih berhutang pada Mas Irwan, untuk menyadarkannya, untuk kembali ingat pada Tuhan. Aku tak mau bercerai, karena aku tak ikhlas menyerahkan Mas Irwan pada perempuan itu, yang kian menjauhkannya dari agama. Aku juga tak mau bercerai, karena aku percaya, tak ada sedikit pun kesialan yang aku bawa.
Tuhan, tolonglah hambamu ini. Tunjukkanlah padaku jalan, sehingga aku tahu, apa yang harus aku lakukan menghadapi semua cobaan terberat-Mu ini. Tuhan, aku ini lemah, dan hanya kepada-Mu aku berserah.