Website: Pormadi Paternus Simbolon

Genius is 10% inspiration and 90% perspiration... do it your best!

My Curriculum Vitae

 MY TRULY STORY

 

My name is PORMADI PATERNUS SIMBOLON, born on 09.08.1975 at PARSIROAN, a village in the parish of TIGALINGGA, arcdiocese of Medan, North Sumatra, Indonesia.

         

I’ve been born in a reallyy cahtolic family of farmers, of a sufficient economic condition. I received my first education at home from my birth untill 1988. At the age of 13 years I left my village and went to SIDIKALANG, where I lived at a boardinghouse of the parish of the town and studied at the junior high school there for three years (1988-1991).

 

Then I went ti the Minor Seminary at PEMATANG SIANTAR for the following four years (senior high school) from 1991-1995. There I asked to enter the novitiate of the Carnelites at Batu (East Java). I was accepted and entered there officially on 31 August 1995. There, too after two years of novitiate I made my first religious profession in the Order of Carmel at 10 August 1997. My solemn profession in the same Order I made at 15 August 2002 in the parish church of Sacred Heart in Malang, and on 27 February 2003 I was ordained deacon at the Cathedral of Malang.

 

I made my higher studies of Philosophy and Theology and got my degree of baccalaureate at the SCHOOL OF PHILOSOPHY AND THEOLOGY “WIDYA SASANA”, Jalan Terusan Rajabasa 2, MALANG. But after having finished my studies being a deacon solemly professed in the Indonesian Province of The Order of Our Lady of Mount Carmel, I left the Order. After being ordained  deacon I’ve exercised for several months the office of deacon at the parish of KEPANJEN, diocese of Malang.

 

From the time I was at the Minor Seminary of Pematang Siantar, North Sumatra, after the time I left, I often asked permission to leave because I never felt really fully “the vocation for the religious life and the priesthood” and because of difficulty of celibacy.

 

First of  all there there was a strong pressure of my parents to become a priest. At the Minor Seminary and at the monastery I was always given the counsel to try it again and my self I did not have enough courage to  make a decision different from the strong desire of my parents and the counsel I received at th Seminary and the monastery. So my my motivation to enter the Order and to make my first and solemn profession was almost the same: I would try as good possible, but was always unsure and doubtful. There was no any real problem in leving the religious life, no difficulty about faith, but I was just  afraid to stay and afraid to leave, especially because of the celibacy. I did my best, seriously. I understood well the meaning and the consequences, but I was always afraid of not being capable to live chastely.  And I always have spoken about these questions with my formators, i.e. about my doubts with Fr. F.J.M. Kutschruiter and Fr. C. Verbeek, about the celibacy with Fr. Yulius Sudharnoto. Some months after having made my final vows on 15 August 2002 I’ve spoken with Fr. C. Verbeek about my doubts concerning my vocation and he gave me the counsel that I should not ask to be ordained deacon. But I felt rather sure for a moment and so I asked to be ordained deacon, what happened at 27 February 2003. Afterwards I asked to postpone priestly ordination for one year, but finally after some months I decided to leave (11 July 2003). I know that at time I signed the declaration that I was receiving the ordination of deacon with full knowledge and freedom, I was still doubting in my heart. After the ordination as deacon I spoke about my difficulties too with Fr. Thomas Gheta, the priest who was in charge of the parish where I assisted as deacon for several months. After leaving the monastery I did not exercise the ministry, but I have a job provide for my living. And after receiving dispensation I should like to marry.

 

The following persons can give testimony about my case:

Father Heribertus Heru Purwanto, O.Carm., provincial at the time;

Father F.J.M. Kutschruiter, O.Carm., my spiritual director;

Father Yulius Sudharnoto, the prior and magister studentium for the last two years;

Father Th. Gheta, parish priest of Kepanjen and

Father C. Verbeek, for several years spiritual director.

 

 

Jakarta, 6 Juni 2006

Tak kenal maka tak sayang


Je vous me presenter...REFLEKSI SEJARAH PANGGILAN (Pormadi Simbolon, ketika masih frater Karmelit) Refleksi sejarah hidup panggilan merupakan suatu pemaknaan pengalaman-pengalaman hidup sehingga diperoleh suatu makna nilai dan perkembangan

P e n d i d i k a n

Pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi:

01. SD Negeri Inpres Parsiroan, DATI II DAIRI

02. SMP Swasta Katolik Santo Paulus Sidikalang

03. SMA Katolik Seminari Pematang Siantar

04. S1 Filsafat dan Teologi dari Sekolah Tinggi Filsafat  

       dan    Teologi Widya Sasana Malang, Jawa Timur .


KETIKA MASIH FRATER KARMELIT

REFLEKSI SEJARAH PANGGILAN

 (Pormadi Simbolon, ketika masih frater Karmelit)

Refleksi sejarah hidup panggilan merupakan suatu pemaknaan pengalaman-pengalaman hidup sehingga diperoleh suatu makna nilai dan perkembangan suatu perjalanan hidup. Atas alasan pencapaian makna, nilai dan perkembangan tersebut, saya merefleksikan sejarah pengalaman hidup panggilan saya. Mulai dari pengalaman hidup dalam keluarga, masa sekolah hingga di seminari, masa novisiat, masa di Biara Titus Brandsma, masa tahun berpastoral, hingga pada masa persiapan kaul kekal sekarang ini.

I. PENGALAMAN DALAM KELUARGA ( 1975 - 1987)

Dipanggil dengan nama Pormadi, lahir sebagai anak kedua dari delapan bersaudara (7 pria dan satu perempuan), pada tanggal 09 Agustus 1975di Parsiroan, Sidikalang, Sumatera Utara. Dibesarkan dan dididik oleh ayah yang pernah mengenyam pendidikan di SMP Katolik St. Paulus Sidikalang bersama ibu yang pernah mengalami pendidikan Sekolah Rakyat di Pulau Samosir, Tanah Batak. Dengan latar belakang pendidikan demikian, tentu kedua orang tuaku memiliki keterbatas dan kelebihan tersendiri. Dengan ekonomi pas-pasan, kedua orang tuaku sanggup menyekolahkan kami semua anaknya, minimal pada jenjang sekolah SMU, baik pada sekolah swasta maupun Negeri. Itu sudah merupakan kebanggan tersendiri bagi kami di pedesaan dan jarang bisa dicapai oleh tetangga atau penduduk satu desa.

Di samping itu, kedua orang tuaku berperan aktif dalam kegiatan Gereja. Ayahku yang sudah almarhum aktif sebagai bendahara Kredit Union (Credit Union) ( CU sekarang sudah mati ditelan waktu) di paroki Tigalingga dan ia merangkap juga sebagai ketua Dewan Stasi di stasiku tentunya. Sedangkan ibuku aktif sebagai anggota kelompok koor para ibu-ibu Katolik (Punguan Ina Katolik, “PIK” sebutan di stasiku). Selama saya masih duduk di bangku SD sampai dengan SMP, saya selalu dididik oleh orang tua, supaya rajin belajar, dan mengikuti segala peraturan termasuk ketaatan kepada pimpinan. Alasannya, segala kebaikan yang saya peroleh adalah demi kebaikan saya juga dan keluarga. Demikian ayahku pernah memberi nasehat. Dengan kemapuan yang ada, saya dapa mengikuti kegiatan belajar dengan lancar dan hasilnya pun lebih dari cukup serta belum pernah tinggal kelas. Itu semua berkat didikan dan nasehat kedua orang tuaku yang selalu rajin mencari nafkah untuk kami anak-anaknya supaya bisa beresekolah dengan baik. Meskipun demikian, ayah ibuku mempunyai keterbatasan-keterbatasan, baik latar belakang pendidikan untuk anak-anak, pengalaman, dan keterbatasan pengetahuan. Itulah yang mungkin yang membuat perkembangan pribadiku secara psikososio-spiritual berlangsung secara lambat. Selain itu, saya mempunyai sifat minder atau takut tampil di depan umum. Kenyataan ini diperteguh ketika saya pernah bertanya tentang suasana psikologis ibuku tatkala saya masih dalam kandungannya. Ibu saya mengaku bahwa ia merasa terlalu sepat mengandung saya. Sementara anak kedua (usia ira-kira 2 tahun) sedang meninggal dunia. Saya merasa malu, takut ke luar rumah, takut ditolak publik. Demikian pengakuan ibuku. Pengalaman ibuku yang tercinta demikian ternyata turun kepada saya hingga saya beranjak menuju dewasa, yang baru saya sadari dan pahami pada usia kira-kira 25 tahun. Suatu perkembangan kepribadian yang lambat.

Masa duduk di bangku sekolah SD merupakan masa yang indah. Segalanya berlangsung dengan bebas.Saya sering kali dengan polos meminta kebutuhan atau keinginan dan cita-cita berdasarkan alasan senang tidaknya atau cocok tidaknya sesuatu itu pada kita. Suatu ketika dengan polos saya mengajukan keinginan atau cita-cita saya yaitu mau menjadi pastor, seperti pastor Angel (sebutan untuk Pastor Supratigna). Ketertarikan saya berawal dari peristiwa khusus pada saat saya duduk di kelas VI SD.

Sekali peristiwa Pastor Angel dengan chevrolet khasnya sedang pulang dari Stasi lain yang dekat dengan stasi kami, berpapasan dengan kami anak-anak yang pulang dari sekolah. Saya dengan polos dan yakin bahwa pastor itu begitu baik, maka saya berani menghentikan mobil pastor tersebut. Ternyata pastor tersebut tidak marah malahan menyuruh kami naik ke mobilnya. Saya sendiri sangat senang dan bangga. Di dalam mobil saya terkagum-kagum dengan jubah coklat romo yang lengkap tanpa mantol menumbuhkan niat dan panggilan mau menjadi seperti dia. Akhirnya niat dan cita-citaku yang polos itu dikabulkan orang tua. Mereka malahan sangat senang. Yang saya ingat tentang niat saya mau menjadi pastor adalah karena kebaikan pastor, ramah dan jubah coklat yang seperti “superman”. Hati orang tua yang sangat positif menanggapi niat saya itu memutuskan bahwa saya sebaiknya bersekolah di SMP St. Paulus Sidikalang dan tinggal di Asrama Marianum (sekarang hampir lenyap) yang dikelola oleh para biarawan Karmelit.

II. MASA SEKOLAH HINGGA DI SEMINARI (1982 - 1995)

Dengan melanjutkan pendidikan di SMP Katolik tersebut, saya dapat menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang cukup memuaskan. Selain itu, di asrama, semua anak-anak sekolah mendapat pendidikan plus selain pendidikan formal di SMP. Saya mendapat pendidikan bagaimana hidup teratus, berdisiplin, dan pembinaan hidup rohani yang diberikan dua kali seminggu. Kami dilatih menjadi misdinar di gereja paroki. Kami dilatih mengatur kebersihan rumah, kamar mandi dan WC, selain membersihkan kebun asrama yang ditanami buah-buahan dan sayur-sayuran.. Pembinaan rohani diperkaya dengan bacaan Kitab Suci, buku-buku dan majalah rohani yang disediakan di oleh pembina asrama. Di asrama saya memperoleh pendidikan yang sangat berarti untuk hidup saya selanjutnya.

Lama waktu tak berlalu, saya sudah duduk di kelas III SMP, pengumuman testing masuk seminari dari Pematang Siantar, sebagai seleksi penerimaan calon-calon imam sudah beredar ke paroki-paroki dan sekolah-sekolah Katolik yang ada di Sumatera-Utara. Saya pun tertarik mengikutinya. Ketertarikan saya pada masa SD diperkaya lagi dengan image bahwa para seminaris itu orang-orang yang pintar, terutama dalam beberapa bahasa asing. Hal ini saya saksikan ketika para seminaris terdahulu, selalu seinggah di asrama kami. Saya mendengar pembicaraan dan penampilan mereka menunjukkan citra sebagai orang-orang pintar dan mempunyai intelektual yang bermutu. Saya semakin tertarik dan memutuskan mengikuti testing.

Hanya dengan motif mau menjadi seperti pastor Angel, dan seperti para seminaris yang pintar dalam ilmu dan bahasa asing. Dalam pikiranku juga timbul, sekiranya pun saya dikeluarkan dari seminari, saya mempunyai bekal yang jarang dimiliki seperti sekolah-sekolah di luar seminari pada waktu itu. Hal ini diyakinkan dengan banyaknya para mantan seminaris berhasil di Jakarta dan di luar negeri. Semua calon seminaris ditest dalam hal wawancara, pengetahuan umum, IQ dan lain sebagainya. Pada minggu-minggu seusai testing, saya selau menantikan pengumuan hasil test. Saya rasanya tidak sabar memumggunya. Saya selalu bertanya pada ayah ketika pulang dari kerja di CU di pastoran paroki, apakah pengumuan hasil test sudah datang dari Seminari. Kesabaran pun mulai hilang ditelan waktu.

Tiba-tiba pada minggu-minggu setelah penumuman lulusan SMP, pengumuman hasil test masuk Seminari pun disampaikan ayah kepada sya dengan gembira. Saya yakin hasilnya pasti berita baik. Dugaanku ternyata benar, ayah dan saya sendiri pun sangat senang, bahwa saya diterima dan akan didaftarkan ulang ke Seminari di Pematang Siantar, kota pendidikan Sumatera Utara. Sekolah di Seminari merupakan masa yang menyenangkan. Selain karena cita-cita masuk SMA Seminari Menengah terkabul, saya dapat menikmati berbagai sarana pengembangan bakat dan memperoleh ilmu dan mempelajari bahasa asing. Aku bisa menikmati berbagai macam kegiatan olah raga. Aku bisa mengembangkan bakat menulis dan berpidato. Prestasiku juga cukup bagus, karena dapat memperoleh 6 besar dari tiga kelas tiap angkatan yang ada.

Pendidikan di seminari saya jakani dalam empat tahun, karena tahun pertama merupakan tahun percobaan (probatorium), kemudian memasuki masa seperti kelas-kelas pada SMA umumnya. Pada tahun keempat, tahun terakhir, para seminaris diperkenankan menentukan pilihannya dalam memilih ordo atau kongregasi , tempat pendidikan selanjutnya menjadi imam kelak. Saya memilih Ordo Karmel. Alasan saya sederhana saja, selain karena persaudaraan dan meditasi yang berkesan bagiku, serta keramahan-keramahan para romo dan frater pastoral waktu itu, juga karena pastor paroki digembalakan oleh para pastor dari Karmelit. Motivasi saya tidak jauh berubah yaitu untuk mendapat ilmu dan belajar banyak bahasa asing serta pengembangan kepribadianku. Aku yakin seandainya saya pun dikeluarkan, aku sudah punya bekal untuk mandiri menjalani hidup sebagai umat Katolik sekaligus sebagai agian dari warga negara Indonesia. Soal panggilan hidup bagi saya, tidak saya pikirkan secara sungguh-sungguh. Yang ada dalam pikiranku adalah saya harus belajar banyak untuk mengembangkan diriku.

III. MASA NOVISIAT ( 1995 - 1997)

Dengan alasan ketertarikan persaudaraan, meditasi dan keramahan para biarawan Karmelit, saya diterima masuk novisiat Karmel pada tahun 1995. Saya pun bangga karena bisa mengalami, mendengar, mengamati banyak hal di tempat pendidikan Karmel di Jawa Timur, yang jauh dari tanah kelahiranku, Sumatera Utara. Saya bertemu dengan konfrater yang berasal dari berbagai tempat di Jawa, di sampin yang dari Sumut. Pada masa novisiat, saya mengalami pembinaan ketat dari magister. Ada banyak saat hening, berdoa, koreksi persaudaraan, rekreasi, tidak boleh keluar dari pekarangan biara selama kira-kira 3 bulan pertama. Dalam ruang yang bagaikan “penjara kudus” demikian, saya disadarkan akan hal-hal yang menarik yaitu : suasana hening dan tenang, serta persaudaraan.

Yang tidak menariknya adalah tidak boleh berkomunikasi dengan lluar biara, kekeringan dan sempat menimbulkan niat untuk keluar dari biara. Apalagi ditambah dengan magister yang gonta-ganti selama tiga kali saya alami. Saya pernah bimbingan dan mulai goncang serta ragu-ragu, rasanya hidup ini menjadi hampa bila begini terus, tidak berbuat sesuatu yang produktif. Namun suasana yang variatif dengan kuliah di STFT pada tahun kedua, mengalihkan kekeringan sedikit demi sedikit. Soal panggilan, pendirian saya juga belum begitu mendalam dan murni. Saya berada di biara untuk menjadi pastor, dengan menerima pembinaan. Titik. Belum ada refleksi yang mendarat di batinku. Rasanya semua yang saya terima di novisiat tidak mendara secara mendalam. Meskipun demikian, hasil voting dari para formator baik terhadap saya, namun dalam diri saya masih belum at home dengan pilihan di biara. Suatu pemikiran untuk keluar dari Karmel dan akan melanjutkan kuliah di Yogyakarta pernah timbul dalam diriku.

Namun niat itu, tidak dapat saya wujudkan karena menurut formator pembimbing saya, cobalah dulu bertahan, karena kamu masih kira-kira dua tahun di sini. Suatu saat kamu memahami semua pengalaman di novisiat ini. Hal itu membuat saya bertahan dan dperkenankan mengucapkan kaul perdana pada tanggal 10 Agustus 1997 dan berpindah tempat di Biara Karmel Titus Brandsma di Malang.

IV. MASA DI BIARA TITUS BRANDSMA MALANG (1997 - 2000)

Jenjang baru dalam hidup membiara saya masuki.. Kehidupan biara di biara Titus Brandsma agak berbeda dengan masa novisiat di Batu. Kebebasan dalam banyak hal lebih longgar, seperti berkomunikasi dengan umat atau luar biara lebih banyak. Kegiatan di luar biara sudah ditentukan bagi setiap frater. Demikian pula, kegiatan kuliah di STFT berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Keduanya baik biara maupun kampus, mensyaratkan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Di tengah kesibukan demikian, kadang-kadang ada saatnya saya bosan dan kadang senang. Saya berpendirian bahwa frater harus menjalankan segala acara biara dan pemenuhan tuntutan STFT secara baik. Kebosanan muncul karena saya tidak menikmati dan merefleksikan segala pengalaman atau acara rumah dan STFT. Itulah sebabnya kegelisahan selalu meliputi diriku. Mengapa saya bosan dan gelisah ? Pertanyaan ini selalu kujawab dalam buku harianku. Jawabannya selalu karena saya tidak at home dengan diriku dan segala kegelisahannya. Saya merasa tidak terlibat atau kurang mendapat perhatian tentang hal panggilanku, bahkan seperti tidak diorangkan di biara. Bila saya renungkan .... saya tidak merasa at home dan tidak terlibat dengan kehidupan di biara itu karena afeksi dasar saya belum terpenuhi dan tergarap.Afeksi itu adalah perasaan takut ditolak, tidak diperhitungkan, merasa tidak diorangkan. Saya kadang berpikir... semuanya akan berlalu begitu saja. Itulah jalan penghiburan bagi saya untuk mengobati kegelisahan dan ketidak-at-home-an saya. Meskipun tidak athome dan masih gelisah selama kurang lebih tiga tahun, saya dapat menyelesaikan dan memenuhi tuntutan rumah dan STFT. Hal ini terbukti dari pengujian waktu dan penilaian para formator. Tentu semuanya karena niat saya mau menjadi pastor masih ada dan patut diperhitungkan. Akhirnya, saya diperkenankan memasuki masa tahun berpastoral.

V. MASA TAHUN BERPASTORAL (2000 - 2001)

Bekal dari STFT menjadi bekal untuk saya dalam melakukan kegiatan pastoral sebagai bentuk kuliah kerja nyata. Meskipun ada bekal dari STFT, kekwatiran-kekwatiran muncul dalam diriku. Apakah saya sanggup dan pantas menjadi pelaksana tugas pastoral ? Apakah saya akan diterima oleh umat nantinya ? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul akibat dari afeksi dasar saya yang masih belum tergarap dengan baik. Takut tidak diterima dan takut dipermalukan itulah yang menjadi dasar kekwatiranku. Meskipun persoalan tersebut meliputi diriku, masa berpastoral tetap saya jalani dengan berangkat ke sebuah paroki, Perdagangan di Sumut. Pada bulan-bulan awal, saya hanya bisa mengamati dan mempelajari kegiatan-kegiatan pastoral yang sedang berlangsung di paroki tersebut.Namun saya tidak selamanya hanya menjadi pengamat. Dengan berani saya meminta sebuah stasi semacam proyek khusus untuk berpastoral, di samping harus melakukan pelayanan sabda juga ke stasi-stasi maupun stasi paroki pusat. Di stasi khusus yang diberikan pastor paroki menjadi semacam proyek, saya berinisiatif mengembangkan kehidupan rohani umat baik ASMIKA, MUDIKA dan umat secara keseluruhan. Saya mengajukan program yang saya buat semampu saya. Kehidupan masa pastoral pun dapat saya laksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati STFT dengan pastor paroki. Di tengah rutinitas kegiatan berpastoral, saya menyediakan waktu untuk berrefleksi tentang segala hal yang saya lakukan. Khususnya segala hal yang berkaitan dengan panggilan hidup yang sedang saya jalani. Saya merenung seusai perayaan Ekaristi atau sesudah ibadat bersama dengan anggota komunitas pastoran paroki. Hasil refleksi menunjukkan bahwa kekwatiran saya sebelum terjun berpastoral selama ini terlalu cepat ditakutkan, padahal tidak demikian. Semua yang ditugaskan, dapat saya pertanggungjawabkan. Memang ada tantangan dan hambatan baik berasal dari dalam diri maupun dari luar diri saya yaitu afeksi dasar dan ketidakcocokan dengan esebagian umat.. Menyadari bahwa kekwatiran dan kegelisahan (baca : afeksi dasar), saya seringkali merasa malu dan takut (demam panggung) setiap kali sebelum tampil membawakan kothbah maupun memimpin retret. Ketakutan-ketakutan ini membuat saya gelisah. Meskipun takut dan gelisah, tetapi saya tidak berhenti di situ. Saya tetap melaksanakan tugas dan peran yang harus saya penuhi. Pada akhirnya saya merasa lega karena dapat melaksanakan dengan cukup baik menurut saya. Akhirnya, seluruh tuntutan masa berpastoral dapat saya penuhi sesuai dengan peraturan yang ada. Hal yang membuat saya bertahan adlalah adanya niat untuk menjadi pastor di dalam diri saya. Meskipun motivasinya tidak saya garap secara mendalam apakah sudah murni (ideal) atau tidak. Mungkin itulah yang membuat saya tetap mempunyai kegelisahan dan tidak at home dengan diri saya. Niat menjadi pastor menggerakkan saya untuk melanjutkan pendidikan dan mempersiapkan diri saya serta kuliah selanjutnya (program magister di STFT).

VI. MASA PERSIAPAN KAUL KEKAL (2001 - SEKARANG)

 Masa tahun berpastoral akhirnya selesai dan dinyatakan lulus. Saya senang karena peluang besar dari niat untuk menjadi pastor dalam diri saya mungkin akan terkabulkan. Pada akhir bulan Juni menjelang awal bulan Juli, saya harus pulang ke rumah pendidikan di Malang. Saya bersama konfrater seangkatan berpastoral, berangkat menuju rumah pendidikan baru, yaitu rumah pendidikan di Talang 5. Saya mempunyai kekwatiran pula dengan tempat baru dan jenjang baru. Namun di tempat baru, tempat masa persiapan kaul kekal, saya menemukan suasana relaks, santai, dewasa, bertanggung jawab ditambah lagi dengan prior baru yang baru pulang dari Pilipina. Persiapan kaul kekal diawali dengan program retret tahunan yang wajib bagi setiap kaum religius. Saya bersama konfrater post-pastoral digabungkan dengan para konfrater pra-pastoral untuk mengadakan retret di Tumpang, Ngadireso. Retret yang dibimbing oleh prior baru Talang 5, sungguh berkesan dan membuka wawasan baru baik bagi frater post-pastoral maupun bagi pra-pastoral. Hal ini terungkap dari kesan dan pesan para frater seusai retret. Retret kali ini sungguh menyadarkan semua frater akan pentingnya penggarapan dan refleksi tentang pengaruh pengalaman hidup masa lampau dalam kaitannya dengan perkembangan panggilan hidup masa sekarang. Bagi saya pribadi, retret tersebut merupakan retret yang paling menyentuh dan mendarat dalam diri saya. Tema retret tersebut adalah mengenai refleksi pengalaman masa lampau yang mempunyai kaitan dengan hidup panggila pada masa kini. Di sinilah, mata hati dan pikiranku melihat mengapa kelemahan yaitu penakut dan peminder masih tetap bercokol dalam diri saya. Kelemahan saya tersebut menunjukkan adanya afeksi dasar yang seringkali sadar atau tidak membuat saya takut dan minder.. Hal inilah yang menuntut penggarapan secara sehat. Menurut romo pembimbing pada waktu itu, afeksi dasar terjadi karena adanya luka batin, cacat pusaka atau perbudakan masa lampau dalam diri setiap orang. Afeksi dasar ini bersifat instinctive unconscious.Sekarang tujuan yang mau dicapai adalah penyadran akan afeksi dasar yang terungkap dalam kebutuhan-kebutuhan egoistis. Dengan kata lain setiap orang harus melakukan pembebasan dari masa perbudakan masa lampau. Tema retret tersebut, hingga sekarang masih relevan dan bahan refleksi untuk saya. Refleksi saya menunjukkan bahwa afeksi dasar saya adalah takut ditolak, takut dipermalukan dan takut diejek. Penemuan afeksi dasar ini berlangsung lama, berawal dari retret awla persiapan kaul kekal hingga sekarang semakin jelas. S

ingkatnya, retret awal tersebut menjadi titik berangkat menuju perkembangan yang cepat menuju persiapan kaul kekal dengan rekoleksi pada bulan-bulan selanjutnya. Program rekoleksi pada bulan-bulan berikutnya, merupakan lanjutan dari tema retret awal tersebut. Rekoleksi bulan tersebut membuat saya semakin mengerti dan mengenal diri saya. Hal. Ini didukung dengan sangat relevannya tema-tema dalam rekoleksi bulanan selanjutnya.Tema-tema tersebut berkisar tentang integritas diri personal yaitu tentang biopsikososiospiritual. Tema-tema tersebut adalah : social self dan keluarga, kemurnian dan seksualitas, personal self dan woundedness, ketaatan, transcendent self, persahabatan dan kemiskinan. Rekoleksi bulanan tersebut sangat menyentuh dan menyenangkan karena metodenya bersifat aktif-partisipatif dan dengan tempat rekoleksi yang bervariasi. pula.

Dengan persiapan kaul kekal tersebut, hingga kini, saya semakin mengenal diriku. Aku menyadari adanya dua sisi dalam diriku, yaitu sisi gelap dan terang. Sisi gelap saya adalah takut ditolak, dan kehidupan seksual yang menggebu-gebu. Sisi terangnya adalah segala yang saya miliki yang kelak bisa saya sumbangkan demi pembangunan Gereja dan penyelamatan dunia. Motivasi awal untuk menjadi imam, perlu direfleksikan dan dipikir ulang. Akhirnya saya melihat bahwa motivasi saya pelan-pelan berubah menjadi : mau menjadi imam bukan untuk pemenuhan egoistis saya tetapi mau hidup mengikuti Kristus secara khusus dan mengambil bagian dalam visi dan misi Kristus yaitu membangun Kerajaan Allah, melayani Gereja dan demi penyelamatan dunia.

Dengan persiapan kaul kekal, saya semakin yakin dan tidak menyesal masuk menjadi calon imam yang hidup secara Karmelit. Alasannya, semangat hidup Karmelit sangat tepat karena semangat hidup kontemplatifnya sangat relevan dan penting karena akan membuahkan madu-madu rohani kehidupan yang bermutu di samping membuahkan pelayanan pastoral umat yang bermutu dan mendalam. Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa Tuhan Yesus Kristu menjaga dan memelihara beinh panggilan yang ada dalam diriku. Satu yang belum saya dapatkan adalah pengalaman akan Allah yang sungguh-sungguh mengubah dan menggerakkan dinamika hidup panggilanku untuk seumur hidup. Tuhan berilah aku pengalaman akan Dikau. Amin.

.........akhirnya saya mengundurkan diri juga dari frater karmelit......

akan saya ceritakan lagi....

Create a free website at Webs.com