IDENTITAS
Nama hadiah orang tua : MITARDJUDDIN
Nama Lengkap : MITARDJUDDIN AS (Abdullah – Said)
Nama Ayah : Abdullah
Nama Kakek (dari ayah) : Said
Nama Ibu : Fatimah
Tgl Lahir : 10 Januari 1916
Tempat Lahir : Kp. Pinang Koto Tangah.
: Tilatang Kamang-B.Tinggi
Menikah : Talu, 22 Maret 1945
Istri : ROSMINIDAR MD
PENDIDIKAN
1. SR (Sekolah Rakyat) 3 thn, berijazah/sertifikat 1927, di Benteng Lama, Bunian
2.
3. Subulul Falah (Sekolah Agama) Tk. Ibtidaiyah, 1930~1933, di Bukareh Kt Tangah Tilatang Kamang.
4. Sumatera Thawalib Parabek, 1934 ~ 1938
5. Kursus dan Pelatihan :
a. Latihan SEI NEN DAN di Pintu Kebun Bukittinggi (1945)
b. Kursus Kader Politik di Bukittinggi, Residen Mr.Mohd Rasyid (1947)
c. Kursus B.Inggris di Ruang Bahagia B.Tinggi + Japenste (1950)
d. Mubaligh Refreshing Course se Sumatera Barat, di
e. Penataran MDI (Majelis Dakwah Islamiyah) se-SUMBAR, di Padang (1981)
f. Penataran KB (Keluarga Berencana) LKAAM SUMBAR, di Padang (1983)
g. Penataran Perikanan, di Sukamenanti – Pasaman (1985)
h. Karakterdes Golkar se Kec. Talamau, di Talu – Pasaman (1986)
i. Penataran P4 Pola 25 Jam, di Talu – Pasaman (1986)
j. Kehumasan & Jurnalistik se Kab. Pasaman, di Lb Sikaping- Pasaman (1987)
PENGALAMAN PEKERJAAN
1940~1945 Guru Agama Islam pada TPM (Taman Perguruan Muslim) Bukareh, Tilkam B.Tinggi
1945 Sekretaris PRI (Pemuda Republik
1947~1949 Ketua Masyumi Kewedanaan Pasaman, di Talu
1947 Ketua Penerangan Dewan Ekonomi Pasaman, di Talu (era Bupati Darwis Taram)
1946~1948 Diangkat menjadi PNS PPSB (Pejabar Penerangan SumBar) Kewedanaan Pasaman, di Talu. Gol. III/B (Klerk)
1950 Mempelopori terbentuknya jawatan Penerangan Kab. Pasaman di Lb. Sikaping, Menyusun Personalia (diketuai oleh Kep. Penerang Kab. Pasaman Sdr. Muchtar Thaib/Angg. Penad)
1950 Diangkat Devenitif sbg Karyawan Penerangan Kab. Pasaman di. Lb. SIkaping (setelah masa pemulihan Kedaulatan RI)
1950~1958 Dipindahkan ke Japenste di B. Tinggi, terakhir dengan pangkat Pengatur Karangan Gol. IV/B
1959~1960 Bergerilya mengikuti Sender Radio Revolusioner Rep. Indonesia (akibat pergolakan PRRI)
1960~1962 Selesai Pergolakan Daerah, kembali ke masyarakat sebagai menjalani hukuman kunci mulut di zaman jayanya PKI.
Membentuk Yayasan Pendidikan Islam Bukit Bunian bersama kawan-kawan seperjuangan yg kembali ke masyarakat dipelopori oleh sdr. Drs Ruslan Abd Gani (alumni IAIN Jogya). Duduk dalam Ketua Schap bersama sdr. M.Dt. Tunaro (alm) dan Naoran Nurdin St Penghulu (alm). Sekolah yg didirikan waktu PGA Swasta 3 Thn, yg sekarang sudah menjadi Madrasyah Tsanawiyah Negeri Bukareh Tilatang Kamang.
1946~1948 Diangkat menjadi PNS PPSB (Pejabar Penerangan SumBar) Kewedanaan Pasaman, di Talu. Gol. III/B (Klerk)
1965 Menerima Pembayaran Onderstan (Pensiun Muda) terhitung untuk 1960 ~ 1965
1967 Kembali ke Talu bersama keluarga (anak dan istri) dan menetap di Talu sampai sekarang. Aktif sebagai guru wirid pengajian pada beberapa Mushalla dan Mesjid di lingkungan Talu-Sinurut. (1967~2000).
1967 Jadi Guru (honorer) pada Madraysah Tsanawiyah Sei. Jernih, Talu
1969 Devenitif Pensiun dari Japenste Bukittinggi (Deppen Sekarang)
1970 Diangkat menjadi Penghulu dalam suku Piliang Sani di Kenagarian Kt. Tangah Tilatang dengan gelar Dt. Radjo Nan Sati menggantikan mamak yang bergelar Dt. Radjo Nan Sati yang meninggal (menurut tata adat Tilatang Mati Batungkek Budi
1971 Terpilih sbg Ketua Umum Partai Persatuan Muslim Indonesia (Parmusi) anak cabang Talamau di Talu. Pada tahun ini juga kembali mengundurkan diri baik dari Jabatan Pengurus maupun sbg anggota partai, disebabkan suhu politik pada waktu itu tidak kondusif
1978~1980 Terpilih sbg Wk. Ketua BP4 (Badan Penyelesaian Perselisihan dan Perceraian) pada Kantor KUA Kecamatan Talamau, di Talu
1980 Diangkat sebagai Hakim Anggota pada Pengadilan Agama Kec. Talamau di Talu
1981~1985 Terpilih sbg Ketua II MDI (Majelis Dakwah Islamiyah) ranting Kec. Talamau di Talu
1985~2005 Terpilih sbg Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Merdeka Talu selama 5 Periode Kepengurusan. Pada pertengahan periode terakhir mengundurkan diri dari Jabatan Ketua Umum karena sudah lanjut usia, pada usia 88 tahun.
PENGALAMAN JURNALISTIK
1951~1958 Staf Redaksi Majalah Dinas Japenste Bukittinggi, “DUNIA SEMINGGU”
1957~1958 Pembantu tetap Majalah Islam Populer “HIKMAH” Jakarta untuk Sumatera Barat Tengah dibekali Kartu Pers dengan Pemimpin Umum Muh. Natsir (alm)
1957 Untuk pertama kalinya mengungkapkan Sejarah Perjuangan Siti Manggopoh dengan surat tugas dari Kepala Japenste (Decha alm). Siti Manggopoh adalah Pahlawan Wanita dalam perang Manggopoh menentang Belanda, seiring dengan perang Kamang th 1908. Bahan-bahan diperoleh dari kepala Negeri Lubuk Basung dan dimuat pada surat kabar Harian HALUAN, Majalah HIKMAH Jakarta dan majalah Dinas Japenste secara bersambung beberapa nomor.
1957 (pada th yg sama) Penulis pada Majalah Umum “NASIONAL” Yogyakarta. Dalam dunia jurnalistik menggunakan nama EMDAS (MitarDjuddin A.S)
1959~1960 Komentator pada Radio Revolusioner Republik Indonesia dalam pergolakan daeah
1981~1992 Reporter KMD (Koran Masuk Desa) Harian “HALUAN” untuk daerah Pasaman Wilayah Kec. Talamau di Talu dengan inisial DARJON’s (Datuak Radjo Nan Sati)
1982~1988 Reporter KMD Harian “SINGGALANG” dengan inisial MDS (Mitardjudin Dt. R Nan Sati)
PIAGAM YANG DIPEROLEH
1983 Piagam Penataran KB untuk LKAAM Sumatera Barat di Padang
1985 Piagam Penataran Perikanan di Sukamenanti, Pasaman
198... Piagam Kepanitiaan Rakerda Pemda se-Sumatera Barat di Talu, oleh Bupati Pasaman
198... Piagam Kepanitiaan BATAGAK GADANG Tuanku Basa XIII di Talu
1986 Piagam Penataran P4 Pola Pendukung 25 Jam, di Talu
1987 Piagam Penataran Kehumasan dan Jurnalistik di Lb. Sikaping, Pasaman
Kebiasaan orang tua dahulu, bila lahir seorang anak maka untuk memberi mencarikan namanya biasanya dimintakan kepada orang-orang Alim (Ulama). Pada waktu itu orang-orang dari Kt Tangah banyak yang pergi mengaji/wirid ke Bukittinggi kepada alm. Syekh M. Jamil Jambek.
Oleh nenek bernama Pasah yang selalu pergi mengaji ke Surau alm. Jamil Jambek dimintakanlah kepada Inyiak Jambek yang akan jadi nama cucunya. Kebetulan pada waktu ada 3 orang yg seangkatan lahir, masing-masing anak niniek dan anak mamak, keduanya sama laki-laki. Jadi sekaligus ketiga bayi tersebut dimintakan namanya kepada alm. Inyiak Jambek.
Menurut ceritanya, untuk kami nama pertama yang diberikan adalah DAHLAN. Sedangkan kedua lainnya diberi nama masing-masing MARASUDDIN dan MAYUDDIN. Dengan rasa gembira si nenek membawa nama-nama itu pulang untuk disampaikan kepada masing-masing ibu.
Dengan rasa bangga nenek menyampaikan nama pemberian alm. Inyiek Jambek untuk cucunya yaitu DAHLAN. Namun si ibu (Fatimah) tidak ingin anaknya bernama DAHLAN karena nama tsb sudah ada di kampung itu.
“Apa yg disukai oleh ibunya nama anaknya itu”, kata Inyiek Jambek. Jawab nenek,”yang pakai DIN jugalah ujung namanya”. Oleh alm. Inyiek Jambek diganti dengan MITARDJUDDIN dan, “nama DAHLAN biarlah saya berikan kepada anak saya” kata Inyiek yg akhirnya anaknya tsb dikenal dengan KOLONEL DAHLAN JAMBEK (alm).
Demikianlah kisah singkat tentang nama MITARDJUDDIN menurut yg diceritakan kedua orang tua (Abdullah dan Fatimah)
Kembali ke atas Kembali ke Halaman Utama
Create a free website at Webs.com