|
Anna Politkovskaya oleh: Magid
''Kadang berdiri diantara maut menjadi pilihan hidup'', tulisan ini saya buat sebagai persembahan kepada Anna Politkovkaya.
Di sebuah apartemen sore itu tampak hening. Tak ada saksi mata saat pembunuhan itu berlangsung. Ketika seonggok tubuh perempuan berkacamata terjungkang di lantai dengan darah bercucuran dimana-mana. Tiga lubang peluru menganga di dada dan kepalanya. Pistol Makarov berkaliber 9 milimeter ditengarai sebagai 'tanda tangan' sang pembunuh. Seorang tetangga yang menemukan mayat itu, mengenalinya sebagai Anna Pelitkovkaya, 48 ibu dari dua orang anak. Namun dunia internasional mengenalnya sebagai seorang wartawan paling kritis di Rusia. Setidaknya, dalam perjalanan karirnya sebagai wartawan dan aktivis HAM, Anna Politkovskaya menerima 10 penghargaan dari Amnesty Internasional, Reporter Without Borders, dan Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa. Anna Politkovskaya lahir di New York, As pada 1958 dari seorang keluarga Diplomat Rusia untuk PBB. Ia merupakan alumni Universitas Negeri di Moskow jurusan Jurnalistik. Karirnya sebagai seorang wartawan dimulai dari koran Izvestiya, ketika itu Rusia sedang dilanda demam Perestroika, reformasi yang digembar-gemborkan Mikhail Gorbachev. Menjelang periode 1999, Anna Politkovskaya bergabung dengan Novaya Gazeta. DI Koran ini, Anna berubah menjadi harimau yang sangat ditakuti. Ia bukan saja menjadi seorang wartawan yang kritis, tapi juga sebagai analis yang mencatat perang kotor antara Rusia dan Grilyawan Chechnya. Dalam sebuah catatan, Anna Politkovskaya bahkan sempat mendokumentasikan perlakuan kejam militer Rusia dan pasukan yang loyal kepada Kadyrov terhadap penduduk checnya. Dia menulis tentang pembunuhan massal, penculikan, hingga serdadu Rusia yang menjual tulang belulang gerilyawan Chechnya kepada keluarganya untuk dimakamkan secara Islam. Tulisan-tulisan itulah yang mengantarkannya sebagai kritikus perang tervokal. AKibatnya, ancaman demi ancaman datang menghampiri. Pada periode tahun 2000, Anna sempat di tahan dan dipukuli, serta menjadi subjek eksekusi pura-pura oleh militer. Pada 2001, Ia sempat kabur ke Wina Austria, setelah menerima ancaman pembunuhan lewat email dari seseorang yang mengaku perwira polisi yang ingin membalas dendam karena tulisan tentang kasus pembunuhan warga sipil. Bahkan seorang sahabatnya di London juga sempat membujuknya untuk meninggalkan Rusia. Namun ia menolak, dan bersiteguh tidak akan meninggalkan negeri asalnya itu. Dalam bukunya, yang diterbitkan tepat 3 tahun sebelum tragedi pembunuhan itu berlangsung, Anna sempat menulis: ''Catatan ditulis untuk masa depan. Ada kesaksian korban yang takberdosa dalam perang Checen terbaru. Itulah sebabnya, saya mencatat semua detail semampu saya,'' Buku yang diberi judul ' A Dirty War; itu terbit pada 2003 lalu. Disana Ia mendokumentasikan kekejaman perang Checen antara pasukan Rusia dengan Grilyawan Muslim di Chechnya. Mungkin juga Sepak terjangnya yang cukup vokal dalam mengkritisi segala bentuk kekejaman dan pelanggaran HAM membuatnya harus di bungkam. Hal ini pula yang mengingatkan saya kepada seorang aktivis HAM dinegara kita yang juga dibungkam dengan cara yang sama. Syair Untuk Politkovskaya Seseorang akan berkata: Jangan Bicara... Hanya saja, di depan, di kegelapan itu selalu saja kita lihat kekejaman Dijalan yang tak bercahaya itu, terdengar teriakan yang lirih,: 'dimana kebebasan?'
|
Gelap
oleh: Magid
Tiap kegelapan mengandung ketegangan. Di sudut Batam yang kusut, ketika matahari meninggalkan kerumunan tangis dan tawa yang ada. Kegelapan selalu muncul sebagai sahabat. Ketika Kegelapan itu muncul, sebagian manusia berubah wajah. Mereka menanggalkan topeng religiusnya, mereka juga melepaskan semua jubah sosialnya. Dengan wujud asli, entah sebagai 'setan benalu mana?' saya pun tak begitu paham.
Sebagian menjadi sosok pelacur, penjual narkoba, maling, rampok, yang mencoba mengadu keberuntungan diantara kerasnya sejarah yang terus bergulir. Ketika senja sudah datang, pelacur itu memulai aktivitasnya dengan bersolek di depan cermin. Dengan sedikit rintihan mungkin, karna ia sempat membayangkan betapa tidak bernilainya hidup yang harus melayani 'Syahwat' para hidung belang. Sementara, di sudut lain, penjual narkoba sudah mulai bergegas memadati pojok-pojok tempat hiburan. Berharap ada kelebihan rejeki dari rintihan para pecandu. Semua berawal dari kegelapan.
Mereka lupa, bahwa kegelapan itu sendiri adalah sebuah pertanda, ketika pintu sudah didepan mata, menjadi sebuah mukjizat bagi mereka yang bersujud, bagi mereka yang menerima kegelapan menjadi hanya sekedar situasi yang berawal dari ketiadaan cahaya, yang membawanya mengetuk pintu dah mengharapkan keridoan dariNYA. Di Gurun pasir yang terjal itu, tanpa penerangan sedikitpun, pernah menjadi saksi perjalanan Nuh saat mencoba naik ke puncak Tursina.
Seperti sejarah, kegelapan adalah saksi dari tonggak sejarah manusia. Kegelapan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Perjalanan yang kadang kala letih didera cambukan 'nasib' yang terus bergerak layaknya ombak yang menghempas bebatuan cadas. Hanya saja tak ada pilihan untuk menghentikan perjalanan itu. Roda yang berputar sangat deras, dan manusia takkan mampu mengentikan hal itu, seperti Musa yang tak pernah melihat wajah Tuhan di Pucuk Tursina. Ia terus berusaha keras.
Saat kegelapan datang, ketika sebagian besar mata sudah harus diistirahatkan, ketika itu sebagian manusia masih harus berjibaku dengan perjuangan terhadap nasib.
Tapi satu hal yang mulai saya pahami saat ini, sebagian besar manusia modern identik dengan manusia yang takut akan kegelapan? manusia yang paranoid dengan ketiadaan sumber penerangan. Ketika malam menjelang, sekelebat itu juga lampu mulai dijadikan gantungan pengganti cahaya matahari. Sumber cahaya sepertinya menjadi barang yang sangat diperlukan manusia modern. Mereka juga akan merasa sangat hampa tanpa cahaya. Merasa sumpek saat senja tiba.
Sampai kapan manusia harus tergantung dengan 'terang'? Padahal gelap adalah sumber inspirasi. Gelap juga bisa diartikan sebagai 'situasi yang takzim' ketengan yang tak ternilai. 'Gelap' lah yang mendekatkan manusia dengan Tuhannya. Ketika menerima sabda pertama, Muhammad duduk diantara kegelapan. Dia menyendiri di sebuah Gua yang jauh dari pusat keramaian Mekkah. Disana, ketika ia benar-benar takzim menerima 'gelap' seketika sabda tuhan terdengar, perintah yang saat ini dijalankan manusia.
Gelap hanya sebuah tanda, atau mungkin juga 'simbol' dimana manusia kadang-kadang mengartikannya dengan kekuatan bahasanya sendiri. Tapi saya yakin, tuhan memiliki pandangan yang berbeda. Tuhan menciptakan gelap diantara terang, dan yang jaraknya hampir separuh perputaran bumi, tentu memiliki makna tersendiri. ''Itu merupakan sebuah tanda atau mungkin juga simbol,'' Tulis Julia Kristieva pada 1966. Dan bagi Saya, gelap adalah sebuah kondisi yang menciptakan cukup banyak kontradiksi, dari urusan Syahwat hingga Sholawat.

Agama ilegal
Oleh: Magid
Karikatur itu mencemooh Nabi. Ilmu itu tak percaya bahwa alam semesta diciptakan seperti dalam Alkitab. Puisi Amir Hamzah mengatakan tuhan itu 'ganas' dan 'cemburu' serta sajak Rendra menggambarkan Yesus merangkul seorang pelacur yang mengidap raja singa. Beberapa abad sebelumnya: Nietze berpendapat tuhan telah mati, atau bahkan Karl Marx berkesimpulan agama itu mirip 'candu' yang memabukkan....
Bisakah agama tak hidup dalam persepsi seperti itu? persepsi yang dibuat manusia karna bermacam pengalaman yang menjadikan semacam impuls buat berpendapat miring? Tapi itulah kenyataan, yang dibuat dan disimpulkan oleh manusia yang mengenal agama dan menyimpulkan segala sesuatu yang mungkin juga 'keliru' sebab dipengaruhi beberapa kondisi keadaan yang ada.
Agama sering kali menghentikan pengembaraan digurun dan gua, dan membuat dirinya mampu membuka cadar di SInai yang menutupi sosok tuhan dimata Musa. Yang membuat manusia tak bisa berpaling dan mencoba mengetuk pintu di negeri 'asing' seperti dalam puisi Khairil Anwar. Meski dalam kodrat kita 'tak bisa berpaling, namun mata kita dibutakan oleh silaunya dunia, juga oleh bahasa yang kadang kala tak dapat menterjemahkan sabda tuhan yang turun di Gua HiraNYA. Begitu juga ketika manusia sudah mulai mencoba menyaingi kekuatan Tuhan, melakukan justifikasi terhadap sesama pemeluk keyakinan jika terjadi sesuatu hal, hanya dengan berbekal pemahaman akan hukum yang dibuatnya sendiri.
Sebab itulah, agaknya dewasa ini, cukup banyak kelompok yang merasa tertekan. Cap sebagai yang 'sesat' tidak diberikan tuhan, tapi oleh manusia sendiri. Semua hanya berpaku pada aturan yang dibuat manusia. Sungguh tragis...apakah tuhan benar-benar mati? hingga perannya digantikan manusia? yang jelas, pada saat dipucuk tursina Musa tak sekalipun berhasil melihat sosok wajah tuhan yang dirindukannya itu.
Sebuah keyakinan yang salah, ketika agama dan urusan negara atau bahkan aturan yang ada didalamnya, mulai bercampur aduk. Ketika manusia sudah melangkahi kodratnya sebagai mahluk ciptaan, ketika itu agama akan menjadi rancuh. Kenyataan ini akan semakin sempit, ketika media-media sudah memberikan statemen dan sebutan yang juga salah. Sehingga meracuni semua pemikiran umat dengan adopsi idiom yang juga salah.
Baru-baru ini, sebuah berita menyebutkan '600 TKI yang melakukan Haji Ilegal ditangkap pemerintah Arab Saudi'. Sepertinya kita harus kembali berkaca,sebelum melakukan justifikasi terhadap persoalan ini. Haji Ilegal, Agama Ilegal atau mungkin juga Sholat Ilegal, bahkan jika ada 'Kebaktian Ilegal'. Haji adalah sebuah ritual yang menurut Islam sebagai pelengkap syarat menjadi Islam yang terakhir. Namun hal ini dianggap 'ilegal' ketika tidak mengikuti aturan pemerintah. Pemakaian bahasa itu sepertinya harus diubah. Yang ilegal adalah TKI nya bukan ritual agamanya,sehingga dengan demikian tidak ada satu manusiapun yang boleh menghalangi jalannya ibadah mereka.
Di daerah Jawa Barat, juga pernah diberitakan, tentang penyerangan warga terhadap jemaat kristiani yang beribadah di Gedung Serbaguna milik suatau Yayasan. Jemaat itu dianggap melakukan 'Ibadat yang Ilegal' dan tidak memenuhi aturan yang ada. Hal ini lantaran ijin gedung yang berbeda peruntukan, sehingga membuat 'Ibadahnya' pun dianggap ilegal.
Cukup aneh bukan, ketika manusia menyebut sebuah ritual agama yang tidak mengikuti aturan yang dibuat pemerintah maka itu akan dikatakan sebagai sesuatu yang ilegal. Mungkin benar kata Sartre 'Manusia dihukum untuk merdeka'. Ya, 'kemerdekaan' berfikir itu merupakan suatu hukuman yang tak nyata, namun cukup membuat manusia tersesat dalam perjalanan ke Gua Hira atau gurun yang dijanjikanNYA. Karna 'cadar' kebebasan kadang kala menutup pandang manusia tentang apa arti tuhan dan agama yang sesungguhnya, seperti Musa yang gagal melihat wajah tuhan di pucuk Tursina.
Sepertinya kita harus membatasi, antara urusan agama dan pemerintah. Antara tuhan dan manusia, seperti sabda 'Hamblum Minnallah dan Hamblum minannas' yang kadang terlihat cukup tipis batasannya. Mungkinkah tuhan membedakan manusia yang legal dan ilegal? ibadah yang legal dan ilegal? Apakah tuhan juga melihat Haji manusia itu dari paspornya yang sah? atau Kebaktian hanya dinilai dari ijin gedungnya yang legal atau tidak? ah, entahlah, itulah anggapan manusia saat ini. Rancuh, campur aduk, tersesat dalam adab kebebasan berfikir.
Mungkin manusia belum melihat Gurun yang janjikan, sehingga menghadap lagit dengan kemampuan terbatas dan mengharapkan melihat cadar lagit ketujuh dimana mereka bisa bertemu dengan tuhan. Atau mungkin manusia hanya akan terombang-ambing dalam kebimbangan, dalam keyakinan yang salah, seperti buih yang terus terseret ombak dilautNYA dan tersesat didalamnya. Dan seperti itulah, bahasa manusia yang tak pernah bisa menterjemahkan semua sabdanya, karnanya mungkin juga benar 'Manusia dihukum untuk merdeka'.
Oleh: Magid
Jika memikirkan keadaan bangsa kita, Indonesia, selalu terbesit dibenak saya tentang Soto'. Yah, salah satu makanan yang bener-bener menggambarkan keadaan Bangsa ini. Jika pada 28 Oktober 1928 kita mengenal adanya sumpah pemuda, dimana kelompok dari berbagai daerah sepakat menginginkan 'Satu Bangsa' yakni Indonesia, kini saya ingin menggugat, kenapa tidak ada satu 'Soto' Indonesia? Keduanya mempunyai hubungan, yakni berasal dari sebuah 'perbedaan.'
Pemuda yang telah 'bersumpah' pada 28 Oktober 1928 berasal dari berbagai daerah yang notabene memiliki bahasa yang berbeda. Pada saat itu, di ikrarkan untuk menyatukan 'bahasa.'Satu Bahasa, Bahasa Indonesia'' Kalau tak salah kutipan kalimatnya seperti itu. Yang menandakan, bahwa ada satu hal yang mendasar disini, yakni berawal dari Perbedaan. Begitu juga Soto, jika dibedakan mungkin jumlahnya mencapai angka puluhan bahkan ratusan.
Perbedaan tidak hanya pada ciri khas masing-masing Soto, yang konon katanya menggambarkan keadaan daerah asal makanan itu sendiri. Jika anda sudi berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia, maka akan banyak anda jumpai 'soto-soto' yang benar-benar 'Bhineka' terutama pada 'rasa-nya.'
Di Pulau Jawa kita mengenal Soto Bandung, Soto Kudus, Soto Pekalongan, Soto Madura, Soto Surabaya, SOto Malang, di Makasar ada Soto Makasar, di Medan ada Soto Medan, Ada Soto Padang,dll. Memang, agaknya cukup sulit untuk menyatukan soto-soto di Indonesia. Bagaimanapun juga, masing-masing punya karakter sendiri yang 'angkuh.' Mungkin inilah yang selalu mengingatkan saya tentang soto, jika berbicara soal persatuan Indonesia.
Seperti hasrat lidah kita untuk menerima soto-soto, agaknya cukup sulit untuk menerima sebuah persatuan. Seperti halnya, ketika orang dari Madura yang sudah terbiasa dengan 'rasa' soto Madura, hampir di pastikan 'tidak semua' dapat menerima rasa Soto Medan, begitu juga sebaliknya. ah...entahlah, perbedaan selalu menimbulkan jarak. Meski hal itu tidak diungkapkan secara tersurat. Apa mungkin harus kita buat Sumpah Soto Indonesia? agaknya cukup sulit menyamakan para 'Soto' tersebut.
Suatu ketika, ditengah lelahnya jadwal liputan kriminal di Batam, saya kembali terlintas masalah soto. Hal itu juga yang mengantarkan saya ke sebuah warung yang menyediakan hidangan khas Soto Surabaya. Yah...saya cukup akrab dengan bahasa yang dipakai penjual makanan itu, logatnya 'Jawa Suroboyan.' Seolah saya berada di Surabaya, meski saya sadar sekarang sedang di Batam. Entah dengan keadaan seperti itu, saya merasa pada saat mulai menimati 'Soto Surabaya' cukup pas dengan selera lidah, lain halnya ketika merasakan 'Soto Medan atau Soto Padang.' Ah entahlah, apa mungkin ini sugesti yang bisa saja muncul dari sebuah kondisi situasi yang ada. Apa mungkin penolakan itu, timbul karena angkuhnya lidah kita untuk menerima soto dari daerah lain? tidak juga, toh saya menganggap diri saya tidak primordial, karna mungkin lahir dan besar dikeluarga yang berasal dari dua bangsa dan budaya yang berbeda, meski masih satu RAS. Kecuali soal makanan, memang lidah cukup sulit diatur, begitu juga 'Soto.'
Tapi agaknya sampai sekarang cukup sulit untuk mencari pemersatu 'Soto-Soto itu' seperti sulitnya mencari titik temu kesatuan bangsa ini. Mungkin hal ini dipicu oleh sebuah keadaan, dimana masyarakat tidak sempat legi berfikir tentang hal itu. Sebab, didesak pemikiran-pemikiran lain yang mungkin lebih 'dianggap' penting. Atau bisa juga belum ada moment yang membuat 'persatuan' itu ada. Kini kata 'Persatuan' hanya menjadi sebuah simbol, yang dieluh-eluhkan dengan upacara resmi, yang diperingati tiap tahun. TOh dalam nama yang diagungkan itu masih dilihat cukup jelas bahwa ada kesamaran disana, ada makna yang lari dari maksud kata yang semestinya, ada bopeng yang sulit kita tutupi.
Hal itu tentu berbeda dengan keadaan, ketika ada moment tertentu, sehingga rasa 'Persatuan' menjadi cukup dibutuhkan. Ketika semangat kedaerahan tidak lagi diperlukan, tapi lebih mengedepankan kesamaan nasib. Seperti yang terjadi diluar negeri. Di Singapore contohnya, jika anda pernah datang ke Restoran Indonesia yang ada di Negeri itu, maka akan anda temui menu 'Soto Indonesia' bukan soto Medan, Surabaya, Makasar, Padang, dll. Hal ini dipicu karna sebuah keadaan. Agaknya ketika merasa satu bangsa, ditengah bangsa-bangsa lain, setidaknya ke-egois-an karakter primordialis kedaerahan harus ditanggalkan. Jika mungkin dipaksakan menjual 'Soto' Madura di Restoran itu, maka dijamin tidak akan ada yang mau datang, sebab daya tariknya hilang. Satu-satunya daya tarik ditempat itu hanya kata 'Indonesia.' Kata itu sekaligus mewakili identiti cukup banyak warga negara kita yang kebetulan berada disana.
Tapi apapun itu, Soto tetaplah Soto, dia hanya sebuah nama untuk menyebut salah satu jenis makanan. JIka boleh mengutip kalimatnya Shakespeare, 'Apalah arti sebuah nama?' toh Soto tetaplah soto. Yah, penulis kisa romantic 'Romeo and Juliete' itu memang senantiasa mengulang pertanyaan itu. 'Apalah arti sebuah nama?' Soto lebih mirip Bhineka Tunggal IKa, merski berbeda-beda tapi tetap satu. Yah..semua tetap satu,'Soto.'
Meski pada akhirnya 'Soto' hanya sebatas nama. Yang jelas, kita lebih butuh sesuatu yang nyata. Tidak hanya sebatas nama. TIdak kosong, tapi isinya. Seperti halnya Soto, toh banyak juga yang takpeduli dengan nama itu lagi, seperti mereka memandang 'Indonesia.' Sebab, lebih menarik jika berbicara soal apa yang nyata, bukan hanya sekedar kata 'Indonesia.' Banyak yang 'tak' perlu Indonesia, bagi mereka, yang lebih perlu adalah bagaimana saya bisa eksis di negeri 'Indonesia' itu. Persaingan hidup, Modernitas, Ruwetnya Kehidupan kerja, seakan memalingkan kepala kita dari arti kata 'Indonesia', sehingga kita berani bertanya 'Apalah Arti Sebuah nama? Kenapa waktu Sumpah Pemuda tak diteriakkan 'Satu Soto....Soto Indonesia' !! biar nama tidak hanya nama? Tapi sekaligus mewakili identitas yang nyata? entahlah, jawabku dalam hati.
Ada 'Pulung' Di Langit Batam
oleh: Magid
Beberapa minggu lalu, sempat terlihat bola api diatas langit Kota batam. Anehnya, fenomena ini hanya terihat wilayah tertendtu saja, sedangkan wilayah lain tidak terlihat. Seperti penjelasan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) bahwa dari pusat pemantauan di Bandara Hang Nadim fenomena bola api itu tak terlihat. Saya pun tersadar, setelah seorang tetangga mengingatkan, bawa ada pancaran cahaya yang mirip dengan tulisan 'Allah' dalam bahasa arab itu. Memang suasana saat itu mendung, jadi belum diketahui secara pasti asal cahaya itu, apakah memang pantulan cahara bulan yang terkena awan, atau memang benar adanya 'pulung' dilangit Batam? entah lah...bisa jadi hal itu merupakan sebuah tanda.
Sekedar catatan, masyarakat Jogjakarta sebelum terjadi Gempa Dasyat yang memporak-porandakan kota itu, juga di tandai dengan adanya bola apai diatas langit pangandaran. Di Tambah bunyi 'Glung dan Bleg' terdengar di bawah bumi Yogya, orang pun gentar dan terkesima, mendengar tanda itu? Apa gerangan yang terjadi? ternyata tuhan memberikan sebuah bencana, gempa, yang membuat bumi gudeg merintih kesakitan.
Begitu juga yang cahaya yang muncul di Batam, bisa jadi hal itu merupakan waham, mungkin juga isyarat, bisik sebagian mereka yang kebetulan melihat saat itu. Barang kali rasa takut dan alam telah berkait, tak jelas mana yang menyebabkan dan disebabkan. Namun apa boleh buat, tidak ada ilmu yang bisa menjelaskan hal itu, atau lebih tepatnya kesadaran kita telah di gebrak oleh sesuatu yang tak dapat kita artikan, sebuah isyarat berupa penjelasan yang tak bisa di tata menjadi wacana, bahasa kita semakin 'gagap' dan bola api itu muncul hingga tengah malam.
Sekali lagi, manusia memiliki kemampuan terbatas, kadang bahasa simbol yang di tunjukkan tidak kunjung selesai kita artikan. Kadang malah hanya menambah ketakutan, tanpa ada niat untuk melakukan pencarian tentang kebenaran tanda itu. Apa arti 'wangsit' yang muncul itu? bisa jadi itu tanda sebuah malapetaka, Wallahu A'lam.
Seperti sabda yang turun ke Nabi Muhammad, bahwa pelajaran utama yang di berikan tuhan adalah 'Iqra' artinya 'baca.' Maka memang selayaknya manusia selalu membaca apa yang sedang dan akan terjadi. Isyarat, Waham dan wangsit serta apapun itu bentuknya, meski tidak berbentuk sebuah wacana utuh, tapi harus kita pahami. Jadilah 'NUh' yang bisa memiliki kepekaan, atau jadilah Musa yang mencoba mencari tuhan hingga di pucuk Tursina.
Barangkali bencana kemunculan puting beliung di beberapa wilayah pantai di Batam pasca kemunculan 'pulung' itu menjadi jawabannya. Meski tidak bisa kita hubungkan secara empiris, namun bisa jadi itu salah-satu tanda dari tuhan. Seperti bunyi ''glung dan bleg' di jogja atau kemunculan bola api di langit pangandaran, sebelum terjadinya gempa.
Sebuah isyarat dengan kemunculan bola api dilangit memang cukup sulit untuk di percaya, ilmu pengetahuan tidak mengajarkan hal itu. Tapi disebuah daerah di Mojokerto, permahaman seperti itu masih ada. Di Desa Lontar Kecamatan Mojosari, masyarakat cukup percaya dengan 'pulung' bola api yang di yakini sebagai penunggu desa itu. Bahkan ada yang bilang merupakan jelmaan dari 'Mbah Lontar'-pendiri desa itu.
Ketika terjadi pemilihan lurah, biasanya masyarakat percaya dengan pilihan 'pulung.' Jadi siapa yang ditunjuk 'Mbah LOntar' melalui kilatan api, dia dipercaya menjadi pemimpin yang ideal. Pada suatu ketika, ketika saya berkunjung di daeran itu, sekitar tahun 1997, saya mencoba membuktikan hal itu. Kebetulan saat itu diselenggarakan pemilihan Lura, dan calon yang mengajukan salah satunya masih mempunya hubungan keluarga dengan ibu saya. Ketika malam tiba, sekitar pukul 23.00 WIB, penduduk desa mulai keluar rumah dan bersemedi dengan cara masing-masing. Ada juga yang hanya berkeliling demi melihat pulung. Tak ayal, cahaya itu muncul sekitar pukul 01.00 WIB. Cahaya itu muncul dari arah timur, dengan kecepatan yang luar biasa dia meluncur ke rumah salah satu calon. Tidak selang berapa lama, cahaya itu pindah, dan meluncur kerumah kerabat saya itu. Baru kemudian, cahaya itu tidak berpindah lagi.
Kesesokan harinya, masyarakat yang memilih sudah yakin, bahwa yang terpilih adalah siapa yang di hinggapi 'pulung' dan tidak ditinggalkan 'pulung.' Akhirnya kerabat saya itu menang telak, dan hanya menyisakan tiga suara untuk rivalnya. Disini pulung bisa diartikan sebagai sebuah tanda, sekaligus mungkin juga perintah. Perintah secara tersirat, bahwa manusia memiliki sebuah pilihan, manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan itu. Namun 'pulung' sang isyarat telah menentukan mana yang terbaik. Yah...sebuah tanda yang susah di terjemahkan dengan bahasa tulisan, dengan kalimat biasa yang diyakini banyak orang.
Semua tahu, isyarat itu cukup tersembunyi maknanya. Tapi satu hal yang pasti, dunia tak selamanya sebuah objek tegak yang ada didepan mata kita. Ada cadar yang menutupi misteri itu, yang membuat manusia menterjemahkan dengan bahasanya masing-masing, dengan kecerdasannya masing-masing, dengan kepekaan indrawi. Sulitnya mengartikan isyarat yang ada, layaknya Musa yang mencari sosok tuhan di pucuk Tursina, yang hanya mampu menyaksikan sosok Tuhan yang membelakanginya. Atau mungkin seperti Syirat yang kecilnya seukuran rambut di belah menjadi tujuh bagian, dan hampir dipastikan manusia akan kesulitan untuk melewatinya.
Seks
oleh: Magid
''Saya sama sekali tak menganggap pornografi itu merusak, tapi sangat dan amat sangat membosankan''
Kutipan kata-kata diatas merupakan bagian dari tulisan Noel Coward, dalam bukunya berjudul Blithe Spirit terbitan London 1942. Ya, Coward menganggap seks adalah suatu tontonan yang mebosankan, karna tidak ada hal yang lain, hanya itu dan itu...lagi dan lagi....sementara di Kota Kelahirannya, satu persatu rumah bordil tumbang, berganti dengan restoran fast food yang mulai menjamur.
Yah..di negeri kita..akankah jajanan Seks akan tergusur? entah kapan? yang jelas meski membosankan, namun suguhan yang satu ini, praktek mengeksploitasi tubuh, telah menjadi bahan konsumsi manusia sejak tahun masehi belum ada. Sejak jaman Prasejarah, sejak manusia mengenal lawan jenisnya. Bahkan dalam sebuah catatan sejarah, Para Fir'aun di Mesir kerap kali menyuguhkan tontonan 'erotis' tari perut untuk menyambut tamu-tamu agung, serta acara khusus kerajaan pada saat itu. Hingga berabad-abad setelah itu, keindahan tubuh wanita meski membosankan, namun masih tetap ada peminatnya, masih tetap dianggap sebagai suatu yg membosankan tapi juga di butuhkan.
Suatu ketika, pertengahan 2005 lalu, dalam sebuah kesempatan, saya bertemu seorang sahabat, dia seorang pengacara terkemuka. Pada saat itu, saya sedang melakukan investigasi terkait kasus yang melibatkan institusi pemerintah. Ketika itu, demi sebuah informasi, malam sengaja saya habiskan untuk menemaninya sembari menikmati harumnya Wine di sebuah Pub, di sudut Kota Batam. Sembari menikmati Wine, dia mulai menceritakan seputar kasus. Tapi, sejam kemudian dia berkata, ''Ah Bosan mikir masalah, kita harus cari hal yang membosankan untuk mengusir kebosanan ini'' sontak saya menjawab, ''Apa seperti mengobati penyakit dengan penyakit?'' benar! jawabnya.
Namun saya sekali lagi, mencoba memahami sahabat yang sudah dalam pengaruh alkohol itu. Mencoba mencari hal yang membosankan. Kemudia, dengan mengendarai mobilnya, kami meluncur menuju sebuah tempat karaoke exlusif, disana sekali lagi Wine tak ketinggalan, namuan ada yg lain dengan sebelumnya. Hal yang membosankan juga menemani kami. Tiba-tiba, seorang penari telanjang 'Striptis' masuk menggedor pintu ruang VIP yang kami tempati itu. Mulailah sebuah pertunjukkan yang dianggap orang 'tabuh' itu. Tapi saya mencoba untuk berfikir secara positif. Mencoba menghayati apa sebenarnya yang membuat hal ini menjadi 'Tabuh'. Saya teringat satu hal, bahwa antara Cinta, Seks dan ketulusan itu sangat sulit di bedakan.
Kembali mengutip kalimat Coward, bahwa pornografi memang mudah di buat, mudah dicari, mudah dibeli, tapi mudah juga hambar. Sebab ia praktis hanya sebuah repetisi. Fokusnya tetap: bukan manusia dengan karakter berbeda dan gejolak jiwa yang berubah, melainkan organ tubuh yang sama bentuknya dan mudah diramalkan geraknya, terbatas variasi dan kemungkinannya.
Barangkali agama juga punya alasan tersendiri kenapa hal ini dilarang? namun pernakah alasan itu di kemukakan secara tersurat dalam ayat-NYa? tidak-tidak, aku tidak menemukan hal itu, semua hanya di katakan bahwa hal itu 'dilarang' dan 'Dosa' tapi alasan kenapa bisa menjadi 'Dosa' tidak pernah disebutkan. Ah..biarlah, yang jelas, manusia membutuhkan sesuatu untuk membangkitkan hasrat erotisnya, dan karya-karya cabul - seperti halnya fantasi sendiri- digunakan meski hanya beberapa menit, beberapa jam. Dan itu berjalan, seiring perjalanan sejarah manusia hidup. Namun sekali lagi, tulisan ini bukan saya tujukkan untuk menyimpulkan bahwa sejarah hanya syahwat dan cabul.
Di puing Pompeii, kota yang tertimbun lahar di Gunung Vesuvius pada tahun 1979 di temukan sejumlah besar fresco, mosaik, dan petung yang menggambarkan laku seksual secara terang-terangan. Ada mosaik gambar Satir menyetubuhi peri, adapula mural dewa Merkuri dengan Zakar yang mengekar setengah meter. Peninggalan itu barang kalai melukiskan buadaya yang ada disana pada jamannya. Seks, laku cabul bisa jadi membosankan, bertentangan dengan kaidah sosial, laku kesopanan, namun dalam konteks lain, senggama tidak hanya berhubungan dengan prostitusi, mungkin juga karna cinta.
Sesat (Bagian III)
Oleh: Magid
Pada Abad ke 15 lalu, api yang ganas tak mampu menghentikan keyakinan manusia. Ketika yang dianggap 'sesat' justru mendapat mukjizat-Nya.
Siang itu, ditengah terik mentari, penduduk Kerajaan Demak berbondong-bondong menyesaki pusat Ibu Kota. Kehadiran mereka tidak lain untuk menyaksikan eksekusi seorang yang dianggap menyebarkan ajaran yang 'Ganjil'. Siapakah manusia yang dianggap 'sesat' itu? Dialah Pangeran Panggung, yang semasa hidupnya meyakini ajaran Islam agak menyimpang dengan apa yang disebarkan Sembilan Wali pada jamannya. Kisah pertentangan mistikus dan penguasa, penegak hukum dan alim ulama yang tak pernah habisnya.
Eksekusi itu disulut pernyataan Pangeran Panggung tentang ajaran sembilan wali. Bahwa ajaran Islam yang di sebarkan pada wali hanyalah sebagian kecil dan hanya kulitnya saja.Sedangkan yang intisari yang merupakan bagian terpenting tidak pernah diajarkan kepada penduduk Jawa. Tidak hanya itu, bahkan pada suatu kesempatan, pertentangan antara Pangeran Panggung dan Sembilan Wali semakin meruncing dalam segala hal terkait Aqidah dan Tauhid.
Kepada murid-muridnya, Pangeran Panggung mengajarkan, bahwa Sholat, Zakat dan Puasa itu tidak penting. Baginya, sholat secara rutin itu justru menjadi tirai (aling-aling -dalam bahasa jawa) yang membatasi manusia dari pengetahuan tentang nilai yang utama, juga soal puasa dan Zakat, akhirnya hanya menjadi berhala, menggantikan sikap sujud kepada yang Maha Agung.
Jika kita lihat kisahnya, Pangeran Panggung memang cukup berani menetang zaman. Dia berani mengatakan keyakinannya di tengah kondisi yang cukup sulit. Di tengah-tengah, dia hanya golongan minoritas diantara seluruh umat. Hal ini pula yang membuat nasibnya tragis. Bagaimana tidak, pengaruh ajaran Sembilan Wali memang cukup mendominasi pada saat itu.
Kemudian, Sunan Bonang yang merasa ajaran Pangeran Panggung cukup 'ganjil' mencoba memanfaatkan kekuasaan Sultan Trenggono,Raja Demak ke III yang menganut Islam untuk melakukan pemberangusan. Padahal jika dilihat lebih lanjut, Trenggono sang Raja adalah adik kandung dari Pangeran Panggung manusia yang dianggap mengajarkan hal yang 'ganjil' dan 'sesat' itu.
Berdasarkan catatan sejarah, golongan Wali Songo dalam penyebaran agama dan menjaga kemaslahatan umat, selalu berafiliasi dengan penguasa. Hal serupa yang 'mungkin' masih dilakukan golongan-golongan alim ulama saat ini.
Di hadapan sang Raja, Sunan Bonang mengatakan, ajaran yang di sebarkan Pangeran panggung cukup 'ganjil' dan sangat bertentangan dengan ajaran islam pada umumnya. Pangeran Panggung menganggap sholat tidak penting, dan puasa serta zakat hanya akan jadi berhala. Kebiasaan Pangeran Temanggung yang kerap membawa dua ekor anjingnya ketika ke mesjid pun dianggap cukup bertentangan dengan ajaran ISlam. Seperti di ketahui, Anjing adalah binatang yang najis. Tapi sang pangeran tidak memandang hal itu, malah dia cukup akrab dengan mahluk 'najis' itu ketika di masjid. Kebiasaan ini dianggap telah menodai martabat Masjid sebagai rumah tuhan.
Alasan lain yang mungkin hanya 'retorika' saja, Pangeran Panggung dianggap membahayakan tatanan sosial Demak pada saat itu yang didominasi pemeluk Islam yang diajarkan sembilan wali.
Sultan Trenggono bertanya, '' lalu hukuman apa yang tepat untuknya?''
''Dia harus dibakar hidup-hidup,'' sahut Sunan Bonang. Maka eksekusi pun mulai di rencanakan. Pangeran Panggung diminta hadir di pusat Kerajaan Demak. Ia pun bersedia hadir untuk menerima hukuman, dengan ditemani dua ekor anjingnya bernama Iman dan Tauqid. Keanehan pun muncul, ketika api unggun mulai dinyalakan, Pangeran Panggung menyuruh anjingnya itu untuk masuk kedalam api guna memungut nasi tumpeng. Mereka meloncat kedalam, dan ditengah api yang berkobar, semua yang hadir saat itu takjub, bagaimana tidak? bulu binatang yang dianggap 'najis' itu tidak sedikitpun terbakar. Cukup 'Ganjil' memang. Api yang ganas ternyata tidak mampu membakar mahluk 'najis' milik Pangeran Panggung.
Melihat hal itu, baginda raja Demak panik, namun ia tetap meminta kakak kandungnya itu untuk tidak melawan. Dan menyerah untuk di eksekusi. Akhirnya Panggung menuruti sang adik, dengan syarat, disediakan pena dan secarik kertas. Kemudian, pangeran Panggung pun di bakar bersama iman dan tauqid. Ditengah api yang berkobar, sang Pangeran sempat menggubah kitab suluk berbentuk puisi. Setalah kita selesai digubah, akhirnya ia pun roboh, tewas bersama dengan Iman dan Tauhid.
Kisah Pangeran panggung ini hanya sedkit dari kisah orang-orang yang bereani menentang zaman. Di tanah jawa, pada saat kerajaan Demak berkuasa, setidaknya ada dua tokoh besar lain yang di eksekusi ketika mencoba melawan kebenaran mayoritas dan menentang kekuasaan. Diantaranya, kisah tentang Syeh Siti Jenar dan Ki Among Raga. Kisah-kisah serat kandha ini pernah di tulis D.A Rinkes dalam bukunya 'Nine Saints Of Java'.
Memang begitulah nasib ketika menentang sebuah zaman, menentang kebenaran 'Klaim' mayoritas, pasti mengalami pemberangusan. Di cap 'sesat' mungkin masih cukup ringan dari pada menemui ajal dengan di bakar dan disiksa.
Kisah lain tentang manusia-manusia yang dianggar ganjil juga pernah muncul di Jazirah Irak. Seperti yang tertulis dalam kitab AL Tawasin, di negeri Bagdad pada tahun 922M pernah hidup seorang yang bernama Al Halaz.
Dalam hidupnya Al Halaz memiliki keyakinan yang cukup menyimpang dari apa yang diyakini orang Bagdad pada saat itu. Hingga suatu ketika, di depan raja dan alim ulama Bagdad, Al Hallaz pernah berkata, ''Jika kamu tidak bisa mengenali tuhan, maka lihatlah tanda-tandanya. Dan diatara tanda-tanda itu adalah aku,'' Pernyataan ini lebih sering di kutip dengan kalimat 'Anna Al Haq' atau saya yg satu. Ada juga yang mengartikan, menyatukan diri dengan tuhan.
Sontak saja, alim ulama dan penguasa Bagdad marah, sebab, Al Hallaz dianggap telah mengaku sebagai tuhan. Dia pun diancam untuk mencabut kata-katanya itu, jika tidak akan dihukum.
Namun dengan keteguhan hatinya, Al Hallaz justru berkata, ''Meski saya di bunuh, tubuh saya di salib, badan saya di potong-potong, tak kan ku cabut kata-kata itu,'' Jawaban yang cukup tegas ini pun mengantarkan Al Hallaz kepada eksekusi dan kebringasan penguasa. Ia menemui ajal dengan masih memegang teguh keyakinanya. Lagi-lagi, keganjilan, sesuatu yang beda, orang-orang yang menentang zaman, menemui ajal. Tapi apalah arti sebuah kebenaran jika resiko untuk para pencarinya selalu mendekati ajal.
Dengan mengutip sebuah syair Melayu yang pernah di cuplik Rinkes penulis 'Nine Saint of Java.' Syair ini menjelaskan tentang tingkatan manusia manurut Islam dengan meng-analogikan ke bentuk buah kelapa.
...........
Kulit-nya itu ibarat Shari'at
Tempurung-nya itu ibarat Tarikat
Isi-nya itu ibarat Hakikat
MInyak-nya itu ibarat Makrifat
Cukup menarik jika kita pahami syair itu, tingkatan tertinggi, yakni 'Makrifat' dilambangkan seperti minyak dalam buah kelapa. Yah..minyak, suatu zat yang mugnkin ada di setiap bagian kelapa, tapi tak kasat mata. Tak bisa terlihat, dia merasuk didalam sela-sela dagingnya, ada disetiap titik pori-pori tempurungnya, dia bisa menyesuaikan diri. Namun tetap pada kenyataanya dia akan terpisah, dan tidak mudah bercampur dengan zat lain. Dia tidak keras serpeti tempurungnya, dia tidak keras seperti gelombang pemberangusan.
Jika kita melihat sifat dari tingkatan ini, lantas apa arti pemberangusan, pembantaian, golongan yang dianggap 'ganjil'. Lalu apa arti cap 'sesat' yang di berikan untuk kelompok tertentu, toh pada akhirnya kebenaran itu sangat sulit di bedakan, seperti minyak yang sulit untuk dilihat ketika masih menyatu dengan daging, kulit dan tempurungnya.
'Ein Leben ist Ein Spiel'
oleh: Magid,
Selama ini saya sering menjumpai beragam moto hidup yang di pegang masyarakat kita. Barangkali sebuah lagu ciptaan Ian Antono ''Panggung Sandiwara''-dapat mewakili keadaan salah satu diantaranya.
''Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah!!''
Ada yang menyebut, dunia ini hanya sebuah panggung teater, dimana pemain teaternya adalah kita, saya, anda atau mereka, ya,,,kita semua. Barangkali jika saya tidak salah, kata-kata yang dipakai Ian Antono dalam lagu itu, mencomot dari pepatah Jerman kuno, yakni 'Ein Leben ist Ein Spiel' yang artinya hidup itu adalah suatu sandiwara. Pepatah ini memiliki makna yang majis, dalam, dan sedikit menandakan kepasrahan terhadapNya. Pepatah itu sendiri pernah dipakai Sudisman, ketua II CC PKI dalam pidato pembelaannya saat digelar Mahkama Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada periode 1969, saat pasrah menerima vonis mati.
Tapi, coba kita fikirkan, sebenarnya hidup ini apa? Saya sendiri tidak sependapat dengan pepatah, Hidup adalah sandiwara, seperti halnya pepatah Jerman kuno itu. Sebab, jika kita memakai pepatah itu sebagai dasar untuk menjalani kehidupan ini, maka akan terasa sangat enteng, ringan dan terkesan asal-asal saja. Sebab,semua hanya sandiwara, padahal jika kita memang benar-benar menjalani hidup dan memiliki prinsip hidup, jelas semua bisa serba serius. Tidak, serba asal, menjadi ini boleh, menjadi itu baik dan semua dikerjakan dengan topeng sandiwara. Tidak...saya tidak mau bersandiwara.
Sepertinya, pepatah itu harus diubah menjadi, ''Ein Leben ist nicht ein spiel aber en leben ist Streit'' yang artinya hidup bukannya sandiwara, tapi hidup adalah suatu perjuangan. Ya..hidup memang perjuangan. Kita hidup untuk berjuang, dan kita berjuang agar bisa hidup. Sebab, kita hidup bukan sekedar hidup, kita hidup untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Mungkin benar kata buyutku yang asli Jawa 'Ojo Dumeh le mandengi urip '(jangan remeh dalam memandang hidup) dan kehidupan.
Kadang menghadapi perjuangan itu sulit, lihatlah, dibawah jembatan itu, hidup mereka yang berjuang, tapi belum mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Kemiskinan, kekuarangan tentu saja mereka rasakan. Dilain tempat, mereka yang memperoleh kemenangan bisa mendapatkan apa saja, mobil mewah, harta berlimpah. Tapi satu ukuran, yakni kebahagian, belum bisa diukur diantara keduanya. Sebab, hukum 'Hij is Rijk Van Huis Uit' (Ia Kaya sejak semula) masih ada. Mereka bisa jadi kekayaan itu bukan hasil perjuangan, tapi dari warisan dsb. Karna itu, lebih baik dan lebih bijaksana jika kita mengukur hasil perjuang hidup itu dari seberapa jauh kebahagiaan mereka dapatkan. Dan tentu saja ukuran ini cukup relatif.
itulah salah stau tolak ukur kemenangan menghadapi hidup.
Perjuangan hidup? selain itu, apa lagi yang diperjuangkan? menurut saya, yang harus di perjuangkan adalah impian. Sebab hidup itu sendiri selalu berawal dari impian. Tanpa impian, tanpa cita-cita, hidup menjadi tandus. Benar, seperti nun diluar sana yang memancar ajaib, Impian dan hidup juga ajaib. Dan apa yang lebih ajaib dari impian itu? dialah kehidupan. 'What Wonder of wonder is the living, is life!!'-Ajaib bin ajaib dalam kehidupan adalah hidup.....dan untuk terakhir katakanlah...No Tears For Life..!!
Misteri September Moovemen, Revolusi atau Horor?
''Ini resiko bapak karena menjadi partai politik. Untuk itu ibu selalu berpesan, agar saya tidak ikut kegiatan apa-apa selain hanya pramuka''
Cuplikan diatas adalah bagian dari cerita buram yang ditulis Svetlana Dayanti, anak tertua dari Bung Nyoto, ketua II Comite Central (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI). Svetlana yang bisa diartikan sebagai cahaya (dalam bahasa rusia) itu memang nama yang indah, namun keindahan namanya tidak seindah kisah hidupnya pada saat itu. Ya, horor itu dimulai ketika Svetlana masih berusia 9 tahun, ketika itu ia terpaksa diasuh ibunya di dalam penjara. Tepatnya awal Oktober 42 tahun lalu, ketika slogan 'penyelamatan revolusi' dikumandangkan di radio-radio. Gelombang pembersihan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) pun dilakukan. Tak ayal keluarga Nyoto lantas mengungsi di kawasan Gunung Sahari Jakarta pusat. Namun tentara yang mengejarnya pada saat itu berhasil menangkap, berikut seluruh keluarganya, tidak terkecuali Svetlana yang masih sangat belia.
Horor kembali berlanjut, ketika pada sebuah pagi yang datang menjelang, Svetlana terpaksa berpisah dengan ibunya, Soetarni yang harus di interogasi seputar kegiatan suaminya Bung Nyoto. Pada saat itu,datang seorang anggota militer menyuruhnya membersihkan sebuah ruangan di sudut bangunan yang dikenalnya sebagai asrama itu. Dengan mata yang masih polos Ia menyaksikan ceceran darah dilantai yang sudah mengering. Diatas sebuah meja terlihat cambuk ekor pari yang juga berlumur darah, serta beberapa orang yang keluar dari ruangan didekatnya dengan muka bermandikan darah segar. Pemandangan itu kerap kali ia saksikan, tiap ibunya di interogasi.
Dalam kondisi psikologis yang cukup tertekan, Svetlana mendapat wejangan dari ibunnya bahwa semua yang dialaminya adalah buah dari orang tuanya yang aktif dan menjadi tokoh penting partai politik. Ya, total selama 11 tahun ia dan ibunya merasakan hidup dipenjara, sementara bapaknya yang menjadi tokoh penting PKI, nasibnya tak jelas.
Kengerian akan horor Oktober 1965 dirasakannya tidak hanya pada saat ia harus menikmati bagaimana tertekannya hidup dalam penjara. Tapi juga beberapa tahun saat menghirup udara bebas. Nama indah pemberian bapaknya pun terpaksa harus di tanggalkan. Masa itu, bahasa simbol sangat berkuasa. Nama-nama Rusia banyak dipakai beberapa petinggi PKI sebagai nama anak-anak mereka. Seiap nama yang dicomot dari bahasa Rusia- secara asal-asalan dicap sebagai PKI. Itu yang membuat Svetlana harus menghilangkan namanya hingga 1987.
Jika Svetlana menikmati hidup di penjara pada saat usia 9 tahun, lain lagi dengan keluarga D.N Aidit. Ketika gelombang horor G30S berlansung, keluarga Aidit tercerai berai. Anak pertama dan kedua Ibraruri serta Ilya Meliani yang pada saat itu sekolah di Moskow ,Sama sekali tidak tahu bagaimana nasib ayahnya di tanah air. 25 November 1965 tepat setelah 3 hari penangkapan Aidit, Ibunya Dr Sutanti, harus dipenjara selama 11 tahun. Berita di koran Rusia pada saat itu cukup membingungkan. Ada isu soal Aidit yang melarikan diri ke Hongkong dengan Kapal selam, ada juga yang mengabarkan Aidit sudah mati. Hingga suatau hari, ketika utusan Partai Komunis Rusia memastikan kepadanya bahwa D.N Aidit sudah dibunuh. Pasca berita itu pun, kedua anak ketua CC PKI itu pun menjalani hidupnya dengan berpindah-pindah, dari Rusia, China,Makao, hingga pada akhirnya menetap di orly, sebuah daerah di selatan Paris sampai saat ini.
Rentetan horor G30S itu terus terjadi hingga selang waktu cukup lama. Puluhan, Ratusan bahkan mungkin ribuan kepala yang terpenggal, dari desa-desa di Jawa hingga Bali. Saat Radio menyiarkan perintah untuk menggantung Aidit, Brangus PKI hingga ke akar-akarnya, bahkan kalau di desa sampai 'Cindil-cindilny', gelombang horor itu pun berhembus. Suasana mencekam bagi mereka yang pada saat itu 'ikut' aktif dalam PKi. Penumpasan dilakukan, mayat diarak, bahkan di desa-desa banyak yang tidak mengerti apa-apa juga menjadi korban kebiadapan manusia pada saat itu.
Mencermati kengerian itu, saya teringat, ketika nenek saya bercerita bagaimana suasana desa kami di daerah Mojokerto. 'Cak Wangi' atau 'Singo Wangi' sebuah desa yang terletak di ujung timur kecamatan Mojokerto, awalnya dikenal sebagai desa dengan penduduk yang cukup ramah, mayoritas mereka berprofesi sebagai petani. Tepat berselang stau hari setelah pengumuiman untuk menumpas PKI sampai ke 'cindil-cindilonya' Desa itu pun berubah. Beberapa orang yang di tuduh ikut 'Genjer-Genjer' diamankan. Ya, pada saat itu masyarakat setempat cukup apolitis. Mereka tidak mengeti partai politik manapun bahkan PKI. Mereka hanya menyebut Partai Komunis itu dengan sebutan Genjer-genjer (lagu propaganda PKI).
'Orang-orang yang pernah ikut genjer-genjer di arak ke kantor lurah, dan sebagian di culik orang tak dikenal'' sebut nenek saya. Sebegitu dasyatnya horor itu berlangsung, hingga di desa yang letaknya cukup jauh dari pusat kota pun gelombang penumpasan terhadap aktivis PKI dilakukan. Hal ini tidak lain hanya karna dosa tuduhan 'coupt de etat' yang belum terbukti. Manusia sama sekali tak ada harganya. tak peduli pejabat, lurah, seniman, semua di eksekusi tanpa proses pengadilan. Bagi sebagian 'yang beruntung' diasingkan di Pulau Buruh. Tidak hanya PKI, organisasi yang berkaitan dengan partai itu pun di bersihkan. Beber4apa aktivis Lekra, Pramoedya Ananta Toer dan Joko Pekik juga turut merasakan buramnya jadi Tapol. Tapi apapun itu, adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia, mungkinkah pada korban bisa memaafkan tanpa melupakan kengerian horor G30S seperti kata Anhar Gonggong?
Dalang Gerakan 30 September Masih buram, perang urat saraf melalui tulisan pun dilakukan.
Kini 2007, tepat 42 tahun lalu, sejak horor itu terjadi, kabut misteri tragic movement itu masih menyelimuti. Adilkah jika 'hanya'disangka membunuh 6 orang jendral, lantas PKI harus membayarnya dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan kepala pada pendukungnya?-hanya itu yang telah jelas.
Penelitian-demi penelitian yang dilakukan beberapa ahli sejarah, masih juga belum menyingkap siapa dan apa sebanarnya dalang Gerakan 30 September 1965 berikut tujuan pembrangusan PKI. Perdebatan pun berlanjut lewat tulisan. Puluhan buku mulai di terbitan, semua untuk menelisik dan membuka tabir diantara kabut yang menyelimuti horor itu. Ada versi kiri dan ada versi kanan. Pemerintah sendiri menjelaskan G30S dengan menerbitkan Buku putih karya Nugroho Notosusanto. Buku putih G30S yang diterbitkan pada 1978 itu sebenarnya disusun Nugroho 40 hari setelah kejadian, namun di terbitkan bersama dengan mantan Oditur Mahkama Militer luar biasa, Durmawell ahmad dan Sunardi D.M yang dikenal sebagai orang yang mengadili Sudisman, seorang Polit Biro CC PKI.
Sebelumnya, lelaki yang juga dikenal sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI itu juga pernah menerbitkan buku dalam versi bahasa inggris. Buku berjudul 'The Coupt attempt of the september 30 movement in Indonesia' di susun Nugroho bersama Ismail Saleh. Tidak hanya itu, Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban serta Dinas Sejarah Angkatan Darat juga menyusun buku serupa. Pada 1994 pun demikian, kantor sekretariat negara menerbitkan buku berjudul "Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar belakang, aksi dan penumpasannya.
Dari versi resmi itu, PKI di tuding sebagai dalang gerakan 30 September. Oleh karenanya Orde Baru menamainya peristiwa itu sebagai G30S/PKI, hal ini untuk mempertegas bahwa PKI lah yang merancang gerakan tersebut. Melalui Biro Khusus yang di ketuai Sjam Kammaruzzaman, PIKi telah merancang aksi kudeta. Biro rahasia yang juga telah membina ratusan perwira militer 'berpikiran maju' ini bertanggung jawab langsung ke Pimpinan CC PKI, D.N Aidit. Puncaknya, saat 4 agustus 1965, saat Presiden Sukarno di kabarkan mengalami sakit, saat itu juga menurut versi buku ini, PKi mulai melancarkan aksinya. Pada waktu juga, Aidit yang berada di luar negeri bergegas pulang untuk menyiapkan langkah-langkah agar rencana perebutan kekuasaan tidak didahuloui Angkatan Darat. Saat itu memang hanya tinggal TNI-AD yang menjadi rival PKI, setelah beberapa partai Politijk di brangus. Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia di brangsu karena beberapa tokohnya di tuduh terlibat pemberontakan PRRI. Sebagai pembenaran fakta tersebut, pengakuan Letkol. Untung Syamsuri tentang pembicaraannya dengan presiden Sukarno pun di jadikan bukti. Saat itu, dari pengakuan Untung, presiden sempat menanyakan apakah dirinya sanggup menangkap jendral-jendral yang berani menilai kebijakannya. ''Sanggup apabila di perinta'' jawab untung pada saat itu.
Penulis lain yang juga sepakat PKI adalah dalang Gerakan 30 September yakni Arnold C Brackman dalam bukunya The Communist Collapse in Indonesia (1969). Arnold berkesimpulan sama dengan versi pemerintah saat itu. Pada 1971 Majalah South East Asia menerbitkan arikel karya Guy J Pauker yang berjudul 'The Gestapu Affair of 1965' yang juga berkesimpulan bahwa PKI dalang utaman september movement.
Berbeda dengan penulis diatas, A Belensky dan B Ilichov yang berasal dari Rusia justru menuding Presiden SUkarno terlibat G30S. Dalam artikel yang di muat majalah kommunis diterbitkan pada 28 Oktober 1968, kedua penulis Rusia itu berpendapat bahwa G30S di gerakkan perwira angkatan darat yang di dukung AU. Dengan perhitungan Sukarno akan berpihak kepada kekuatan kiri. Karena di duga Sukarno mengetahui rencana itu, Kedua penulois asal Rusia ini justru menuduhnya sebagai dalang G30S. Kesimpulan akhir itu juga di kemukakan Anthonie C.A Dake dalam bukunya 'In the Spirit of the Red Banteng: Indonesia Communist Between Moskow and Peking 1959-1965 yang di terbitkan pada 1973. Buku lain juga di terbitkan Dake pada 1974. Buku berjudul 'The Davious Dalang Sukarno and the Socelled Untung Pucsch.Eyewitness report by Bambang S Widjanarko. Buku ini merupakan kesimpulan dari 14 berita acara pemeriksaan tim pemeriksa pusat kopkamtib terhadap kolonel KKO Bambang S Widjanarko, bekas ajudan Presiden Sukarno. Pendapat Dake ini di dukung peneliti lain David Lowenthal dari Jerman dan Jhon Huges.
Namun pada akhirnya tulisan Dake itu mendapat bantahan dari penulis dalam negeri. Ya, dia adalah mantan perwira Intel, Sugiarto Soerojo. Ia membantah adanya pembicaraan antara Presiden dengan Untung, melalui buku berjudul 'Siapa menabur angin akan menuai Badai'.
Tapi tidak semua peneliti sepakat dengan Teori dalang G30S adalah Sukarno dan PKI. W.F Wertheim, dalam tulisannya berjudul ''Suharto and Untung Coup- The Missing Link (1970) meragukan keterlibatan Sukarno dan PKI. dalam tulisan itu, Profesor W.F berkesimpulan bahwa Suharto yang melakukan Coupt de Ettat dengan cara merangkak dan memanfaatkan posisi Syam Kammaruzzaman yang di duga agen rangkap. Ia sedikir heran, karena posisi Soeharto pada saa itu adalah salah satu perwira paling senior, namun rumahnya tidak di datangi pasukan tak di kenal layaknya jendral-jendral yang di-lubang buaya-kan. Tuduhan ini di perkuat dengan kenyataan bahwa Syam merupakan kawan sekaligus mantan anak buah Suharto dari kelompok Pathok, dari Jogja pada masa perang kemerdekaan.
Penulis lain yang juga tertarik untuk mengurai sejarah G30S ini yaitu, Benedict R.O'G Anderson dan Ruth Macvey. Kedua penulis itu adalah ahli Indonesia asal Universitass Cornell, AS. Pada makalah berjudul ' A Parliminary analysis of the sptember movement' mereka menyimpulkan G30S adalah persoalan Internal AD. Namun pada saat bersamaan ada yang mencoba menyeret-nyeret PKI agar ikut terlibat. Tulisan ini terbit satu tahun berselangs etelah kejadian G30S, dan sempat gempar sebab versinya mirip dengan versi resmi yang di keluarkan PKI.
Peter Dale Scott dari california University, Berkeley, Amerika Serikat. Ia membuat analisis yang lebih mencengangkan. Dalam monogramnya, The United States and Overthrow of Sukarno, 1965-1967, ia mengemukakan bahwa dalam G30S Dinas Intelegen Rahasia dari negara digdaya Amerika Serikat cukup punya andil. Central Intelegency Agency (CIA) membantu Suharto untuk melakukan Kudeta dengan memanfaatkan G30S. Teori keterlibatan CIA makin meriah dengan munculnya dokumen-dokumen CIA yang di kumpulkan wartawati kantor berita State News Service Amerika Serikat, Kathy Kadane. Berbekal data terebus, Katy menuding CIA yang membuat rausan anggota PKI tewas. Sebab, pada 1965 CIA telah mengirimkan nama-nama tokoh PKI kepada aparat keamanan Indonesia.
Keterlibatan Intelegen Asing dalam G30S juga di uraikan Greg Paul Green dari Universitas New England Austria. Dalam bukunya berjudul 'The Genesis of Malaysia Confrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965, ia menjabarkan bahwa dalam september movement dinas Intelegen Inggis MI-6 juga terlibat. dari analysa greg, Inggris cukup terusik, dan kepemimpinan SUkarno yang diangap membahayakan kepentingan negeri Inggris di Malaysia. Apalagi dengan kebijakan Ganyang Malaysia yangs empat di gembar-gemborkan Presiden pertama RI itu.
Dan belum lagi buku-buku tulisan keluarga mantan anggota PKI yang juga sudah banyak di terbitkan. Hal itu semua tidak lain adalah untuk mengemukakan kebenaran akan kejadian, kengerian, horor yang menyelimuti Indonesia pada saat itu.
Dengan beragam versi itu, apakah lantas apakah kita bisa menentukan fakta mana yang menjadi sebuah kebenaran. Ibarat melihat patung dari 4 sisi, masing-masing sisi tentu merupakan fakta tersendiri. Tapi benarkah fakta tergantung dari sisi, lantas kenapa beberapa orang diadili, kenapa tidak ada keseragaman dalam fakta 4 dimensi tersebut?-atau bahkan ada yang bilang bahwa fakta dan sejarah adalah milik penguasa, siapa yang berkuasa pada saat itu maka mereka berhak menentukan fakta dan sejarah mana yang benar. Atau kita hanya kelinci percobaan dua blok yang bertikai pada saat itu, yakni Amerika dengan Demokasi-nya dan Rusia dengan Komunisnya. Tapi apapun itu, kengerian horor G30s yang belum tersingkap sebaiknya tidak boleh kita lupakan. Saya ingat, 2 tahun lalu, sempat di gembar-gemborkan pemerintah akan melakukan rekonsiliasi terhadap masalah ini. Hal ini guna memberikan keadilan terhadap korban G30S, juga keluarganya yang masih mengalami perlakuan 'beda'. Gema untuk menuliskan sejarah yang sebenarnya dan perjuangan untuk menuntut haknya pada korban G30S itu semakin gencar tatkala Mantan Presiden RI KH Abdurahman Wahid akan mencabut Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran PKI dan pelarangan Komunis/Marxis/Leninis.
Ya, mantan Presiden yang juga cucu pendiri Nu itu memang dikenal cukup memiliki keprihatinan terhadap nasib orang-orang kiri di Indonesia. Pria yang akrab disapa Gus Dur itu juga sempat menulis kata Pengantar pada buku berjudul 'Aku Bangga jadi anak Komunis' yang di susun Dr Ribka Tjiptaning Proletariyati. Namun sayangnya, dukungan untuk mencabut Tap MPRS itu tidak kunjung terlaksana hingga waktu jabatan beliau lengser. Kini Potret buram sejarah Indonesia masih di selimuti misteri, meski sebagian tersirat seperti luka yang menganga persis korban yang pada saat itu menjadi bagian dari horor yang berlangsung.
oleh:magid
Akhir-akhir ini kembali marak pemberitaan tentang pemberangusan aliran-aliran sesat yang dilakukan kelompok agamis di beberapa wilayah di tanah air. Seperti biasa, sweeping, pengusiran, bahkan penganiayaan pun dilancarkan kepada golongan yang dianggap sesat itu. Tapi apakah golongan agamis yang melakukan tindakan itu sendiri memiliki aqidah yang benar? Saya hanya bisa bilang, Wallahu A'alam. Tetapi ada satu hal yang sengat jelas sekali, bahwa agama yang di turunkan dengan sangat fitrah itu sendiri mengalami fase yang sensitif, menjadi cukup mudah untuk marah melihat orang-orang yang mencoba berpaling, mencari tanah yang dijanjikan kepada musa, di gurun terbuka, atau menunggu datangnya wahyu di gua Hira-Nya.
seperti kutipan puisi Chairil Anwar berikut ini:
Tuhanku..
Aku mengembara di negeri asing
Di pintumu aku mengetuk
Aku tak bisa berpaling
Keadaan 'tak bisa berpaling' atau mungkin bisa diartikan menerima saja apa yang sudah ada tanpa harus merubah apapun yang sudah diyakini orang banyak. Mungkin keadaan seperti itulah yang diharapkan sebagian besar penganut Islam. Tapi kenyataannya muncul golongan-golongan yang mencoba berpaling dari apa yang diyakini mayoritas umat.
Bisakah kita kembali mengetuk hati nurani kita masing-masing? mari kita tanya pada jurang hati yang terdalam itu? Semua ini hanya tentang salah dan benar, sesat dan lurus, fitrah atau dosa, yang kesemuanya tentu hanya tuhan sendirilah yang akan tahu. Kita, mereka adalah sama, mahluk ciptaan-Nya, yang tidak bisa menentukan kebenaran dan kesalahan, setidaknya itulah yang saya pahami selama ini tentang kebenaran selama ini. Seperti kata Jallaludin Rummi, ''Bahwa kebenaran adalah milik tuhan,kadang apa yang kita nilai salah belum tentu sama dihadapan tuhan,''
Sementara itu, kebenaran yang diyakini saat ini adalah kebenaran klaim- dimana dianggap benar-ketika semua orang merasa hal itu benar. Tentu saja sebuah resiko akan diterima, ketika melawan kebenaran klaim tersebut. Bagi golongan yang melawan akan dianggap tidak waras, subversi bahkan jika hal-hal yang menyentuh wilayah rohani golongan itu akan dianggap sesat. Tapi sekali lagi, apakah ketidak warasan, kesesatan itu dibalas dengan penganiayaan, penyiksaan, pengusiran dan lain sebagaianya? Barangkali kita perlu memikirkan, kenapa timbul golongan-golongan itu sebelum mengadili tentang benar dan salah,sesat dan lurus. Bukankah agama di ciptakan untuk menyatukan umat?
Barangkali saya perlu mengutip sebuah ayat Al Al Qur'an Surat Albaqoroh Ayat 213. Bissmilahirah manirrahim ''Manusia itu adalah umat yang satu (Umatan Wahidah), setalah muncul perselisihan, maka Allah mengirim para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.'' Dalam ayat yang lain Allah berfirman, ''Manusia dahulunya satu umat, tetapi kemudian mereka berselisih...(QS.10:19). Sementara dalam surat Asyura dikatakan, ''Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja.''
Jika kita berkaca pada ayat diatas, bukankah kita juga bisa menyadari bahwa perbedaan, merupakan sebuah takdir yang di gariskan. Tapi bukan berarti kita tidak mengakui bahwa yang sesat bukan bagian kita? bukan satu mahluk dengan kita?. Agama di turunkan untuk menyatukan umat, bukan untuk slaing cemburu atau semakin memperuncing jurang permusuhan. Dengan kata lain, Islam meyakini pandangan hidup tauhid-seperti yang tertulis dalam beberapa literatur tentang islam. Suatu keyakinan hidup yang tidak hanya mempercayai tuhan hanya satu, tapi lebih luas dari pada itu, mengakui bahwa seluruh mahluk ciptaannya adalah satu kesatuan umat. Karena itu, menjadi paradoks jika kita melihat kenyataan saat ini. Para Padri dan pemuka agama, dengan atas nama penyelamatan ajaran islam, berbekal secarik fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) berbondong-bondong melakukan 'pembersihan,' terhadap golongan yang dianggap sesat itu. Padahal, jika melihat ilmu dan pemahaman mereka tentang ajaran Islam, seharusnya kelompok yang sesat itu bisa dirangkul, diluruskan jalannya, bukan dengan jalan pemaksaan dan pemerkosaan hak. Disinilah, wajah agama yang seharusnya membawa pencerahan, berubah menjadi sosok yang menakutkan. Padahal masih cukup banyak cara lain untuk merangkul golongan yang dianggap 'sesat' itu.
Barang kali sikap Nabi Muhammad S.A.W perlu kita jadikan tauladan. Ketika nabi besar umat Islam itu berhasil menaklukkan negeri Mekkah, dan menguasai seluruh wilayah itu, nabi tidak sedikitpun memaksa orang kafir untuk memeluk agama islam. Bahkan nabi bersedia menjamin keselamatan orang kafir untuk hidup di wilayah yang sudah di kuasainya itu. -Jika golongan yang dianggap sesat di tanah air bisa diartikan orang yang murtad, atau keluar dari islam, atau bahkan anggap saja orang kafir, apakah perlakuan dengan jalan kekerasan itu bisa di toleransi? saya pikir tidak. Itu bukanlah cara-cara islam.
Mungkin kita perlu melihat lebih dalam lagi, tentang ajaran sesat itu sebelum mencari jalan keluarnya untuk membimbing mereka kembali kejalan yang 'dianggap' benar oleh sabagian besar umat islam di negeri ini. ''Selain mendapat jatah motor, mereka juga membagikan jatah beras tiap minggu, karena itu banyak warga yang tertarik untuk diajak gabung,'' demikian di katakan seorang warga di Jakarta dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi Swasta kita. Jika kita jadikan alasan itu sebagai sebuah pembenaran, maka akan muncul kesimpulan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu sebab, terjerumusnya manusia kedalam ajakan-ajakan yang mengatasnamakan dirinya sebagai pembaharu islam itu.
Diakui atau tidak, dimasa yang cukup sulit ini, masyarakat Indonesia banyak yang terjerembab dalam jurang kemiskinan. Banyaknya karyawan yang di PHK, naiknya harga bahan pokok, membawa dampak tersendiri pada perubahan mental masyarakat kita. Hal ini membawa masyarakat pada tahap kegamangan iman. Dimana mereka yang tadinya kuat, menjadi cukup rapuh imannya, akan menganggap bahwa nasib yang dialaminya itu merupakan bagian dari takdir yang tidak berpihak kepadanya. Yang pada akhirnya membawa mereka untuk memasuki fase yang sangat rapuh dan kosong. Pada saat kekosongan dan kekeringan itulah biasanya akan muncul dorongan untuk pencarian tuhan yang sesungguhnya. Bayangkan, bukankah akan cukup mudah terbujuk jika seorang sudah gamang akan kepercayaan yang dianutnya sendiri? hal ini lah lantas dimanfaatkan oleh mereka yang datang dengan membawa ajaran yang dianggap 'baru' itu. Keadaan ini, juga di perparah dengan kegagalan golongan pemuka agama, golongan padri yang seharusnya di depan justru lebih banyak tutup mata di bandingkan melaklukan tindakan untuk membawa umat lepas dari cengkraman kemiskinan dan kegamangan itu. Barang kali ada benarnya ungkapan, 'Miskin Harta akan membawa anda pada miskin ilmu, selanjutnya miskin ilmu akan membuat anda miskin iman,'' oleh karenanya, sahabat Ali pernah berkata 'Jika kemiskinan itu adalah sesosok mahluk, maka dia harus di binasakan, sebab kemiskinan akan membawa kekufuran'.