Hiduplah Saat Ini
Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak. Si guru dalam rasa kantuk membuka pintu sambil berkata, “ Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. “ Pemuda itu menjawab, “ Ampun guru, semalam saya mimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan dunia. Saya menolak tetapi dipaksa, ditarik-tarik. Saat itu saya terbangun, dan tidak dapat tidur lagi. Saya takut membayangkan malaikat benar-benar datang. Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia? ” Gurunya menjawab, “ Kematian adalah rahasia Tuhan. Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian. “ Si murid bertanya terus, “ Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini? “
Hiduplah Saat Ini. Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia-siakan waktu. Bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu!
Hiduplah Saat Ini. Hiduplah Saat Ini. Tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu. Hiduplah Saat Ini, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang. Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan, kebahagiaan bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas! Sekali lagi, Hiduplah Saat Ini!
(disalin dari : Lonceng Kebayoran Hari Minggu Biasa XVI Tahun A, 20 Juli 2008)
Kebijaksanaan Seorang Pekerja Tambang
Ada beberapa pekerja tambang. Setiap hari mereka bekerja di dalam suatu tambang emas. Oleh karena tambang itu kaya akan mineral alam maka sudah beberapa tahun mereka tak pernah pindah tempat kerja. Jadi bisa dibayangkan bahwa semakin digali, tambang tersebut akan semakin dalam.
Hari itu mereka berada di dasar terdalam dari tambang itu. Secara tiba-tiba semua saluran listrik dalam tambang tersebut, putus. Lampu-lampu semuanya padam. Kegelapan meliputi dasar tambang itu dan dalam waktu sekejap terjadilah hiruk-pikuk di tempat itu. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri sendiri. Namun mereka sungguh kehilangan arah. Setiap gerakan mereka, pasti berakhir dengan benturan dan tabrakan; entah menabrak sesama pekerja maupun menabrak dinding tambang.
Situasi bertambah buruk disebabkan oleh udara yang semakin panas karena ketiadaan AC. Setelah lelah merasakan kegelapan, mereka semua duduk lesu tanpa harapan. Satu dari pekerja itu berkata, “ Sebaiknya kita duduk tenang daripada secara hiruk-pikuk mencari jalan keluar. Duduklah secara tenang dan berusahalah untuk merasakan hembusan angin. Karena angin hanya bisa berhembus masuk melalui pintu tambang ini. “
Akhirnya mereka duduk dalam suasana keheningan. Saat pertama, mereka tak dapat merasakan hembusan angin. Namun secara perlahan, mereka menjadi semakin peka akan hembusan angin sepoi yang masuk melalui pintu tambang. Dengan mengikuti arah datangnya angin, mereka akhirnya dengan selamat dapat keluar dari dasar tambang yang dicekam gelap gulita itu.
Pesan :
o Bila batin Anda sedang gundah dan kacau, Anda tak akan pernah dapat melihat jalan keluar yang tepat.
o Pertama-tama, Anda perlu menenangkan diri. Hanya dalam keheningan, Anda bisa melihat pokok permasalahan secara tepat serta dapat secara tepat juga membuat keputusan.
Setiap Langkah adalah Anugerah
Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer pada tanggal 25 November. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Ralph. Ralph yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor.
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat 2 anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali ia kembali ke sisi profesor itu, dia tersenyum.
“ Darimana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu? “, tanya sang profesor. “ Melakukan apa? “, kata Ralph. “ Darimana Anda belajar untuk hidup seperti itu? “ “ Oh, “ kata Ralph, “ selama perang, saya kira. “ Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. “ Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. “, katanya.
“ Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. “
Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas. Nilai manusia bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup; bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Tuhan Punya Kue
Kadang kita bertanya dalam hati dan menyalahkan Tuhan, “Apa yang telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?” atau “Kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?”
Ada penjelasan berikut ini. Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport; putus dengan pacarnya dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.
Saat itu ibunya sedang membuat kue dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya. Dengan senang hati dia berkata, “Tentu saja, I love your cake.”
“Nih, cicipi mentega ini,” kata ibunya menawarkan.
“Yaiks,” ujar anaknya.
“Bagaimana dengan telur mentah?”
“Mam, ibu bercanda ya?”
“Mau coba tepung terigu atau baking soda?”
“Mam, semua itu menjijikkan.”
Lalu ibunya menjawab, “Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.”
Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancangan-Nya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.
Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.
Tuhan teramat sangat mencintai kita.
Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi.
( disalin dari : Lonceng Kebayoran Hari Minggu Paskah VI Tahun C, 13 Mei 2007 )
Biarkan Tuhan Menilaimu
Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga; terimalah mereka apa adanya. Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi, teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat. Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.
Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.
Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.
( from : Mother Theresa )
( disalin dari : Lonceng Kebayoran Hari Minggu Biasa IV Tahun C, 28 Januari 2007 )
Gadis Kecil dan Kotak Emas
Di suatu keluarga miskin, seorang ayah tampak kesal pada anak perempuannya yang berusia 3 tahun. Anak perempuannya baru saja menghabiskan uang untuk membeli kertas kado emas untuk membungkus sekotak kado.
Keesokan harinya, anak perempuan itu memberikan kado itu sebagai hadiah ulang tahun pada sang ayah. “Ini untuk ayah,” kata anak gadis itu. Sang ayah tak jadi marah. Namun ketika ia membuka kotak dan mendapatkan isinya kosong, meledaklah kemarahannya.
“Tak tahukah kau, kalau kau menghadiahkan kado pada seseorang, kau harus memberi sebuah barang dalam kotak ini!”
Anak perempuan kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata terisak-isak, “Oh ayah, sesungguhnya aku telah meletakkan sesuatu ke dalam kotak itu.”
“Apa yang kau letakkan ke dalam kotak ini? Bukankah kau lihat kotak ini kosong!” bentak ayahnya.
“Oh ayah, sungguh aku telah meletakkan hampir ribuan ciuman untuk ayah ke dalam kotak itu,” bisik anak perempuan itu.
Sang ayah terperangah mendengar jawaban anak perempuan kecilnya. Ia lalu memeluk erat-erat anak perempuannya dan meminta maaf.
Konon, orang-orang menceritakan bahwa pria itu selalu meletakkan kotak kado itu di pinggir tempat tidurnya sampai akhir hayatnya. Kapan pun ia mengalami kekecewaan, marah atau beban yang berat; ia membayangkan ada ribuan ciuman dalam kotak itu yang mengingatkan cinta anak perempuannya. Dan sesungguhnya kita telah menerima sebuah kotak emas penuh berisi cinta tanpa pamrih dari orang tua, istri/suami, anak, pasangan, teman dan sahabat kita.
“Tak ada yang lebih indah dan berharga dalam hidup ini selain CINTA.”
( from : Ana Lucia, A Little Girl and The Golden Box )
( disalin dari : Lonceng Kebayoran Hari Minggu Biasa II Tahun C, 14 Januari 2007 )
Jawaban Tuhan
Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal, terdampar di pulau yang kecil dan tidak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya dan setiap hari dia mengamati langit dan mengharapkan pertolongan; tetapi tidak ada sesuatupun yang datang. Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun sebuah gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai.
Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan; dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar dan asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, pria itu kehilangan semua miliknya. Dia sedih dan marah pada Tuhan dan berseru : “Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?” Dia menangis. Pagi-pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. “Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?”, tanya pria itu kepada penyelamatnya. “Kami melihat tanda asap yang berasal dari pulau ini,” jawab mereka.
Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan tetap bekerja di dalam hidup kita; juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, itu adalah “tanda asap” bagi kuasa Tuhan untuk bekerja. Ketika ada kejadian negatif terjadi dalam hidup ini, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.
Kamu berkata, “Itu tidak mungkin.” Tetapi Tuhan berkata, “Tidak ada hal yang mustahil bagiKu.” (Lukas 18:27). Kamu berkata, “Aku tidak mempunyai iman yang kuat.” Tetapi Tuhan berkata, “Aku memberi setiap orang iman menurut ukurannya.” (Roma 12:3).
( Disalin dari Lonceng Kebayoran Hari Minggu Biasa XXX, 29 Oktober 2006 )
Bersyukur
Ada cerita menarik tentang seorang kakek yang mengeluh karena ia tidak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tidak mempunyai kaki, tetapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tidak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa bahwa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri dan lebih kaya dari kita.
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu." Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini menjadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tetapi begitu lewat sel yang lain; ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya ke dinding dan berteriak, “Lulu, Lulu!” “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”
Hidup akan lebih bahagia jika kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapal yang ditumpanginya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia pun menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
( disalin dari : Lonceng Kebayoran, Hari Minggu Biasa XXII, 3 September 2006 )