|
|
|||
HASILKAN UANG DARI BLOG ![]() |
|
|---|---|
| DOWNLOAD FREE SOFTWARE ![]() |
DOWNLOAD FREE GAMES ![]() |
|
|
![]() |
![]() |
![]() |
|
|
|
|---|
SUKSESI HUTAN MANGROVE PULAU MARSEGU
Oleh : Irwanto, 2007
1. SUKSESI
Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-tumbuhan oleh yang
lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh
mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhan dapat tumbuh diatasnya, atau
suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitas dirusak oleh
suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan diganti oleh yang
lain (Daniel, et al, 1992).
Perubahan bersifat kontinu, rentetan
suatu perkembangan komunitas yang merupakan suatu sera dan mengarah ke suatu
keadaan yang mantap (stabil) dan permanen yang disebut klimaks. Tansley (1920)
mendefinisikan suksesi sebagai perubahan tahap demi tahap yang terjadi dalam
vegetasi pada suatu kecendrungan daerah pada permukaan bumi dari suatu populasi
berganti dengan yang lain. Clements (1916) membedakan enam sub-komponen : (a)
nudation; (b) migrasi; (c) excesis; (d) kompetisi; (e) reaksi; (f) final
stabilisasi, klimaks. Uraian Clements mengenai suksesi masih tetap berlaku.
Bagaimanapun sesuatu mungkin menekankan subproses yang lain, contohnya perubahan
angka dalam populasi merubah bentuk hidup integrasi atau perubahan dari genetik
adaptasi populasi dalam aliran evolusi.
Suksesi sebagai suatu studi orientasi
yang memperhatikan semua perubahan dalam vegetasi yang terjadi pada habitat sama
dalam suatu perjalanan waktu (Mueller-Dombois and Ellenberg, 1974). Selanjutnya
dikatakan bahwa suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses
suksesi terjadi. Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan
ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di
tempat komunitas asal, terbentuk habitat baru. Suksesi sekunder terjadi bila
suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu baik secara alami atau buatan dan
gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam
komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada.
Laju pertumbuhan populasi dan
komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian
menurun pada perkembangan berikutnya. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan
populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan
yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis
tertentu. (Marsono dan Sastrosumarto, 1981).
Soerianegara dan Indrawan (1988) menyebutkan dalam pembentukan klimaks terjadi 2
perbedaan pendapat yakni; paham monoklimaks dan paham polylimaks. Paham
monoklimaks beranggapan bahwa pada suatu daerah iklim hanya ada satu macam
klimaks, yaitu formasi atau vegetasi klimaks iklim saja. Ini berarti klimaks
merupakan pencerminan keadaan iklim, karena iklim merupakan faktor yang paling
stabil dan berpengaruh.
Paham polyklimaks mempunyai anggapan
bahwa tidak hanya faktor iklim saja, seperti sinar matahari, suhu udara,
kelembaban udara dan presipitasi, yang dapat menimbulkan suatu klimaks. Penganut
paham ini sebaliknya berpendapat bahwa ada faktor lain yang juga dapat
menyebabkan terjadinya klimaks, yaitu edafis dan biotis. Faktor edafis timbul
karena pengaruh tanah seperti komposisi tanah, kelembaban tanah, suhu tanah dan
keadaan air tanah. Sedangkan biotis adalah faktor yang disebabkan oleh manusia
atau hewan, misalnya padang rumput dan sabana tropika. Untuk golongan
poliklimaks hutan mangrove merupakan suatu klimaks tersendiri, yakni klimaks
edafis dengan kondisi tanah yang khusus.
2. HUTAN MANGROVE
Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut,
terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada
saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya
bertoleransi terhadap garam (Kusuma et al, 2003).
Kata mangrove merupakan kombinasi
antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove” (Macnae, 1968 dalam
Kusuma et al, 2003). Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk
komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk
individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.
Hutan mangrove dikenal juga dengan
istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa
Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia
Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau.
Penggunaan istilah hutan bakau untuk hutan mangrove sebenarnya kurang tepat dan
rancu, karena bakau hanyalah nama lokal dari marga Rhizophora, sementara hutan
mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya.
Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan hutan bakau sebaiknya
dihindari (Kusuma et al, 2003).
Mangrove tersebar di seluruh lautan
tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan
gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan
sempurna dan menjatuhkan akarnya. Pantai-pantai ini tepat di sepanjang sisi
pulau-pulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau pada pulau
massa daratan di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung (Nybakken,
1998).
3. SUKSESI HUTAN MANGROVE PULAU MARSEGU
Pulau Marsegu terletak di bagian barat Pulau Seram (Nusa Ina / Pulau Ibu) yang terkenal memiliki Taman Nasional Manusela. Secara Administratif pulau Marsegu termasuk dalam Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Pulau ini diberikan nama oleh masyarakat sebagai “Pulau Marsegu” karena mempunyai satwa Kelelawar yang begitu banyak. Kata Marsegu berasal dari bahasa daerah yang berarti Kelelawar.
Pulau Marsegu dapat dikatakan sebuah pulau karang, karena sebagian dari pulau
ini merupakan daerah berkarang. Di sebelah selatan pulau ini terdapat vegetasi
hutan mangrove sedangkan sebelah utara merupakan daerah hutan yang tumbuh di
atas karang. Sebelah barat laut merupakan daerah dinding karang yang berbatasan
dengan pantai dengan ketinggian antara 8–10 meter. Sedangkan arah timur laut
terdapat vegetasi hutan pantai yang mempunyai pantai pasir putih sepanjang 1720
meter. Di bagian utara pantai pasir putih terdapat zone Ipomea pescaprae
yang didominasi oleh Ipomea pescaprae dan Spinifex littoreus (rumput
angin). Lokasi ini merupakan tempat wisata yang menarik untuk menikmati
pemandangan laut dan menghirup udara pantai yang segar
Seluruh Daratan Pulau Marsegu masih
dipengaruhi suasana hembusan angin laut karena titik terjauh dari garis pantai
hanya berjarak 500 m. Pulau ini dikelilingi oleh terumbu karang yang
beranekawarna dan kaya akan potensi sumberdaya alam laut. Tipe pasang surut
daerah Pulau Marsegu merupakan semi diurnal (pasang semi harian) dimana terjadi
dua kali air pasang dan dua kali air surut dalam satu hari.
Salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya komunitas hutan mangrove Pulau Marsegu adalah gelombang air yang minimal karena dikelilingi oleh terumbu karang. Daerah yang berdekatan dengan terumbu karang dan sepanjang pantai berkarang, benih mangrove hanya dapat menyangkut dalam celah atau sisi pantai, mungkin hanya ada satu zone dari Rhizophora. (Van stennis dalam Monk et al. 1997).
Sketsa Hutan Mangrove Pulau Marsegu
Hutan mangrove pulau Marsegu dapat dibagi menjadi 3 zona; yaitu zona terdepan,
zona pertengahan dan zona belakang/terdalam. Bagian terdepan mangrove dikuasai
oleh spesies Rhizophora mucronata Poir, agak kedalam sekitar 20 - 30
meter Rhizophora mucronata Poir sudah bercampur dengan beberapa jenis
mangrove lain tetapi masih dalam jumlah relatif kecil. Jenis-jenis tersebut
adalah Rhizophora apiculata Blume, Sonneratia alba Smith,
Bruguiera gymnorrhiza Lamk, dan Bruguiera sexangula Poir, jenis-jenis
ini masih kalah bersaing dengan dominasi Rhizophora mucronata Poir. Bagian
tengah daerah mangrove didominasi berturut-turut oleh jenis Bruguiera
gymnorrhiza Lamk, Ceriops tagal CB Rob, Bruguiera sexangula
Poir, Rhizophora apiculata Blume dan Rhizophora mucronata Poir.
Bagian terdalam (tengah) didominasi oleh jenis Bruguiera gymnorrhiza Lamk,
Ceriops tagal C B Rob, Rhizophora apiculata Blume, Xylocarpus
moluccensis Roem dan Bruguiera sexangula Poir dengan diameter pohon
yang lebih besar.
Tanah pada
hutan mangrove berlumpur dan jenuh dengan air dan dapat dikatakan tidak
mengandung oksigen, dalam kondisi ini hanya beberapa tumbuhan yang dapat hidup.
Kebanyakan tumbuhan dalam hutan mangrove adalah “halofit”, yaitu tumbuhan
yang beradaptasi untuk tumbuh dalam habitat yang asin (Ewusie, 1990). Tumbuhan
bawah hutan mangrove Pulau Marsegu kadang-kadang ditemukan Acrostichum
speciosum.
Mangrove
tropika sering memperlihatkan zonasi spesies dari lahan basah ke lahan yang
lebih kering. Zonasi yang pertama sering terdiri dari Rhizophora atau Avicennia.
Bila Rhizophora memantapkan diri dalam laguna mulai terjadi suksesi, karena akar
tunjang pohon itu mulai menangkap partikel lumpur dan tumbuhan mati. Keadaan ini
menyebabkan penimbunan bahan seresah yang membantu meninggikan permukaan tanah
apabila tumbuhan Rhizophora tua mati, tempatnya sering digantikan oleh tumbuhan
daratan yang lebih lazim yang khas untuk daerah lingkungan laguna itu (Ewusie,
1990).
Proses Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu
Mangrove zone terdepan
|
|
|
|
Mangrove zone terdepan bagian timur Rhizophora mucronata Poir |
Mangrove zone terdepan bagian barat Perluasan daerah pertumbuhan Rhizophora mucronata Poir ke arah laut . |

Mangrove zone pertengahan
|
|
|
| Lumnitzera littorea Voigt | Bruguiera sp, Sonneratia sp |

Mangrove zone belakang / terdalam
![]() |
![]() |
| Rhizophora apiculata, Bruguiera sp, Ceriops sp, Xylocarpus sp | Rhizophora apiculata Blume |
|
|
|
| Bruguiera sp, Ceriops sp, Xylocarpus sp |
Ceriops sp, Bruguiera sp, Rhizophora sp |
Hasil
pengujian salinitas air yang terdapat di hutan mangrove menggunakan
refraktometer menunjukkan bahwa air pada zone terdepan/terluar mempunyai
salinitas yang hampir sama dengan air yang diambil dari zone bagian belakang/
terdalam hutan mangrove (40 ‰ dan 39 ‰). Ini berarti komunitas hutan mangrove
Pulau Marsegu terbentuk dengan salinitas yang tinggi, tidak terdapat sumber air
tawar (sungai) yang mengalir ke laut. Faktor ini dapat diketahui dengan jelas
bahwa daerah mangrove Pulau Marsegu tidak terdapat jenis Nypa sp, jenis yang
biasa tumbuh pada salinitas lebih rendah. Menurut Poedjirahajoe (1996a) Nypa
merupakan bagian vegetasi penyusun mangrove yang sering dijumpai di tepian
sungai lebih ke arah hulu.
Kandungan unsur hara pada habitat mangrove lebih tinggi terutama pada daerah
pertengahan dan bagian dalam, hal ini disebabkan bentuk perakaran mangove yang
beragam dapat menahan sedimen partikel lumpur. Perakaran mangrove mempengaruhi
peningkatan ketebalan lumpur, Bahan Organik, Nitrogen (total), Phospat (tersedia),
Kalium (tersedia) dan suhu (Poedjirahajoe, 1996b).
Bila dibandingkan keanekaragaman jenis hutan mangrove dengan komunitas hutan
yang ada di pulau Marsegu, keanekaragaman jenisnya sangat rendah. Hal ini disebabkan tumbuhan yang hidup di
daerah ini harus beradaptasi dengan genangan air laut dan salinitas yang tinggi.
Jenis vegetasi mangrove mempunyai bentuk khusus yang menyebabkan mereka dapat
hidup di perairan yang dangkal yaitu mempunyai akar pendek, menyebar luas dengan
akar penyangga atau tundung akarnya yang khas tumbuh dari batang dan atau dahan.
Akar-akar dangkal sering memanjang yang disebut ”pneumatofor” ke
permukaan subtrat yang memungkinkan mereka mendapatkan oksigen dalam lumpur yang
anoksik dimana pohon-pohon ini tumbuh. Daun-daunnya kuat dan mengandung banyak
air dan mempunyai jaringan internal penyimpan air dan konsentrasi garamnya
tinggi. Beberapa jenis tumbuhan mangrove mempunyai kelenjar garam yang menolong
menjaga keseimbangan osmotik dengan mengeluarkan garam (Nybakken, 1988).
DAFTAR PUSTAKA
Clements, F.E. 1916. Plant Succession. An Analysis of The Development of Vegetation. Carnegie. Inst. Washington.
Daniel, Th.W., J.A. Helms, F. S. Baker., 1992, Prinsip-Prinsip Silvikultur (Edisi Bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh : Dr. Ir. Djoko Marsono), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ewusie, J. Y, 1990. Ekologi Tropika. Membicarakan Alam Tropika Afrika, Asia, Pasifik dan Dunia Baru. Penerbit ITB. Bandung.
Hogarth. P. J. 1999. The Biology of Mangrove. Oxford. University Press Inc. New York.
Kusuma, C, Onrizal dan Sudarmaji, 2003. Jenis-Jenis Pohon Mangrove di teluk Bintuni, Papua, Diterbitkan atas kerjasama Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan PT. Bintuni Utama Murni. Wood Industries. Bogor.
Marsono, Dj. dan Sastrosumarto, 1981. Pengaturan Struktur, Komposisi dan Kerapatan Tegakan Hutan Alam dalam Rangka Peningkatan Nilai Hutan Bekas Tebangan HPH. Makalah Lokakarya Sistem Silvikultur TPI di Bogor. Bogor.
Monk, K.A, Y. de Fretes and G. R. Lilley, 1997. The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. Periplus Editions (HK) Ltd. Singapore.
Mueller-Dombois, D. and H. Ellenberg, 1974, Aims and Methods of Vegetation Ecology, John Wiley & Sons, New York.
Nybakken, J.W, 1998. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta.
Poedjirahajoe, E. 1996a. Struktur dan Komposisi Vegetasi Mangrove di Kawasan Rehabilitasi Mangrove Pantai Pemalang. Buletin Penelitian Kehutanan No. 29/1996. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Poedjirahajoe, E. 1996b. Peran Perakaran Rhizophora mucronata dalam Perbaikan Habitat Mangrove di Kawasan Rehabilitasi Mangrove Pantai Pemalang. Buletin Penelitian Kehutanan No. 30/1996. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
== FOTO MANGROVE PULAU MARSEGU ==
|
MANGROVE CENTRE INDONESIA |
LABLINK INDONESIA |
LAHAN BASAH ECOTON |
|
|
PAPER MANGROVE |
MASUK BUKU TAMU
LIHAT BUKU TAMU