9. Friday, 12 Mei 2000

By : Ridwan Malawi

Assalamu 'alaikum War. Wab.

Tulisan berikut ini di forward oleh salah seorang teman saya dari Jakarta, Rudi Hindartowo, tentang persahabatan sejati.

Semoga memberi manfaat bagi kita semua.

Wassalam, Ridwan Malawi

Persahabatan Sejati

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Al-Ghazali mengutip kisah seorang alim bernama Alqamah yang berwasiat kepada anaknya tentang arti persahabatan hakiki :"Wahaianakku, jika engkau perlu berteman bertemanlah dengan orang yang jika engkau membelanya, ia pun melindungimu. Jika engkau berbuat baik padanya, iapun membalasnya. Jika engkau berbuat dosa,iapun berusaha mencegahmu. Bertemanlahdengan orangyangjika engkau meminta sesuatu, ia memberi. Jika engkau diam, ia menyapamu, jika engkau mengalami musibah, ia menolongmu. Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berkata kemudian ia membenarkanmu dan menasehatimu. Dan jika kalian bertengkar, ialebih mengutamakanmu."

Jauh sebelum Alqamah mengatakan demikian,RasulullahSAW dengan para sahabatnya, terutama kaum Anshar telahmemberikan sebuah contoh sejauh mana seharusnya manusia bersahabat dalam kebaikan. Contoh tersebut digambarkan dengan dipersaudarakannya para sahabat Muhajirin dan Anshar. Sebuah hubungan persaudaraan yang tak akan bisa kita temui dengan mudah dizaman sekarang. Bagaimana seorang sahabat Anshar, dalam sebuah riwayat disebutkan, rela dan ikhlas memberi setengah hartanya. Ada solidaritas yang luar biasa tingginya dalam hubungan ini.

Di zaman yang penuh persaingan seperti saat ini mungkinkah hubungan-hubungan ajaib itu bisa kita temui? Di mana kawan seiring saling jegal, hanya untuk mendapat simpati dari atasan. Di mana seorang teman tak segan-segan menggunting dalam lipatan hanya untuk mendapatkan pujian dari atasan. Dengan kesadaran penuh ia mencoba untuk memojokkan saudara seiman hanya karena ingin dekat dan mendapat sanjungan dari atasan.

 

Jika melihat hal demikian, pertanyaan mungkinkah persaudaraan yang luar biasa seperti para sahabat Anshar dan Muhajirin bisa terwujud lagi, semakin terasa sulit terwujudkan. Meski demikian, sikap pesimis tidak selayaknya tumbuh dan berkembang. Bukan tidak mungkin, karena Allah maha mampu atas segalanya. Ia dengan mudah mempertautkan dua hati dalam satu cinta. Tentunya dengan persyaratan-persyaratan yang diantaranya disebutkan oleh Alqamah di atas.

Kriteria teman atau sahabat yang ditulis oleh Alqamah tidak berlaku untuk satu pihak saja. Melainkan kedua belah pihak yang ingin menjalin persahabatan. Singkatnya, seorang muslim itu haruslah mempunyai sifat simbiosis mutualistis, saling menguntungkan.

Jika masing-masing pihak saling merasa ingin memberikan yang terbaik, itulah seorang muslim. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, "Sesungguhnya saudara yang sebenarnya adalah yang selalu bersamamu, dan merugikan dirinya untuk memberi manfaat kepadamu. Dan apabila terjadi musibah, ia mendatangimu dan, ia korbankan dirinya untuk menolongmu."

Hal yang sama juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, seperti dalam sebuah hadist bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya laksana satu tubuh. Jika satu bagian merasa sakit, maka bagian lainnya pun merasakanhal yang sama. Lalu bagaimana dengan seorang yang selalu saja merasa belum lengkap harinya jika belum mengabarkan aib saudaranya? Tak perlu berpanjang lebar menjelaskan hal yang demikian. Ada sebuah hadist yang menjelaskan bahwa bukan seorang yang beriman jika tetangga, teman, dan orang-orang yang dekat dalam lingkungan belum merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya. Persaudaraan yang hakiki, tercipta bukan lantaran ikatan darah atau suku dan golongan tertentu.

Persaudaraan hakiki adalah sebuah ikatan batin, ikatan emosional dan perasaan, juga kesamaan pemikiran. Dan salah satunya yang mampu membangun ikatan-ikatan tersebut adalah sebuah ideologi, keyakinan, kepercayaan, cita-cita dan lebih tinggi lagi adalah keimanan.

Nilai-nilai moral dalam Islamlah yang akhirnya mampu menyambung sebuah tali persaudaraan berdasarkan keimanan. Allah SWT berfirman, "Dan (Dia) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya tidak mau bersahabat dengan orang yang masih menisbathkan benda pada dirinya seperti "sandalku". Masruq memiliki hutang, sementara saudaranya bernama Khaitsamah juga memiliki hutang.

Suatu ketika Masruq pergi membayar utang Khaitsamah tanpa sepengetahuannya, dan Khaitsamah pun pergi membayar hutang Masruq tanpa sepengetahuannya. Di antara generasi salafushalih ada yang mencari orang untuk dijadikan tanggungannya selama empat puluh tahun setelah kematian orang tuanya. Ia memenuhi keperluan mereka, dan mendatangi mereka setiap hari seraya memberi harta sehingga mereka tidak merasa kehilangan orang tua mereka kecuali jasadnya saja. Salah seorang di antara mereka biasa mendatangi rumah saudaranya seraya bertanya, "Apakah kamu punya minyak? Apakah kamu punya garam?" dan sebagainya. Wajar saja bila Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT berfirman, "Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang yang saling berkorban karena-Ku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang yang saling membela karena Ku." (HR. Ahmad dan Hakim, ia menshahihkannya).

Demikianlah implementasi firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang mu'min itu

bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10).

Persaudaraan sejati yang lahir dari keimanan. Bohong saja jika seorang mengatakan beriman tapi setiap hari ia selalu saja mengorek aib saudara muslimnya. Omong besar saja, jika seseorang mengatakan bahwa ia telah beriman, tapi dendamnya, kemarahannya dan kebenciannya pada saudaranya seiman tak pernah hilang.*

Dan Dirikanlah Shalat, Sesungguhnya Shalat itu

Mencegah (Kita) dari Perbuatan Keji dan Munkar

(QS. Al

Ankabut:45)