pojok
::
 

Puisi-puisi Ismail Muridan

 

Berkata Janin Kita (!)


Bapak, aku bukan durhakamu
karena istri yang mengandung kesejatian lelakimu,
adalah buah fajar
yang menaikimu ke pelana sembrani
dalam pengorbanan bersama ibuku
dan membawa ke Bukit Tursina
hingga pohon-pohon zaitun dalam kobaran-Nya
lalu kita saling bercengkerama

Ibu, ngidammu adalah azan yang berseru
dari surau-surau kaum tua
meski manisan mangga muda menyentuh lidahku
yang terjulur menanti qomat lelakimu
bahkan sorga di telapakmu

Tinggal enam purnama lagi tangisku
membunuh kebimbangan sebab kebimbangan
bukan milik perempuan dan lelaki pada sajaknya.

Gg. Kenari, 4 September 2002

---------------------------------------------------------
Perempuan dan Lelaki pada Sajaknya

Sepasang pengantin muda membaca langit-langit kamar,
ketika rembulan memucat pasi takuti bayi.
Tangan lelaki berulang-ulang mengelus perut perempuannya
yang setengah membukit. Menanar matanya separuh jarum jam.
Dan berkata: "Tidurlah, Dik, penglihatan tak perlu menonton kegelapan yang buta. Tapi sunyi telah menyembah-Nya ."
Perempuan pun membaca sunyi lelakinya. Pada perutnya ia simpan semuanya. Di mana kalimat-kalimat kebenaran dan kemanusiaan mengalir dari ketuban.
"Dia yang sesungguhnya manusia benar, antara kemanusiaan dan kebenaran itu," bisik lelakinya.
"Kak, dia mengusap perutku meminta Qur'an dengan tangan kanannya. Katanya ia akan membacanya buat kita agar setan tak menjilat langit
di jagat fana."
Lelakinya merengkuh malam. "Dik, coba lihat dia bersujud di rahimmu ketika kita lalai berserah. Mungkinkah kopiah lusuh itu durhaka bapak pada anaknya (?)"
Keduanya mengikat desir angin yang anggun. Tentang janinnya yang akan tumbuh menjadi sajak,
yang  mengeringkan samudera dengan hemoglobin para nestapa
dalam pena yang bermata tajam. Bukankah sajak tak mampu mengubah apapun, kecuali melahirkan tali-tali pusar yang mengikat berita-berita alam baru. Lalu ia digulung menjadi koran sore, dibundel seperti Namruj yang membakar Ibrahim.
"Jangan mati, Sajakku, sebelum para fakir, gelandangan,
pengemis dan pelacur mulia sekarat bersamamu. Sebab ayunan Tuhan melelapkanmu," igau perempuannya.

Gg. Kenari, 4 September 2002

---------------------------------------------------------
Papan Sakkan dalam Kubur


Hikayat tentang ayahnya yang mati
untuk sembilan anak satu isteri
yang disantet dengki;
dan para dukun pembuat pulung api
di muka pintu

Pada tahun keempat kematian ayahnya
Cakar kecil bertulang pipih mengais tanah leluhur
dengan mangkok plastik made-in indonesia
tak cukup mengayak
tapi pasir hitam seperempat kaleng susu nona di tangannya
babak bingkas oleh hantu lelab yang mengaum
tentang peraturan dan undang-undang Negeri Hantu:
"ia telah mengoyak mayapada!"
yang lain berucap :
"Liar, liar. Hak kita dijarah (.........) !

Ceramah pun membungkal dendamnya
dengan mantera-mantera suci
menyumpal perut keperihan

Kemudian dipaksa menemui ayahnya,
bercerita tapi tak ada dongeng tujuh papan
Ia tak berjasad manakala timah hampa
(sebab tanah negeri dikibuli)
mana ada yang peduli bocah dekil di papan sakkan

Pantai Batu Belubang, 2001-2002

---------------------------------------------------------

Laut Telah Mati
buat alm. briptu p. yanto


badai yang mengering di selat adalah kepulangannya
barangkali pula angin lebih suka
mengeja pelurupeluru
yang membutahuruf
dan mengiris bunga tujuh rupa
untuk ditaburkan pada ziarahnya

dan buritan
telah ingatkan haluan tentang
harumnya jasad Kresna
atau pada Srikandinya dengan tiga anak panah
yang siap melesat ke kapalkapal bermata satu

lelah airmata
acap menggarami samudera
seperti ketika dia pergi
pun laut telah mati

Pangkalpinang, September 2002

---------------------------------------------------------

Pengantin Semut Hitam

seekor semut hitam terbaring sendiri
di springbed bersprei pengantin tanpa noktah
ada lesu yang mengajaknya pergi
membawa perutnya yang bunting
karena gula yang pernah dihibahkan kepada pejantan
tak bersisa

semut hitam betina jadi pengantin sendirian
mencumbui bulan sabit di lorong gelap

Pangkalpinang, September 2002

---------------------------------------------------------
Harga Sebelah Susu (1)

perempuan di seberang akan selalu
bertanya pada malamnya
tentang sepucuk surat yang dikirimkan
untuk bayinya yang telah bosan menunggu

perempuan di seberang akan selalu
berkidung pada sunyinya tentang gerimis putih
yang membuat demam tubuh bayinya

perempuan di seberang akan selalu berbisik
pada lelakilelaki jantan tentang harga susu yang berguncang
katanya : "sssst, tetekku sudah kering kerontang."

Pangkalpinang, September 2002

---------------------------------------------------------

Harga Sebelah Susu (2)

malam itu ada orok yang menerima suratpos kilat dari ibunya
"anakku, meneteklah dengan puisi
agar kau menjadi aku yang tak pernah
merasakan susu nenekmu
sebab sebelah susu telah terjual."

Pangkalpinang, September 2002

---------------------------------------------------------


pipit

selalu ada rindu ketika matahari mengejar angin selatan

malam yang berpijar di kotaku tak punya arti apaapa, selain jejak yang terangkum
dalam kecupan yang tak kulupakan

biarpun kau sayat rembulan jadi sepotongsepotong lalu terkubur di pusara kuning.
toh, malam akan membuat kesaksian atas peraduan
tentang ludah yang kau siram sepanjang muaraku lalu mengalir alibi tentang cinta.
santunnya; kau-aku telah membuat sarang dengan ludahludah
apaguna?

melupakan kenangan adalah membunuh cinta sejati

kemarilah pit ...
hinggaplah didekatku agar bulan yang menyabit menyelimuti sarangmu

berilah aku sebelah sayap
lalu kita membumbung ke tengah langit
agar tak ada yang bertanya tentangmu tentangku
sebab,
selalu ada malam dalam tiap puisi yang ku tulis untukmu
selalu ...

Batu Belubang, 14 Februari 2004

---------------------------------------------------------
bapak bantji

malam lekas benar kelam
tapi orangorang masih bertanja
ada djoega jang mentjari
dimana bapaknja tidoer

kotakota moelai gadoeh
seorang botjah mentjari bapaknja
bertanja kepada siapa sahadja
“bapakkoe entah kemana, siapa ada melihatnja?”

“doeloe di balaikota.”
“pernah djoega di pendopo.”
“sama.”
“apanja?”
“tidoernja.”

seorang botjah ketjil mengepit beha
di ketiaknja
mengitari tamankota
katanja mentjari bapaknja
jang dapat beli bbm dengan beha

botjah ketjil ditertawai
“memangnja bapakmoe parlemen?”
“atawa kepala minjak?”

tapi botjah ketjil tak hiraoe
ia moesti tjari bapaknja
sampe ketemoe
sebab ia taoe
bapaknja amat sangat berhormat

laloe orangorang laen pada djoega bertanja
“bapakmoe presiden, goebernoer atawa boepati?”

“boekan, bapakku bantji.”

---------------------------------------------------------

Aku yang tersisa

serpihan malam yang tersisa tadi senja
bersamaku
ketika semua beranjak pergi
tak ada yang sempat membawanya
kecuali rintik hujan di mantelmantel berbulu

walau aku tak pernah tau
puisi apa yang dibuatnya
pada tiaptiap malammu
pada hatimu yang selalu saja bertelaga
setiap aku membawa dia padamu
sebab kita – kau, dia dan aku – saling cinta

---------------------------------------------------------

dari sebuah te-pe-es


dari sebuah te-pe-es
dekat surau kampung

aku melihat anakanak kecil melukis bunga, mobil, pesawat
ada juga gambar orangorang yang tak dikenal
tapi mereka ingat
orangorang dalam gambarnya pernah membual di depan ayah-ibunya
akan membangun sekolah teka, taman bermain

dari sebuah te-pe-es
dekat gedung esde
aku mendengar para petugas berbisik
“bilang mereka jangan salah tusuk,
pastikan gambarnya tampan seperti aktor,
wibawa seperti presiden,
parlente karena memang banyak duit hasil ...”

lakilaki dengan label ketua kpps dilengannya
menyilangkan telunjuk dibibirnya
“ssssttt .... yang itu rahasia orangorang kita,
apa kamu dak mau dapet duit?”
“siap, pak ketua!!”

dari sebuah te-pe-es
dekat kelenteng tua
orangorang bicara soal kelenteng yang baru renovasi
katanya biaya dari calon yang gambarnya terdapat di kertas suara
“dia yang membantu pemugaran kelenteng kita,
beberapa hari lalu dia kasih persekot
sisanya akan dilunasi setelah dia menjabat,” ujar lelaki berkaos oblong
bergambar calon yang gambarnya sama persis dengan yang terdapat di kertas suara
lelaki lain menimpali,”oooh, dia beramal untuk kita pilih.”

dari sebuah te-pe-es
dekat gubuk reot
satudua orang duduk dan berdiri
menatap satusatu anggota kpps
“kita ini siapa ya,
jangan sampai milih calon yang pakai anggaran pemerintah
buat bantu tim suksesnya.”
“iya, calon yang gambarnya terdapat di kertas suara itu dulunya pernah jadi pemimpin kita sementara. dia nyalon biar kepilih lagi. kamu mau milih?”
orangorang – tidak cuma satudua orang – tapi semuanya, menggeleng serempak
lalu pulang membawa undangan pemilihan
membawa mimpi entah apa yang akan dimakan anak-bininya esok hari


dari sebuah te-pe-es
entah di mana
aku mengenang sudah berpuluh abad mengelana
tapi tak pernah mengerti politik dagang sapi
duh, sabunsabun di warung kelontongpun ludes
calon bupati atau calon koruptor yang membelinya

dari sebuah te-pe-es
aku menusuk gambar nasibku sendiri


 

by: ismail muridan

 

Create a free website at Webs.com