ketupat
::
 

Perang Ketupat Aspek Wisata

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung H.A. Hudarni Rani, Minggu (10/9) di Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat menekankan, pesta adat Perang Ketupat merupakan aspek wisata yang menjadi agenda tahunan sektor pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Diingatkan, pesta adat ini dapat dikemas dalam bentuk kegiatan pariwisata yang lebih menarik dengan mengedepankan pelestarian adat-istiadat daerah di tengah-tengah masyarakat. Sehingga pada gilirannya diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi PAD dengan menarik minat wisatan berkunjung ke Kepulauan Bangka Belitung.
Setidaknya pada tahun 2005 kunjungan wisatawan ke babel mencapai 77.579. Sedangkan hingga Juli 2006 lalu sedikitnya 39.651 orang mengunjungi kabupaten bangka, pangkalpinang, belitung dan belitung timur. Arus kunjungan ini sebagai dampak banyaknya digelar wisata budaya seperti pesta adat.
Pesta Perang Ketupat yang digelar pada pertengahan bulan Syakban itu merupakan tradisi rutin masyarakat Tempilang dalam membersihkan kampung dari marabahaya dan mensyukuri nikmat Sang Pencipta.
Ritual awal adalah upacara penimbong dengan meletakan sesajian di atas penimbong (rumah-rumahan dari kayu mentangor). Hal itu diiringi dengan rentak tari campak, serimbang, seramo dan kedidi. Diteruskan dengan upcara ngancak (memberi makan makhluk halus) pada malam harinya.
Acara puncak digelar esok harinya diawali persembahan tarian serimbang untuk menyambut kehadiran para tamu-tamu penting. Sebelum berlangsung Perang Ketupat, dua orang dukun berhadapan merapal mantera dan doa. Sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat peralatan persembahan beserta dupa yang menebarkan aroma kemenyan. Selanjutnya kedua dukun saling lempar ketupat yang diteruskan dengan dua kelompok saling berhadapan. Saat itulah perang ketupat dimulai.
Sementara di rumah-rumah penduduk terhidang kue-kue di atas meja. Para tamu yang bersilaturahmi dipersilahkan untuk mencicipi kue-kue itu, kemudian dihidangkan pula makanan ketupat-lepat beserta laut pauk. Tradisi ini kerap dilakukan pada saat lebaran, dan menjadi tradisi rutin tahunan yang dimulai dengan upacara nganggung (membawa makanan ke masjid untuk disantap secara berjamaah). ®


 

by: ismail muridan

 

Create a free website at Webs.com