<<700 | 701-710 | 711-720 | 721-730 | 731-740 | 741-750 | 751-760 | 761-770 | 771-780 | 781-790 | 791-800 | 801>>
| Nomor | Tanggal | Judul |
| 701 | 6 November 2005 | Bulan Ramadhan Dikunci oleh 'iyd al-Fithri dan Menegakkan Syari'at Islam |
| 702 | 13 November 2005 | Motto IMMIM vs Relativisme Epistemologis |
| 703 | 20 November 2005 | Menegakkan Benang Basah |
| 704 | 27 November 2005 | Anak Yatim dan Orang Miskin |
| 705 | 4 Desember 2005 | Gayung Bersambut, Kata Berjawab |
| 706 | 11 Desember 2005 | Sepuluh Ribu dari Faran |
| 707 | 18 Desember 2005 | Melayari Laut dalam Konteks Nilai Sub-Kultur Bugis Makassar |
| 708 | 25 Desember 2005 | Fenomena Alam Dijadikan Perumpamaan |
| 709 | 8 Januari 2006 | Genderisme yang Kebablasan |
| 710 | 15 Januari 2006 | Perempuan Berjihad yang Bersih dari Genderisme |
Alla-hu Akbar 2x, laa ila-ha illaLla-hu
Alla-hu Akbar 2x, wa liLla-hilHamd!
Maha besar Allah! Di tanganNya tergenggam segala kekuasaan dan keadilan.
DitinggikanNya hambaNya yang taat. DirendahkanNya mereka yang asyik dalam
ma'shiyat. Tercurah pahala kepada mereka ahli puasa, tertindih penyesalan bagi
mereka yang melalaikan puasa. Hebat sungguh kalimah Takbir ini, sampai menyentuh
hati dan membuai perasaan, menimbulkan nostalgia masa lampau. Terbayang wajah
orang tua, kasih sayang ayah bunda. Mereka berdua telah bersusah payah mengasuh
kita dalam keadaan masih kecil dan lemah. Lalu diberinya kita nama sehingga kita
dikenal, dididiknya, sehingga kita menjadi besar dan dewasa dengan berbagai
sebutan kehormatan di tengah-tengah masyarakat pergaulan. Ya, Ila-hi,
curahkanlah kasih sayang kepada keduanya seperti mereka memelihara dan mengasuh
kami semasa kecil. Sungguh belum apa-apa bakti yang telah sempat kita tunaikan
kepada kedua orang tua kita, ketimbang curahan kasih sayang keduanya kepada
kita. Kepada guru-guru kita, kepada masyarakat sekeliling kita, mereka semuanya
telah berjasa membentuk kita menjadi manusia.
Bulan suci Ramadhan sudah berlalu. Bulan yang telah dianugerahkan Allah sebagai
pinjaman sekali setahun kepada hambaNya. Betapa tidak, bukankah di dalamnya
terletak kewajiban ibadah puasa?
-- FMN SyHD MNKM ALSyHR FLYShMH (S. ALBQRt, 2:185), dibaca: faman syahida
mingkumusy syahra falyashumhu, artinya: Barangsiapa yang menyaksikan di antara
kamu bulan (Ramadhaan) itu, maka berpuasalah. Ibadah puasa yang menjadi
pembentuk jiwa yang ikhlas, penempa jujur dan perangai yang mulia, pengikis
riya, pembersih dari semua akhlaq yang rendah. Bukankah ibadah puasa yang
mengangkat derajat insan beriman ke derajat yang lebih mulia, yaitu derajat
taqwa?
-- YAaYHA ALDzYN AMNWA KTB 'ALYKM ALShYAM KMA KTB ALDzYN MN QBLKM L'ALKM TTQWN
(S. ALBQRt, 2:183), dibaca: ya-ayyuhal ladzi-na a-manu- kutiba 'alaikumush
shiya-mu kama- kutiba 'alal ladxi-na ming qablikum la'allakum tattaqu-n,
artinya: Hai orang-orang beriman, telah diwajibkan atasmu berpuasa, seperti
telah diwajibkan atas mereka sebelum kamu, supaya kamu taqwa.
Taqwa yang memberikan bekas di dalam jiwa. Taqwa yang melahirkan potensi
sifat-sifat yang baik, yang dapat menumbuhkan kemampuan untuk mengendalikan diri
dari segi negatifnya penguasaan dan perebutan serta ketamakan dalam bidang harta
dan ekonomi. Taqwa yang menumbuhkan potensi mengendalikan diri dari
kecenderungan kepada demoralisasi. Taqwa mampu menghiasi tingkah laku kita dalam
pergaulan sesama manusia.
Ya, para Muttaqin, mereka yang senantiasa mensyukuri karunia ni'mat Ila-hi
dengan membayarkan zakatnya, mengeluarkan infaq dan sadaqahnya kepada kaum yang
lemah, dhu'afa, fukara dan masaakin di tengah-tengah manusia tamak egois. Mereka
yang senantiasa terpelihara dari segala macam malapetaka. Bukankah taqwa yang
akar katanya dibentuk oleh huruf-huruf : Waw, Qaf, Ya, berarti terpelihara?
Mereka inilah yang menikmati 'IydulFithri. Mereka inilah yang telah mempunyai
kemampuan menaburkan kegembiraan dan kebahagiaan di perladangan hidup ini.
Allahu Akbar, alangkah ni'matnya 'IydulFithri.
Bulan Ramadhaan, bukankah di dalamnya itu dinuzulkan Al-Quran menjadi:
-- HDY LALNAS WBYNAT MN AKHDT WALFRQAN (S. ALBQRt, 2:185), dibaca: hudal
linna-si wabayyina-tim minal huda- wal furqa-n, artinya: petunjuk manusia,
keterangan nyata dari petunjuk itu dan Al-Furqan.
Al-Quran petunjuk bagi manusia bermakna bahwa manusia itu baik sebagai makhluk
individu maupun makhluk sosial membutuhkan petunjuk Al Quran, jika menginginkan
kehidupan yang selamat di dunia menuju akhirat. Sebagai makhluk individu
dibutuhkan petunjuk yang strategis yaitu aqidah dan petunjuk yang taktis yaitu
ajaran akhlaq. Sebagai makhluk sosial di butuhkan petunjuk yang bersifat
operasional yaitu hukum-hukum syari'at. Aqidah, akhlaq dan hukum-hukym syari'at
dipelihara kemurniannya dengan "yatafaqqahu fiddiyn":
-- FLWLA NFR MN KL FRQT MNHM THA^FT LYTFQHWA FY ALDYN (S ALTWBt, 9:122), dibaca:
falawla- nafara ming kulli firqatim minhum tha-ifatal liyatafaqqahu- fid di-ni,
artinya: mengapakah tidak sebagian di antara mereka yang tinggal berfiqh
(memahami) addin. Makanya jangan pandang enteng ulama fiqh, hai Ainun Najib dan
Gus Dur.
Al-Furqan maknanya pemisah antara yang haq dengan bathil. Berasal dari akar kata
yang dibentuk oleh Fa, Ra, Qaf, artinya membelah, memisahkan, ibarat pisau yang
membelah sebuah bongkah menjadi dua bagian yaitu bagian positif (baik, benar)
dengan yang negatif (buruk, salah).
Al-Quran dalam fungsinya sebagai Al-Furqan berhubungan dengan petunjuk yang
taktis, yaitu pembinaan akhlaq. Seorang muslim harus tahu betul mana yang
positif, mana yang negatif, yaitu antara benar dengan salah, baik dengan buruk,
adil dangan zalim, istiqamah dengan munafik, menyejukkan dengan meresahkan,
sabar dengan beringas, sopan dengan brutal, lemah lembut dengan vulgar, terpuji
dengan tercela, rendah diri dengan arogan, membujuk dengan menterror, mau
mendengar pendapat orang lain dengan memaksakan kehendak, tasamuh dengan tidak
toleran, jujur dengan curang, ikhlas dengan ada pamrih, cermat dengan ceroboh,
menolong dengan mencelakakan, bermanfaat dengan merugikan, membangun dengan
merusak, menghormati dengan melecehkan, beradab dengan jahil/biadab.
Kombinasi petunjuk yang strategis yaitu aqidah dan petunjuk yang taktis yaitu
ajaran akhlaq, serta petunjuk yang bersifat operasional yaitu hukum-hukum
syari'at, diaplikasikan dalam membumikan Nilai Wahyu di atas bumi Indonesia.
Yaitu mentransfer Nilai Wahyu sebagai rahmatan lil'alamiyn menjadi konsep dasar
dalam menyusun sistem politik, ekonomi, dan pemerintahan. Itulah yang kita kenal
selama ini dengan menegakkan Syari'at Islam. Dengan tegaknya Syari'at Islam
dapatlah dibumikan Nilai Wahyu yang berwujud hukum positif, menjadi peraturan
perundang-undangan dalam Negara Republik Indonesia. Itulah hakekat Penegakan
Syari'at Islam di bumi Indonesia yang kita cintai ini untuk merealisasikan Islam
sebagai rahmatan lil'a-lamiyn. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 6 November 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Belum lama ini, ada sebuah buku yang terbit yang membahas tentang Pluralisme.
Judulnya sangat indah: "Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam". Penerbitnya didanai
oleh Ford Foundation. Paham Pluralisme Agama merupakan proyek yang sangat mudah
menyedot dana dari lembaga asing yang bergelimang uang seperti Ford Foundation.
Fatwa MUI sudah menjelaskan tentang definisi paham ini dengan lugas dan jelas.
Yakni, menurut MUI, Pluralisme Agama yang difatwakan haram hukumnya itu, adalah
suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya
kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama
tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar.
Para penyebar paham ini seperti tidak perduli dengan kerusakan berpikir dan
kerusakan iman yang disebabkan oleh paham Pluralisme Agama utamanya dalam hal
relativisme epistemologis. Maksudnya, pada wilayah ini maka yang selayaknya
menjadi pegangan adalah bahwa kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolut.
Kita dapat mengetahui kebenaran hanya sejauh itu absah bagi kita. Artinya,
kebenaran yang selama ini kita pahami tak lain adalah kebenaran sepihak. (hal.
58).
Rektor UIN Jakarta, Azyumardi Azra, dalam buku ini, mengungkap tentang konsep
"Islams" (banyak Islam). Keceknya, Islam itu memang pluralis, Islam itu banyak,
dan tidak satu. Kata Azra: "Memang secara teks Islam adalah satu tetapi ketika
akal sudah mulai mencoba memahami itu, belum lagi mengaktualisasikan, maka
kemudian pluralitas itu adalah suatu kenyataan dan tidak bisa dielakkan." (hal.
150).
Uzair, eh Azra menunjuk pada contoh perbedaan pemahaman di antara para imam
mazhab dalam memahami Al-Quran dan hadits. Ia juga menegaskan bahwa Al-Quran
sekalipun bisa disebut punya bias kultural. "Kenapa Al-Quran harus dengan
berbahasa Arab, bukan berbahasa Indonesia, bahasa Jawa? Dan ketika Al-Quran itu
di-frame, disampaikan kepada manusia, dalam hal ini orang Arab, maka ketika
itulah kerangka cultural Arab juga masuk." (hal. 150-151).
Cara berpikir relativisme dengan alat hermeneutika semacam itu, apakah itu
benar? Tentu saja produk hermeneutika itu tidak benar dan jelas-jelas salah.
Cara berpikir relativisme dengan memakai tool hermeneutika ini muncul dari cara
pandang yang salah, yang menyamakan antara Islam sebagai agama wahyu dengan
agama-agama lain yang tumbuh dari kultur manusia. Cara berpikir Rektor UIN
Jakarta itu juga salah dilihat secara epistemologis, pelurunya ibarat bumerang
dikembalikan kepadanya.
Kepada para santri Pesantren Pendidikan Al-Quran IMMIM diajarkan:
-- "Bersatu dalam 'Aqidah, toleransi dalam Khilafiyah-Furu'iyah." Azra
mengabaikan klasifikasi 'Aqidah dengan Khilafiyah-Futu'iyah. Karena Islam adalah
agama wahyu, maka tafsir dan pemahaman terhadap Islam dan Al-Quran ada yang
bersifat tetap (tsawabit) dan ada yang berubah (mutaghayyarat). Tafsir juga ada
yang qath'iy dan ada yang zhanniy, yang ijtihadi. Ada yang sama dan ada yang
berbeda, tanpa pandang latar belakang kultural penafsir. Semua penafsir al-Quran
akan sama dalam memahami dan menafsirkan ayat `Qul HuwaLla-hu Ahad`. Bahwa,
Allah adalah satu. Bukan tiga, atau tiga dalam satu. Semua mufassir akan
memahami seperti itu, di manapun dia berada dan di waktu kapanpun ia hidup,
serta apa pun latar belakang kebangsaan dan budayanya. Bahwa para mufassir itu,
akan sama berpaham bahwa ibadah haji harus dilakukan di Tanah Suci, bukan di
Washington atau Moskwa. Yang berbeda, yang plural adalah dalam hal yang zhanni,
yang ijtihadi, yang Khilafiyah-Furu'iyah.
Karena itu, sepanjang sejarah Islam, masalah perbedaan kultural tidaklah
dijadikan sebagai hal yang signifikan. Para mufassir dan ulama Islam dari
berbagai belahan dunia memahami Al-Quran dengan cara yang sama untuk hal-hal
yang pokok dalam Islam. Imam Bukhari bukanlah orang Arab, tetapi cara
pemahamannya terhadap Islam sama dengan Imam Syafi'i yang Arab. Menyatakan bahwa
Islam itu banyak, dengan contoh perbedaan fiqhiyyah di kalangan Imam Mazhab yang
dicontohkan oleh Rektor UIN Jakarta tersebut, adalah hasil kesesatan berpikir
secara 'Aqidah dan kesalahan telak secara epistemologis.
Alhasil, pemahaman bahwa Islam adalah banyak (Islams), bahwa kebenaran setiap
agama adalah relatif, adalah hasil hermeneutika yang effeknya mendustakan
ayat-ayat Allah. Na'udzubiLlah pemahaman hasil hermeneutika itu perlu dibuang
jauh-jauh, karena ke atas ia tidak berpucuk, ke bawah ia tidak berakar, di
tengah-tengan ia dimakan kumbang.
Firman Allah:
-- WATL 'ALYHM NBA ALDzY aATYNH aAYTNA FANSLKh MNHA FATB'AH ALSyThN FKAN MN
ALGhAWYN . WLW SyaNA LRF'ANH BHA WLKNH AKhLD ALA ALARDh WATB'A HWH FMTsLH KMTsL
ALKLB AN ThML 'ALYH YLHTs AW TTRKH YLHTs DzLK MTsL ALQWM ALDzYN KDzBWA BaAYTNA
FAQShSh ALQShSh L'ALHM YTFKRWN (s. ALA'ARAF, 7:175,176), dibaca: watlu 'alaihim
nabaa a-taina-hu a-ya-tina- fansalakha minha- faatba'ahusy syaitha-nu faka-na
minal gha-wi-n . walaw syi'na- lafa'na-hu biha- wala-kinnahu akhlada ilal ardhi
wattaba'a hawa-hu famatsuluhu- kamatsalil kalbi intahmil 'alaihi yalhats aw
tatrukhu yalhats dza-lika matsalul qawmil ladzi-na kadzdzabu- bia-ya-tina-
faqshushil qashasha la'allahum yatafakkaru-n, artinya: Dan bacakanlah kepada
mereka pekabaran orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami,
kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, maka syaitanpun menjadikan dia
pengikutnya, lalu jadilah dia (di antara) orang-orang yang tersesat. Dan kalau
Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya maka dia menjulurkan
lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian
itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 13 November 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Ini disadur oleh Muslim In Suffer dari
http://www.theage.com.au/>www.theage.com.au. Kemudian kita edit kembali, di mana
sang ayah kita lihat sebagai personifikasi dari Bush, Blair dan Howard yang
menegakkan benang basah.
Anak: apa sih teroris itu?
Ayah: Seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan kekerasan dan intimidasi
serta kadang-kadang sampai membunuh.
Anak: Mengapa teroris membunuh mereka?
Ayah: Karena teroris benci mereka atau negara mereka.
Anak: Seperti orang Irak yang menculik orang dan mengatakan akan membunuh mereka
jika seluruh pasukan asing tidak segera pergi?
Ayah: Tepat sekali! Itulah perbuatan jahat yang dinamakan 'pemerasan'.
Orang-orang tak bersalah itu menjadi sandera, dan teroris yang mengatakan bahwa
bila pemerintah tidak melakukan apa yang mereka inginkan, para sandera akan
dibunuh.
Anak: Jadi itu disebut 'pemerasan'. Bila kita mengatakan akan menyerang Irak dan
membunuh rakyat tak bersalah, kecuali mereka mengatakan dimana semua
persenjataan mereka?
Ayah: Bukan! Um ... iya, saya kira. Tetapi itu adalah sebuah 'ultimatum', sebut
saja sebagai 'pemerasan yang baik'.
Anak: Pemerasan yang bertujuan baik? Apa itu?
Ayah: Itu adalah bila dilakukan untuk tujuan baik. Persenjataan itu sangat
berbahaya dan bisa mencelakai banyak orang di seluruh dunia. Sangat penting
untuk menemukan dan menghancurkannya.
Anak: Tetapi ayah, persenjataan itu tidak ada.
Ayah: Betul. Kita tahu itu sekarang. Tetapi siapa yang bisa yakin pada saat
sebelumnya. Kita mengira persenjataan itu ada.
Anak: Jadi pembunuhan seluruh korban tak bersalah di Irak hanya sebuah
kesalahan?
Ayah: Tidak. Itu adalah tragedi, tapi kita juga menyelamatkan banyak nyawa. Bisa
kamu lihat, kita berhasil menghentikan seseorang yang sangat kejam yang disebut
Saddam Hussein, dalam usahanya membantai sangat banyak rakyat Irak, atau
memberikan siksaan yang mengerikan, bahkan anak-anak.
Anak: Seperti anak laki-laki yang saya lihat di TV itu? Seorang anak yang hancur
tangannya karena bom?
Ayah: Betul, seperti anak itu.
Anak: Tapi ayah, kita yang melakukan itu. Bukankah ini berarti pemimpin kita
teroris?
Ayah: Ya Tuhan, bukan! Itu hanyalah sebuah ketidak sengajaan. Malangnya, rakyat
tak bersalah menjadi korban di dalam perang.
Anak: Jadi di dalam peperangan, hanya tentara yang semestinya terbunuh?
Ayah: Benar, tentara dilatih untuk berjuang demi negara. Ini tugas mereka,
semenjak mereka mengenakan seragamnya, mereka menjadi sasaran tembakan musuh.
Anak: Seragam apa yang dipakai oleh teroris?
Ayah: Itulah masalahnya ... mereka tidak punya! ... teroris tidak mengikuti
aturan peperangan.
Anak: Apakah perang ada aturannya?
Ayah: Oh ya. Tentara harus memakai seragamnya. Dan kamu tidak dapat begitu saja
menyerang seseorang kecuali mereka melakukannya kepadamu lebih dahulu. Maka kamu
dapat membela diri.
Anak: Jadi, itukah kenapa kita menyerang Irak? Karena Irak menyerang kita
terlebih dulu dan kita sekedar membela diri.
Ayah: Itu kurang tepat. Irak tidak menyerang kita ... tetapi punya kehendak itu.
Kita memutuskan untuk melakukannya lebih dahulu. Ini pencegahan, kalau-kalau
Irak bermaksud mempergunakan persenjataan yang kita maksud.
Anak: Yaitu yang mereka tidak punyai? Jadi kita telah melanggar aturan
peperangan?
Ayah: Secara teknis, ya. Tapi ...
Anak: Jadi jika kita melanggar aturan itu lebih dahulu, mengapa bangsa Irak yang
tidak berseragam itu tidak diperbolehkan malakukannya juga kemudian?
Anak: Wah itu masalahnya berbeda. Kita sedang melakukan sesuatu kebaikan saat
kita melanggar aturan itu.
Anak: Tapi ayah ... bagaimana kita tahu bahwa kita sedang melakukan itu demi
kebaikan?
Ayah: Bush dan Blair dan Howard ... mereka mengatakan bahwa itu demi kebaikan.
Mereka mengatakan bahwa perlu mengambil tindakan tertentu untuk membuat Irak
menjadi tempat yang lebih baik.
Anak: Apakah Irak menjadi 'tempat yang lebih baik' sekarang?
Ayah: Saya mengharapkannya begitu, saya tidak tahu pasti. Orang tak bersalah
masih menjadi korban penculikan itu adalah hal yang mengerikan. Saya ikut
prihatin kepada keluarga para sandera yang malang itu, tetapi kita jangan mudah
menyerah kepada para teroris. Kita harus tegar menghadapinya.
Anak: Apakah ayah tegar juga bila saya diculik oleh teroris?
Ayah: Um ... ya ... tidak ... maksud saya, ini masalah yang sungguh rumit.
Anak: Kalau saya, jika ada seseorang menyerang kita dan mengebom rumah kita dan
membunuh ayah dan ibu dan adikku, saya tahu pasti, apa yang akan saya lakukan.
Ayah: Apa itu?
Anak: Saya akan cari siapa orang yang telah melakukannya dan kemudian
membunuhnya. Dengan cara apapun yang saya bisa. Saya benci mereka untuk
selama-lamanya. Dan kemudian saya terbangkan sebuah pesawat dan jatuhkan bom ke
kota-kota mereka.
Ayah: Tapi ... tapi ... kamu bisa membunuh banyak orang tidak bersalah.
Anak: Saya tahu. Tapi ini khan perang, ayah. Dan seperti itu khan peperangan
terjadi, seperti yang ayah katakan tadi, masih ingatkah?
Ilustrasi dalam bentuk dialog itu menunjukkan kepada kita, bahwa Bush, Blair dan
Howard termasuk dalam hizb (kelompok) yang disebutkan dalam Al-Quran:
-- FY QLWBHM MRDh FZADHM ALLH MRShA WLHM 'AdZAB ALYM BMA KANWA YKDzBWN . WADzA
QYL LHM LA TFSDWA FY ALARDh QALWA ANMA NhN MShLhWN (S. aLBQRt, 2:10,11), dibaca:
fi- qulu-bihim maradhun faza-da humuLla-hu maradhan walahum ;adza-bun 'ali-mum
bima- ka-nu- yakdzibu-n. wa idza- qi-la lahum la- rufsidu- fil ardhi qa-lu-
innama- nahnu mushlihu-n, artinya: Dalam hati mereka ada penyakit (syak
wasangka), lalu ditambah Allah penyakit itu, dan untuk mereka itu siksa yang
pedih, karena mereka berdusta. Apabila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu
merusak di muka bumi, maka jawab mereka, kami sebenarnya berbuat baik. WaLlahu
a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 20 November 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Sesungguhnya Seri ini telah dipersiapkan sebagai no.urut 700, yaitu
urutan/lanjutan Seri 699. Namun tertunda karena lebih dahulu melayani pertanyaan
tentang angka 19 dan 17 (Seri 700), 'Iyd al-Fithri (Seri 701), memenuhi janji
saya kepada Ketua MUI Makassar mengenai Motto IMMIM (Seri 702) dan akar dari
terrorisme (Seri 703).
Mengapa Seri 704 ini merupakan urutan Seri 699, karena masih menyangkut
pernyataan penceramah Isra-Mi'raj, di mana dalam Seri 699 telah saya bahas
pernyataan penceramah tersebut yang bertitik tolak bahwa ada Al-Quran rahasia
yang ujung-ujungnya keluar jalur ajaran Islam dengan menyatakan bahwa Al-Quran
yang dikodifikasikan/dibukukan dalam 30 Juz, 114 Surah, tidak dapat dijadikan
sebagai pegangan hidup/penentu/penunjuk.
Adapun yang disorot dalam Seri 704 ini adalah pemahamannya tentang anak yatim
dan orang miskin dalam S. ALMA'AWN (dibaca: al ma-'u-n), seperti berikut:
-- Yang dimaksud dengan menghardik, yaitu "tidak mengenal/tidak mau mengenal"
sedangkan yang dimaksud anak yatim adalah karena tidak berayah sejak awal
kejadiannya. Yang dikatakan miskin, yaitu karena tidak berpakaian apalagi
mengenakan perhiasan, sebagai manusia adanya. Si yatim/miskin itulah
perbendaharaan Allah yang ada di dalam setiap diri manusia yang dikenal/disebut
dengan RUH.
Ada dua hal yang mengusik batin saya sehubungan pernyataan di atas itu, sehingga
saya merasa perlu kedua hal itu dibahas dalam kolom ini.
Yang pertama, tentang RUH. SubhanaLlah, penceramah sangat berani untuk
menjelaskan apa itu RUH, merasa lebih pintar dari Nabi Muhammad SAW. Pada waktu
orang Yahudi bertanyakan tentang RUH kepada Nabi Muhammad SAW, beliau tidak
segera menjawab, karena menantikan wahyu dahulu. Maka turunlah ayat:
-- WYSaLWNK 'AN ALRWh QL ALRWh MN AMR RBY WMA AWTUTM MN AL'ALM ALA QLYLA (S.
ASRY, 17:85), dibaca: wayas.alu-na 'anir ru-hi qulir ru-hu min amri tabbi- wama-
u-ti-tum munal 'ilmi illa- qali-lan, artinya: Mereka bertanya kepadamu (hai
Muhammad) tentang ruh, katakan: ruh itu sebagian dari urusan Rabbku, tiadalah
kamu diberi ilmu (ttg ruh) kecuali sedikit.
Yang kedua, karena pembicara itu hanya mentafsirkan yatim dan miskin itu
diperciut menjadi yang ada dalam diri manusia (ilalanganna tauwa), maka
pembicara menjadikan ajaran Islam itu menjadi kerdil, hanya berwawasan pribadi
manusia saja, tidaklah difahamkan oleh pembicara bahwa Syari'at Islam itu juga
berwawasan yang operasional dalam bidang kemasyarakatan, pemahaman pembicara
sangatlah egois, ia mengabaikan anak yatim dan orang miskin dalam arti yang
sebenarnya.
Syari'at Islam menuntun manusia baik sebagai makhluk individu maupun makhluk
sosial supaya manusia itu beroleh kehidupan yang selamat di dunia menuju
akhirat. Sebagai makhluk individu dibutuhkan petunjuk yang strategis yaitu
aqidah dan petunjuk yang taktis yaitu ajaran akhlaq. Sebagai makhluk sosial di
butuhkan petunjuk yang bersifat operasional yaitu hukum-hukum syari'at.
Dalam S. ALMA'AWN dapat kita lihat petunjuk strategis, taktis dan operasional
itu bersinergi.
-- ARaYT ALDzY YKDzB BALDYN(1). FDzLK ALDzY YD'A ALYTYM(2). WLA YhDh 'ALY Th'AAM
ALMSKYN(3). FWYL LLMShLYN(4). ALDZYNHM 'AN ShLATHM SAHWN(5). ALDzYNHM YRAaWN(6).
WYMN'AWN ALMA'AWN(7)
dibaca:
ara.aital ladzi- yukadzdzibu biddi-n . fadza-likal ladzi- yad''ul yatim . wala-
yahudhdhu 'ala- tha'a-mil miski-n . fawailul lilmushalli-n . alladzi-nahum 'am
shala-tihim sa-hu-n . alladzi-nahum yura-u-n . wayana'u-nal ma-'u-n.
artinya:
(1)adakah engkau ketahui orang yang mendustakan addin? (2)itulah dia orang yang
mengusir anak yatim. (3)dan tiada menghimbau orang untuk memberi makan orang
miskin. (4)maka azab-wail bagi yang shalat. (5)yaitu mereka yang lalai dalam
shalatnya. (6)Yaitu mereka riya/suka pamer. (7)Dan enggan (menolong dengan)
barang berguna.
Perhatikan: Dalam ayat(1) bersinergi antara petunjuk strategis dan taktis. Dalam
ayat (2,3) bersinergi antara petunjuk taktis dan operasional. Dalam ayat (4,5)
bersinergi antara petunjuk strategis dengan taktis. Dalam ayat (6,7) bersinergi
antara petunjuk taktis dan operasional.
Demikianlah S. ALMA'AWN menunjukkan akhlaq dalam kehidupan sosial yang populis
menyantuni anak yatim dan orang miskin (sayang saya tidak hafal dan tidak sempat
menanyakan kepada orang yang tahu Lagunya Bimbo: Rasul menyuruh kita mencintai
anak yatim, Rasul menyuruh kita menyantuni orang miskin, sebab kalau saya hafal
baik sekali jika saya tuliskan pula).
Terakhir mengenai ejaan. Dalam S. ALMA'AWN ayat (107:5), kata Shalat dituliskan:
Shad-Lam-Alif-Ta. Sedangkan dalam ayat berikut:
-- WAQYM ALShLWt WAT ALZKWt WARK'AWA M'A ALRAK'AYN (S. ALBQRy, 2:43), dibaca wa
aqi-mus shala-ta wa a-tuz zaka-ta warka'u- ma'ar ra-ki'i-n, artinya: Tegakkanlah
shalat dan keluarkanlah zakat dan ruku'lah bersama dengan orang-orang yang
ruku', kata shalat dituliskan: Shad-Lam-Waw-Ta.
Apabila ejaan itu diseragamkan yaitu diubah hurufnya, yakni kata shalat dalam
ayat (2:43), yaitu Shad, Lam, Waw, Ta, diubah menjadi Shad, Lam, Alif, Ta,
supaya seragam dengan tulisan kata shalat dalam ayat (107:5), maka sistem 19
akan mengontrol. Jumlah huruf Alif + Lam + Mim dalam Surah 2, 3, 7, 13, 29, 30,
31, 32, yaitu 12312 + 8493 + 5871 = 26676 = 1404 x 19. Kalau Waw diganti dengan
Alif dalam kata shalat, maka akan rusaklah sistem 19 dalam jumlah huruf Alif +
Lam + Mim dalam ke-8 Surah yang di atas itu.
Sampai sekarang tetap kata shalat dalam dua ejaan, Shad-Lam-Alif-Ta dan Shad,
Lam, Waw, Ta. Itu menunjukkan tidak ada tangan-tangan gatal untuk mengubah Rasm
(ejaan) 'Utsmany, artinya Al-Kitab, teks Al-Quran sampai kepada ejaannyapun
otentik. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 27 November 2005.[H.Muh.Nur Abdurrahman]
Baru-baru ini saya menerima "surat panjang" dari yang menyatakan dirinya
"Imam" Majlis Al-Munajah Al-Ardh dengan tembusan kepada segala macam, yang
tebalnya cukup lumayan 28 halaman. Pada pokoknya sang "Imam" memprotes apa yang
saya tulis dalam Seri 699 mngenai bagian ceramahnya, bahwa itu sudah menyeleweng
dan keluar jalur ajaran Islam, karena sang "Imam" menyatakan ada Al-Quran
rahasia, dan untuk dapat mengetahui Al-Quran rahasia itu haruslah mengetahui
rahasia titik nun dan titik ba, yang ujung-ujungnya sang "Imam" menyatakan:
"Al-Quran yang dikodifikasikan/dibukukan dalam 30 Juz, 114 Surah, tidak dapat
dijadikan sebagai pegangan hidup /penentu/penunjuk." Anehnya dalam "surat
panjang" itu sama sekali sang "Imam" tidak menyinggung sedikitpun tentang
"Al-Quran yang dikodifikasikan/dibukukan dalam 30 Juz, 114 Surah, tidak dapat
dijadikan sebagai pegangan hidup /penentu/penunjuk."
Pengasuh kolom ini, yang Wakil Ketua Majlis Syura KPPSI, menjadi "kesal" dengan
pernyataan sang "Imam" bahwa Al-Quran yang dikodifikasikan/dibukukan dalam 30
Juz, 114 Surah, tidak dapat dijadikan sebagai pegangan hidup /penentu/penunjuk.
Mengapa "kesal", karena pernyataan itu "menantang/menyalahkan" yang
diperjuangkan KPPSI menegakkan Syari'at Islam menurut AL-Quran yang 114 Surah
dan 30 Juz. Seperti diketahui, berdasarkan hasil jajak pendapat dari Tim
Pengkajian Konsep Syari'at Islam (TPKSI) yang dibentuk atas dasar SK Gubernur
Sul-Sel No.601/X/2001, tgl.2 Oktober 2001, masyarakat di Sul-Sel 91% yang setuju
pelakanaan Syari'at Islam. Perlu ditabayyun kata "Konsep" dalam TPKSI itu bukan
"Konsep" tentang Syari'at islam, karena Syari'at Islam itu bukan "Konsep"
manusia, melainkan dari Allah SWT. Alhasil yang dimaksud ialah "Konsep" tentang
PELAKSANAAN Syari'at Islam.
***
Saya fokuskan jawaban saya pada titik Nun dan titik Ba yang dijadikan paradigma,
karena dengan tertebasnya paradigma tersebut, maka tertebaslah pula pandangan
sang "Imam" yang keluar dari Jalur Syari'at Islam tersebut, yaitu "Al-Quran yang
dikodifikasikan / dibukukan dalam 30 Juz, 114 Surah, tidak dapat dijadikan
sebagai pegangan hidup / penentu / penunjuk."
Dalam "surat panjang" itu, sang "Imam" menulis:
-- "Pernyataan tuan ini, yaitu tidak ada titik Nun dan titik Ba, dengan
sendirinya membantah keotentikan Al-Quran yang tuan maksudkan. Jika menurut tuan
awal turunnya quran itu tidak mempunyai titik dan sekarang sudah mempunyai titik
dan tanda baca berarti secara logika sederhana dengan sendirinya Al-Quran telah
dirubah (mestinya diubah-HMNA-) dengan adanya campur tangan manusia." Sang
"Imam" menguatkan pendapatnya itu dengan ayat yang sama sekali tidak relevan
dengan apa yang dibantahnya itu.
-- Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran itu sebagai peraturan (yang) benar
dalam bahasa Arab ... (S. Ar-Ra'd: 37).
Ini lucu, sang "Imam" memakai ayat dari "Al-Quran yang dikodifikasikan /
dibukukan dalam 30 Juz, 114 Surah", padahal sang "Imam" bilang itu "tidak dapat
dijadikan sebagai pegangan hidup / penentu / penunjuk." Rupanya sang "Imam"
hanya memakainya untuk "berdebat" saja.
Dalam museum di Al Qahirah (Cairo) ada tersimpan surat asli Nabi Muhammad SAW
kepada Pembesar Qibthi, kita kutip kalimat pertama dari surat itu:
-- MN MhMD 'ABD ALLH WRSWLH ALY ALMQWQS 'AzhM ALQBTh dibaca min muhammadin
'abdiLla-hi warasu-lihi ilal muqawqisi 'azhi-mil qibthi. Artinya: Dari Muhammad
hamba Allah dan RasulNya, kepada Muqawqis pembesar Qibthi. Dalam surat asli
tersebut ada huruf-huruf Nun, Ba, Ya, Qaf dan Zha yang semuanya tidak pakai
titik.
Pemberian titik dan tanda baca tidak mengubah Rasm 'Utsmaniy, tidak menambah
ataupun mengurangi jumlah huruf. Kalimah Basmalah; terdiri atas huruf-huruf:
(1)Ba, (2)Sin, (3)Mim, (4)Alif, (5)Lam, (6)Lam, (7)Ha, (8)Alif, (9)Lam, (10)Ra,
(11)ha, (12)Mim, (13)Nun, (14)Alif, (15)Lam, (16)Ra, (17)ha, (18)Ya, (19)Mim,
jumlahnya 19. Angka 19 ini tidak berubah baik sebelum maupun sesudah huruf Ba
dan Nun dalam kalimah Basmalah diberi titik.
-- Atas perintah Nabi SAW, Al-Quran ditulis oleh penulis-penulis wahyu di atas
pelepah kurma, kulit binatang, tulang dan batu. Semuanya ditulis teratur seperti
yang Allah wahyukan dan belum terhimpun dalam satu mushhaf. Semuanya ditulis
dalam huruf gundul belum ada titik dan belum diberi baris.
-- Atas anjuran 'Umar ibn Khattab RA, maka Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA,
memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an dari
para penulis wahyu, kemudian di simpan oleh Hafshah bt. 'Umar.
-- Di masa Khalifah 'Usman bin 'Affan, untuk pertama kali Al Qur'an ditulis
dalam satu mushhaf. Penulisan ini disesuaikan dengan tulisan aslinya berupa
huruf gundul yang terdapat pada Hafshah. 'Usman bin 'Affan RA memberikan
tanggung jawab penulisan ini kepada Zaid Bin Tsabit, Abdullah Bin Zubair, Sa'id
bin 'Ash dan Abdur-Rahman bin Al Haris bin Hisyam. Mushhaf tersebut ditulis
masih tetap tanpa titik dan tanpa baris. Hasil penulisan tersebut satu disimpan
oleh 'Usman bin 'Affan RA dan sisanya disebar ke berbagai penjuru wilayah
Khilafah.
-- Abul Asad Ad-Dualy, yang ditugaskan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, meletakkan
titik pada tiap akhir kalimat dari ayat. Abdul Malik bin Marwan menugaskan Al
Hajjaj bin Yusuf supaya huruf-huruf Ba, Ta, Tsa, dst dengan mudah dapat
dibedakan. Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin 'Ashim dan Hay bin Ya'mar,
maka pada Ba diberi satu titik di bawah, Ta dua titik di atas, Tsa tiga titik di
atas dst. Peletakan baris atau tanda baca (i'rab) seperti: Dhammah, Fathah,
Kasrah, Sukun dan tanda panjang, dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy.
Alhasil dengan belum adanya titik Nun dan titik Ba pada zaman RasuluLlah SAW,
tertebaslah paradigma yang di atasnya bertumpu pandangan sang "Imam" yang keluar
dari Jalur Syari'at Islam, yaitu yang katanya: "Al-Quran yang
dikodifikasikan/dibukukan dalam 30 Juz, 114 Surah, tidak dapat dijadikan sebagai
pegangan hidup /penentu/penunjuk." Na'udzu biLlah min dzalik. WaLlahu a'lamu
bisshawab.
*** Makassar, 4 Desember 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Berdasar atas Perjanjian Gencetan Senjata Hudaibiyah selama sepuluh tahun di
antara Madinah dengan Makkah, maka qabilah Banu Bakr bergabung ke dalam aliansi
kaum kafir Quraisy Makkah, sementara Banu Khuza'ah ke dalam aliansi kaum
Muslimin Madinah. Ternyata dua tahun kemudian Banu Bakr dengan dukungan pihak
Makkah menyerang Banu Khuza'ah. Dalam penyerangan itu banyak penduduk Banu
Khuza'ah yang terbunuh. Utusanpun dikirim ke Madinah melaporkan pihak Makkah
telah melanggar Perjanjian Hudaibiyah. RasuluLlah SAW segera mengumpulkan
pasukan, lalu bergerak menuju Makkah, dan dalam perjalanan beberapa qabilah lain
datang bergabung dengan RasuluLlah SAW. Tatkala pasukan itu tiba di FARAN
jumlahnya telah mencapai SEPULUH RIBU orang. RasuluLlah SAW yang memimpin
pasukan SEPULUH RIBU orang dari FARAN ini dinubuwatkan jauh sebelumnya oleh Nabi
Musa AS. Kita kutip dari The Holy Bible, King James (authorize) Version:
"And this is the blessing, where-with Moses the man of God blessed the Children
of Israel before his death. And he said the LORD came from Sinai, and rose up
from Seir unto them; he shined forth from mount PARAN and he came with TEN
THOUSANDS of saints; from his right hand sent a fiery law for them" (Deuteronomy
33:1-2). Dan inilah berkat atas Bani Israil yang diberikan oleh Musa orang
kepercayaan Tuhan sebelum wafatnya. Dan ia berkata: Tuhan datang dari Thursina
dan terbit dari Seir atas mereka; ia terus bersinar gemerlapan dari bukit FARAN
dan ia datang dengan SEPULUH RIBU pasukan syuhada; dari tangan kanannya datang
syari'at yang cemerlang untuk mereka.
Bunyi nubuwat tersebut bersinergi dengan nubuwat Habakkuk dan Isaiah. Tidak
seorangpun bangsa Israel termasuk Yesus, yang ada hubungannya dengan Paran.
Hajar, dengan anaknya Ismail AS, berkelana di padang gurun Birsheba, yang
kemudian menetap di padang gurun Paran (Genesis, 21:14,21). Ismail AS mengawini
perempuan Mesir dan dari kelahiran anak sulungnya, Haidar (Kedar), memberikan
keturunan kepada bangsa Arab, yang juga merupakan garis lurus silsilah: Haidar -
Jamal - Sahail - Binta - Salaman - Hamyasa - 'Adad - 'Addi - Adnan - Ma'ad -
Nizar - Mudhar - Ilyas - Mudrikah - Khuzaimah - Kinanah - Nadhar - Malik - Fihir
- Ghalib - Luaiy - Ka'ab - Murrah - Kilab - Qushay - 'Abdul Manaf - Hasyim -
'Abd.Muththalib - 'Abdullah - NABI MUHAMMAD SAW.
Inilah nubuwat dalam (Habakkuk 3:3):
-- The Holy One from Mount Paran. His glory covered the heavens and the earth
was full of his praise. Esa yang Suci dari gunung Paran. Kemuliaannya meliputi
langit dan bumipun penuh dengan pujiannya.
Dan inilah nubuwat dalam Isaiah mengenai Kedar, para penghuni padang gurun
FARAN.
-- The oracle concerning Arabia. In the thickest in Arabia you will lodge, O
caravans of De'danites . For they have fled from the swords, .... from the bent
bow, ... For thus the Lord said to me, "Within a year, according to the years of
a hireling, all the glory of Kedar will come to an end . And the remainders of
the archers of the mighty men of Kedar will be few (Isaiah 21:13,15-17). Ucapan
ilahi terhadap Arabia. Di belukar Arabia engkau akan bermalam, wahai
kafilah-kafilah orang Dedan . Karena mereka melarikan diri dari pedang ... dan
dari busur yang dilentur, .... Karena beginilah Tuhan berfirman kepadaku: "Dalam
setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka semua kemuliaan Kedar
akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan
tersisa sejumlah kecil saja.
-- "For behold darkness shall cover the earth, .... but the LORD will arise upon
you, and the glory will be seen upon you .... All the flocks of Kedar shall be
gathered to you, .... and I will glorify My Glorious House" (Isaiah, 60:2,7).
Karena sesungguhnya kegelapan akan meliputi bumi, .... namun (terang) Tuhan akan
terbit atas kamu, .... Semua kawanan domba Kedar akan berhimpun kepadamu, ....
dan Aku akan menyemarakkan Rumah KeagunganKu."
Kaitkanlah nubuwat-nubuwat dalam Isaiah itu dengan nubuwat dalam Deuteronomy dan
Habakkuk. Kedar runtuh dan jumlah pemanah, orang-orang kuat dari anak-anak
Kedar, lenyap dalam setahun setelah mereka itu melarikan diri dari pedang-pedang
dan dari busur-busur yang dibentang (Isaiah). Maka "sinar gemerlapan dari bukit
FARAN" (Deuteronomy) adalah Muhammad SAW. Dalam Habakkuk, praise from Mount
Paran adalah Muhammad SAW, karena secara harfiah Muhammad berarti praise. Terang
Tuhan yang terbit atas bani Kedar yang dalam kegelapan adalah Muhammad SAW,
karena beliau adalah satu-satunya Nabi melalui siapa bangsa Arab menerima wahyu
di masa kegelapan jahiliyah.
Dan tak lebih dari setahun setelah hijrah, anak cucu keturunan Kedar yaitu
pasukan dari Makkah berjumpa dengan pasukan mujahidin Muhajirin dan Anshar dari
Madinah dalam Perang Badar. Maka tumbanglah kemuliaan Bani Kedar, yaitu kafir
Quraisy penduduk Makkah, kalah telak dalam Perang Badar. Muhammad SAW mensucikan
kembali itu "Glorious House, Rumah Keagungan Tuhan, BaituLlah" di Makkah dengan
membersihkannya dari patung-patung berhala. Setiap sekeping berhala tumbang,
RasuluLlah SAW mengucapkan ayat:
-- WQL JAa ALhQ WZHQ ALBAThL AN ALBARhL KAN ZHWQA (S ISRAa, 17:81), dibaca:
waqul ja-al haqqu wazahaqal ba-thilu innal ba-thila ka-na zahu-qan. Katakanlah
telah datang kebenaran dan telah lenyap yang batil, sesungguhnya kebatilan itu
niscaya lenyap. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 11 Desember 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Kita buka perbincangan ini dengan kelong (syair Makassar) yang menggambarkan
nilai semangat istiqamah (konsisten), baik dalam hal prinsip maupun dalam hal
operasional:
Takunjungaq bangun turuq
Takuginciriq gulingku
Kualleanna
Tallanga natoaliya
Tak kumau angin buritan
Kemudi takkan kuputar
Kendatipun akan tenggelam
Pantang aku urung berlayar
Yang berikut adalah nilai keberanian yang bersinergi kecakapan berlayar.
Saya masih ingat waktu kecil ketika bermain-main sampan layar, saya yang sedang
memegang kemudi di bagian belakang sampan berteriak jagako kepada teman yang
bertugas mengimbangi kemiringan sampan, yang berdiri dipinggir sampan pada sisi
yang berlawanan dengan layar. Biasanya sampan mempunyai cadik/kengkeng, semacam
tangkai yang menganjur keluar kiri kanan sampan untuk keseimbangan sampan.
Tetapi waktu saya masih anak-anak dalam soal sampan layar mempunyai nilai
tersendiri: Anak-anak/remaja yang melayarkan sampan layar yang memakai cadik
dicap penakut. Teriakan jagako itu saya ucapkan untuk memperingatkan teman tadi
agar siap siaga akan datangnya angin, karena melihat kerutan kecil air laut yang
melaju ke arah sampan layar kami itu. [Cuplikan dari Seri 029, bertanggal 17 Mei
1992]
Yang berikut adalah nilai "pandangan berisi" dan kecekatan berlayar menggergaji
menghadapi angin sakal, yaitu dengan mengoperasionalkan tujuan taktis yang
kelihatannya menyimpang dari tujuan strategis.
Pada zaman Jepang seorang heitai (serdadu Jepang) membentak nakhoda perahu
sambil meludahi kedua telapak tangannya: "Bagero, kunapa purahu kusituka?".
Tentera Jepang kalau membentak dengan bagero disertai dengan meludahi telapak
tangan itu berarti siap-siap untuk menempeleng. Ia marah besar kepada nakhoda
perahu, oleh karena tujuan perahu menyimpang sekitar 45 derajat ke kiri dari
arah pulau yang akan dituju, p.Jampea. Melihat gelagat tentera Jepang yang
menyandang samurai itu, nakhoda perahu dengan tenang menatap mata heitai Jepang
itu dengan sinar mata yang tajam dengan "pandangan berisi", yang mengandung
pengaruh sirap. Hasilnya, Jepang itu tertunduk, sikapnya melemah, butir-butir
keringat menyembul di keningnya. Dahulu para nakhoda perahu bukan hanya terampil
melayarkan bahtera saja, melainkan harus pula menguasai ilmu "pandangan berisi"
sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi nakhoda. "Tuan, kita menggergaji,
kita mendapat angin sakal, bukan angin buritan", nakhoda itu menjelaskan.
Sungguhpun serdadu Jepang itu kurang begitu mengerti penjelasan sang nakhoda, ia
mangguk-mangguk saja, maklumlah hatinya sudah kecut oleh sinar mata sang
nakhoda. Apa sesungguhnya yang terjadi ialah perahu itu harus menempuh lintasan
seperti mata gergaji, zig zag, oleh karena angin tidak bertiup dari belakang
perahu. Itu biasa dalam dunia pelayaran, yang belum difahami oleh serdadu Jepang
itu. [Cuplikan dari Seri 096, bertanggal 26 September 1993]
Yang berikut adalah nilai musyawarah dan kebersamaan dalam membina negeri:
Malam Jumat, 4 Agustus 1994, di lantai 3 Gedung Harian Fajar itu tatkala
mendengarkan alunan suara budayawan Mappaseleng Dg Maqgauq, menyanyikan "Minasa
ri Boritta", saya bernostalgia, ingat tempo doeloe, ketika saya masih kecil di
kampung halaman, sewaktu lagu-lagu daerah masih sangat dominan, oleh karena
belum terjadi akulturasi budaya kita dengan budaya luar. Waktu itu setiap ada
"paqgaukang", pesta kenduri, tidak pernah ketinggalan acara kesenian
Rambang-Rambang, yaitu nyanyian solo diiringi oleh empat atau lima biola dan
rabbana (rebana). Sebelum Perang Dunia kedua kalau ada Pasar Malam di Makassar,
Parambang-Rambang Silayaraq (Selayar) tidak pernah absen. Mengapa nyanyian solo
yang diiingi dengan perangkat bunyi-bunyian biola dan rebana itu dinamakan
apparambang-rambang, menggelar rambang-rambang, oleh karena senantiasa lagu
pertama yang dinyanyikan ialah lagu/kelong Rambang-Rambang. [Cuplikan dari Seri
139, bertanggal 7 Agustus 1994).
Kata dasar rambang menjadi kata kerja aqrambangang, itu terkhusus istilah yang
digunakan dalam kalangan pelaut, artinya berbanjar mengembang layar. Dalam
bahasa Makassar kata kerja ditasrifkan. Untuk orang pertama tunggal
aqrambangang. Orang pertama jamak kiqrambangang. Orang pertama jamak waktu yang
akan datang (future tense) nakiqrambangang. Tasrif (konyugasi) terakhir ini
dapat dilihat dalam kelong Rambang-Rambang di bawah.
Pakabajiki boritta
Kimassing massamaturuq
Nakiqrambangang
Ansombali mateqneya
Benahilah negeri kita
Masing-masing bersepakat
Berbanjar mengembang layar
Berlayar mencapai sejahtera
Karena nakiqrambangang dalam bentuk future tense, maka berbanjar mengembang
layar baru dikerjakan setelah terjadi kesepakatan. Jadi nilai filosofis kelong
Rambang-Rambang, yaitu pekerjaan membenahi negeri barulah dilakukan setelah
terjadi kesepakatan, bukanlah tiba masa tiba akal.
***
Hasil istinbath (penggalian) nilai Sub-Kultur di atas itu utamanya nilai
musyawarah/kesepakatan dan kebersamaan serta istiqamah dalam membenahi negeri
mestilah berutumpu pada paradiqma Nilai Al-Furqan dari Syari'at Islam. yaitu
bertawakkal kepada Allah, seperti FirmanNya:
-- WSyAWRHM FY ALAMR FADzA 'AZMT FTWKL 'ALY ALLH AN ALLH YhB ALMTWKLYN (S.
AL'AMRAN, 3:159), dibaca: wasya-wirhum fil amri faidza- 'azamta fatawakkal
'alaLla-hi inaaLla-ha yuhibuul mutawakkli-na, artinya: Dan bermusyawaralah
dengan mereka dalam urusan (negara dan kemasyarakatan), maka apabila engkau
telah menetapkan cita-cita, bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang tawakkal. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 18 Desember 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
-- WLQD SHRFNA LLNAS FY HDzA ALQURAN MN KL MtSL FABY AKTsR ALNAS ALA KFWRA
(S.ALASRY, 17: 89), dibaca: walaqad sharrafna- linna-si fi- ha-dzal qur.a-ni
ming kulli matsalin faaba- aktsaran na-si illa- kafu-ran, artinya:
-- Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an
ini tiap-tiap macam perumpamaan, namun kebanyakan manusia enggan (mengambil
ibarat), (karena) mereka itu kafir.
Pengikisan tanah di lereng-lereng gunung oleh air bah yang mengalir dengan ganas
disebut erosi. Di dalam Al Quran fenomena alam yang berupa erosi ini
dinformasikan sebagai bahan bandingan perumpamaan untuk erosi amal sedekah
seseorang.
-- YAsYHA ALDzYN AMNWA LA TBThLWA ShDQTKM BALMN WALADzY KALDzY YNFQ MALH RaAa
ALNAS WLA YWaMNWA BALLH WALYWM ALAKhR FMtSLH KMTsL ShFWAN 'ALYH TRAB FAShABH
WABL FTRKH ShLDA LA YQDRWN 'ALY SyYa MMA KSBWA WALLH LA YHDY ALQWM ALKFRYN (S.
ALBQRt, 2:264), dibaca: ya-ayyuhal ladzi-na a-manu- la- tubthilu- shadaqa-tikum
bilmanni wal a-dza- kalladzi- yunfiqu ma-lahu- ria-an na-si wala- yu'minu-
biLla-hi walyawmil a-khiri famatsaluhu- kamatsali shafwa-nin 'alayhi tura-bun
faasha-bahu- wa-bilun fatarakahu- shaldan la yaqdiru-na 'ala- syaiim mimma-
kasabu- waLla-hu la- yahdil qawmal ka-firi-na, artinya:
-- Hai orang-orang beriman, janganlah kamu batalkan amal sedekahmu, dengan cara
menyiarkan (kepada umum) dan melukai perasaan (yang diberi sedekah), seperti
cara menyumbang dengan penampilan (riya) dari orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan Hari Akhirat; adapun cara yang demikian itu ibarat batu karang
licin yang di atasnya terdapat lapisan tanah diguyur oleh curahan hujan yang
lebat yang memberikan bekas tanah hanyut dan tinggallah batu karang licin yang
gundul, maka demikian pulalah keadaan amal sedekahnya hilang tidak ada yang
tinggal.
Perbuatan batil diibaratkan sebagai buih dalam fenomena alam.
-- FASALT AWDYt BQDRHA FAhTML ALSYL ZBDA RABYA WMMA YWQDWN 'ALYH FY ALNAR
ABTGhAa hLYt AW MTA'A ZBD MTsLH KDzLK YDhRB ALLH ALhQ WALBAThL FAMA ALZBD FYDzHB
JFAa WAMA YNF'A ALNAS FYMKtS FY ALARDh KDzLK YDhRB ALLH ALAMTsAL (s. ALR'AD,
13:17), dibaca: fasa-lat awdiyatun biqadariha- fahtamaks sailu zabadar ra-biyan
wamimma- yu-qidu-na 'alaihi finna-rib tigha-a hilyatin aw mata-'in zabzdun
mitsluhu- kadza-lika yadhribu Lla-hul haqqa walba-thilun faammaz zabdu
fayadzhabu jufa-an wamma- ma- yanfaqun na-sa fayamkutsu fil ardhi kadza-lika
yadhribu Lla-hul amtsa-la, artinya:
-- maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka
lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya
seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar
dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada
harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.
Untuk penjelasan lebih lanjut perlu terlebih dahulu dibahas dua kata-kunci:
syaithan dan rajm.
Syaithan; antara lain ialah pemimpin kaum munafiq yang memusuhi Nabi Muhammad
SAW, seperti Firman Allah:
-- WADzA KhLWA ALA SyYTHYNHM QALWA ANA M'AKUM (S. ALBQRt, 2:14), dibaca: waidza-
khalau ila- syaya-thi-nihim qa-lu- inna- ma'akum, artinya:
-- Dan ketika mereka berkhalwat (menyendiri) bersama setan-setan (pemimpin)
mereka, mereka berkata kami bersama kalian.
Dalam hal ini setan-setan itu ialah anak buah iblis yang memusuhi Nabi Muhamamd
SAW yang terdiri dari dua golongan dalam hal politik dan dalam hal perdukunan
ramal-meramal.
Rajm; umumnya berarti melempar dengan batu. Kalau Al-Quran dijadikan kamus maka
kata rajm berarti pula ramalan, ini dapat dilihat dalam ayat:
-- RJMA BALGhYB (S. ALKHF, 18:22), dibaca: rajman bil ghaybi, artinya:
-- meramal tentang yang ghaib
dan rajm berarti juga mengeluarkan umpatan, seperi ucapan ayah Ibrahim kepada
Ibrahim AS. Ini dapat dilihat dalam ayat:
-- LARJMNKM (S. MRYM, 19:46), dibaca: laarjumannakum, artinya:
-- kuumpat engkau
Dan rajm juga berarti usir, yaitu setan atau iblis diusir Allah keluar dari alam
malakut.
-- WLQD ZYNA ALASMAa ALDNYA BMShABh WJ'ALNHA RJWMA LLSyYThYN (S. AlMLK, 67:5),
dibaca: walaqad dzayyannas sama-id dunya- bimasha-biha waja'alnaaha- rujumal
lisysyaya-thi-ni, artinya:
-- Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita dan
Kami menjadikannya pelempar setan.
-- MN KhThF ALKhFThFt FATB'AH ShHAB TsAQB (S. ALShFAT, 37:10), dibaca: man
khathifal khathfata faatba'ahu- shiha-bu tsa-qibun, artinya:
-- Bagi siapa (setan) yang menangkap tangkapan (di langit) maka ia segera
dikejar oleh suluh api (tahi bintang) yang cemerlang.
Setan-setan anak buah iblis kontemporer berupa pemilik mesin perang satelit
mata-mata yang mendata negeri-negeri Islam (seperti Aghanistan dan Iraq) dari
atas angkasa, dalam rangka melumatkan negeri-negeri yang dibenci oleh
setan-setan itu. Satelit mata-mata itu dikejar oleh tahi bintang berupa
meteor-meteor yang terbakar karena bergesek dengan atmosfer bumi. Itu adalah
fenomena alam sebagai perumpamaan perbuatan sesat dukun-dukun peramal yang
ramalan dan umpatannya diusir oleh cahaya Islam yang yang mengusir kebohongan
ramalan dan umpatan para dukun peramal tersebut.
Yang terakhir Firman Allah:
-- MTsL ALJNt ALTY W'AD ALMTQWN TJRY MN ThTHA ANHAR AKLHA DAaM WZhLHA TLK 'AQBY
ALDzYN ATQWA AW 'AQBY ALKFRYN ALNAR (ALR'AD, 13:35), dibaca: matsalul jannatul
lati- u'idal muttaqu-na tajri- min tahtaihal anha-r ukuluha- da-imuw wa'uqbal
ka-firi-nan naari, artinya:
-- Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang taqwa ialah
(seperti taman), mengalir sungai-sungai di bawahnya ; makanannya tak
henti-henti, sedang naungannya (demikian pula); itulah tempat kesudahan bagi
orang-orang yang bertaqwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah
neraka.
Adapun surga itu tak terkira jauh lebih menyenangkan dari perumpamaan fenoma
alam yang dijadikan pembanding. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 25 Desember 2005 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
Pada 10 Desember 2005 lalu, Metro TV menayangkan Lia Aminuddin punya "Tahta
Suci Kerajaan Tuhan Eden". Tak pelak, tayangan ini memicu kegelisahan
masyarakat, FPI pun bergegas menggelar tabligh akbar di masjid dekat markas
Kerajaan Eden. Polisi pun pada 29 Desember lalu menyeret Lia Aminuddin bersama
para pengikutnya untuk diperiksa. Sebenarnya media massa pernah meributkan
ajaran sesat Lia Aminuddin yang mengaku nabi, terus jadi Maryam dan katanya
anaknya jadi Nabi Isa yang ujung-ujungnya ia kesurupan setan yang disangkanya
Jibril. TPI-pun tidak ketinggalan menayangkan ajaran sesat Lia Aminuddin ini
dalam acara Jejak Kasus pada 2 Januari 2006.
Fenomena aktivitas Lia ini berupa bandul Genderisme yang berayun ke posisi
ekstrem kanan. Ya Genderisme dewasa ini sudah kebablasan. Genderisme kebablasan
ini dianut baik oleh perempuan maupun laki-laki. Tidak percaya?
Yang berikut dibeberkan jenis kelamin perempuan yang kesurupan Genderisme yang
kebablasan tsb:
Tim Pengarus-utamaan Gender (TPG), diketuai oleh Siti Musdah Mulia, yang
disponsori/didanai oleh The Asia Foundation menganggap pemberlakuan masa iddah
hanya kepada perempuan itu melanggar "aqidah" Genderisme sehingga kebablasan
bikin fiqh baru antara lain hasil istinbathnya: Masa iddah bagi laki-laki adalah
seratus tiga puluh hari [buah fiqh baru TPG: ps.88 ayat 7(a)]. Padahal masalah
iddah ini sudah jelas diatur oleh ayat Qath'i:
-- WALMTHLQ YTRBSHN BANFSHN TSLTSt QRWa (S. ALBQRt, 2:228), dibaca:
walmuthallaqa-tu yatarabbashna bianfusihinna tsala-tsata quru-in, artinya:
Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali
quru'.
Hanya perempuanlah yang ada masa iddah. Prinsip gender oleh Jaringan yang
menamakan diri Islam Liberal (JIL), dimana Siti Musdah Mulia dan para anggota
tim TPG termasuk para penganut/benggolan JIL, meletakkan akal pada posisi
mengatasi wahyu. Prinsip gender yang secara fanatik diletakkan pada posisi
mengatasi wahyu oleh para penganut JIL, membutakan mata hati mereka, lalu
membuat bid'ah, tidak melihat bahwa hanya perempuan yang bisa hamil, laki-laki
tidak.
Hari Jum'at, 18 Maret 2005 sekelompok yang mengaku Muslim dan Muslimah Amerika
sekitar 90 orang melakukan ibadah Jum'at. Ini jum'atan asal-asalan, karena
khatibnya merangkap imam serta muadzzin semuanya perempuan (lahir kosa-kata baru
khatibah, imamah dan muadzzinah, padahal imamah selama ini bukan berarti imam
perempuan). Khatib dan imam perempuan itu konon bernama Aminah Wadud, seorang
doktor berpangkat Associate Professor dalam filosofi dan kajian agama di
Virginia Commonwealth University, Richmond, USA. Sedangkan muadzzin perempuan
itu bernama Suehyla el-Attar yang berucap kepada Al-Jazirah bahwa itu berdasar
atas ingatannya tatkala masih kecil yang didengarnya dari ayahnya sewaktu masih
di Mesir. Parahnya lagi muadzzin perempuan ini betul-betul asal-asalan, karena
berkepala telanjang alias tidak bertutup kain telekung. Betul-betul liberal,
liberte et egalite. Jum'atan asal-asalan ini diselenggarakan oleh yang mengaku
Progressive Muslim Union bertempat di aula Synod House pada Katedral St. John
the Divine. Dalam talkshow di TV Aminah Wadud ini dibela oleh dedengkot dari
JIL.
Yang berikut ini disajikan jenis kelamin laki-laki yang juga kesurupan hantu
Genderisme yang kebablasan tsb:
Dr Nasaruddin(*) Umar, yang juga benggolan JIL, menulis tentang Wacana
Genderisme dan Wahyu untuk Ibu Nabi Musa, ada Nabi yang perempuan. Ini
dibuktikan dengan sebuah wahyu yang menyebutkan... "dan kami wahyukan kepada ibu
Nabi Musa." Wahyu adalah pesan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada seorang
Nabi dan bukan orang sembarangan. Hanya karena pada saat wahyu itu turun, dunia
(Arab khususnya) sangat tidak bersahabat dengan perempuan; maka nabi perempuan
sangat tidak populer, demikian menurut Nasaruddin.
[Sumber:
http://www.suaramerdeka.com/harian/0103/23/kha5.htm Jumat, 23 Maret 2001
Karangan Khas]
Buah pikiran Nasaruddin Umar tentang adanya Nabi perempuan itu menunjukkan bahwa
Nasaruddin berpikir parsial, tidak kaffah, karena dia hanya melihat ayat tentang
ibu Nabi Musa AS yang mendapatkan wahyu. Tidak semua yang mendapat wahyu itu
Nabi. Al-Quran juga menyebutkan bahwa lebahpun mendapatkan wahyu. Apakah lebah
itu boleh disebut Nabi? Kalau mau bersilat lidah bahwa yang dimaksudkan pada
lebah adalah instink, maka simaklah ayat berikut:
-- FB'ATs ALLH ALNBYN MBSyRYN WMNDzRYN WANZL M'AHM ALKTB BALhQ LYhKM BYN ALNAS
FYMA AKhTLFWA FYH (S. ALBQRt, 2:213), dibaca: faba'atsa Lla-hun nabiyyi-na
mubasysyiri-na wamundziriyna waanzala ma'ahumul kita-ba bil haqqi liyahkuma
baynan na-si fi-makh talafu- fi-hi, artinya:
-- Maka Allah membangkitkan nabi-nabi untuk penggembira dan penggentar dan
menurunkan Kitab bersama mereka itu di atas kebenaran untuk (menetapkan
keputusan) hukum (siapa yang benar) di antara manusia tentang perkara yang
mereka perselisihkan (2:213).
Jadi menurut ayat [2:213] barulah perlu dan cukup tentang kriteria seorang Nabi
ialah mendapat wahyu dan mendapatkan Kitab sebagai rujukan untuk menetapkan
keputusan hukum (yahkum). Nasaruddin membuat definisi "seenak" benaknya mengenai
ta'rif (definisi) Nabi. Tidak ada keterangan dalam Nash bahwa Allah SWT
menurunkan Kitab kepada ibu Nabi Musa AS. Tampaklah pula ciri-khas pola pikir
penganut JIL yaitu konfigurasi akal mengatasi wahyu.
***
Yang di atas itu menyangkut ayunan bandul Genderisme ke posisi ekstrem kanan
yang melabrak Syari'ah. Lalu yang mana itu posisi ayunan bandul Genderisme pada
ekstrem kiri? Nah inilah dia paradigmanya: HOUSEWIVES ARE UNPAID SLAVES (Para
isteri adalah budak-budak yang tidak digaji). Di atasnya bertumpulah rumus
Genderisme ekstrem kiri: The abolition of institutional marriage, home and
family, instead men and women living in large communes where the welfare and
rearing of the children would be public responsibility (Penghapusan lembaga
perkawinan, rumah-tangga, menukarnya dengan hidup bersama dalam komunitas kumpul
kebo(**) di mana kesejahteraan dan pemeliharaan anak-anak adalah tanggung-jawab
publik). Na'udzu biLlah min dzalik. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 8 Januari 2006 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
_____________________
(*) Mestinya Nashruddin, kemudian dipreteli secara liberal pakai rumus: +a-h,
shad diubah sin, tanda mati diubah jadi baris-atas, maka menjadilah Nasaruddin.
(**) Komunitas kumpul kebo, adalah sekumupulan kawanan manusia yang seperti
kawanan kerbau (kebo) liar, dimana di dalamnya gonta-ganti tidak ada pasangan
tetap, alias free sex, ya seperti kawanan binatang pada umumnya yang hidup
bergerombol/kawanan.
Apabila disebut perkataan 'jihad', apakah yang terlintas di dalam pikiran
kita? Serta-merta tergambar kesungguhan berkorban yang akan menimbulkan semangat
berjuang hingga ke tetesan darah yang terakhir! Semangat ini memang baik dan
perlu dipupuk bertepatan dengan ketetapan Islam serta kehendak Allah SWT.
Menurut arti bahasa (lughawi), jihad adalah bersungguh-sungguh. Jahada filamri,
artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan mendasarkan pada pengertian
bahasa tersebut, oleh sebagian tokoh agama dan intelektual, kata jihad
diimplementasikan dalam banyak aspek. Maka, menurut mereka, semua kegiatan
kebaikan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah jihad. Menuntut ilmu,
bekerja, atau berbagai kegiatan lain, bila dilakukan secara sungguh-sungguh dan
bertujuan baik semua adalah jihad. Tetapi, jihad tidak boleh dibatasi
pengertiannya hanya menurut arti bahasa saja. Karena di samping arti bahasa,
jihad juga memiliki makna yang digali dari nash-nash syar'i yang menjelaskan
tentang perintah jihad. Berdasarkan pengertian menurut Syari'ah (syar'i) jihad
memiliki arti spesifik, yaitu : "qitaalu lkuffaari fiy sabiyliLlahi li i'lai
kalimatiLlahi", yaitu memerangi orang-orang kafir di jalan Allah dalam rangka
meninggikan kalimat Allah (Islam). Jadi, jihad adalah mengangkat senjata untuk
melawan atau memerangi orang-orang kafir, dalam rangka membela kehormatan Islam
dan kaum Muslimin. Demikianlah menurut definisi yang syar'i, jihad ialah
mengerahkan tenaga untuk mempertahankan/membela Islam dan kaum Muslimin, bagi
mencapai keredaaan Allah. Dari sini nanti akan terbentuk sebuah masyarakat Islam
dan seterusnya akan terbina negara Islam yang sehat. Jihad mesti berterusan
hingga ke hari qiamat. Martabat jihad yang paling rendah ialah jihad di dalam
hati dan yang paling tinggi ialah berperang di atas jalan Allah. Mengorbankan
waktu, harta dan kepentingan diri sendiri demi kebaikan Islam serta ummatnya
juga adalah jihad. Begitu juga dengan menyeru kearah kebaikan dan mencegah
kemungkaran (amar ma'ruf nahyi munkar) serta memperjelaskan hakikat Tawhid
(keEsaaan Allah) juga merupakan sebahagian daripada jihad.
Bagimanakah kedudukan perempuan dalam jihad yang bersih dari Genderisme?
Jawaban atas pertanyaan ini mesti benar-benar difahami supaya sumbangan kita
dalam jihad akan menguntungkan Islam. Oleh karena itu, kita perlu menyingkap
kembali lembaran sejarah Rasulullah SAW untuk mengambil iktibar tentang
persoalan jihad bagi kaum perempuan. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan
Ath-Thabrani, pada suatu hari seorang perempuan bernama Zainab yang bergelar
Khatibatin-nisa' (seorang tokoh perempuan yang pintar berpidato) datang menemui
Rasulullah SAW lalu berkata: "Aku telah diutus oleh kaum perempuan kepada
engkau. Jihad yang diwajibkan oleh Allah ke atas kaum lelaki itu, jika mereka
luka parah, mereka mendapat pahala. Dan jika mereka gugur pula, mereka hidup
disisi Allah dengan mendapat rezeki. Manakala kami kaum perempuan, sering
membantu mereka. Maka apakah pula balasan kami untuk semua itu?"
Bersabda Rasulullah SAW: "Sampaikanlah kepada barang siapa yang engkau temui
daripada kaum perempuan, bahawasanya taat kepada suami serta mengakui haknya
adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi adalah
sangat sedikit sekali daripada golongan kamu yang dapat melakukan demikian."
Pada dasarnya, kaum perempuan disamakan dengan kaum lelaki dalam tanggungjawab
agama samada mengenai aqidah, ibadah dan muamalah, kecuali tanggungjawab yang
khusus yang sesuai dengan fitrah (nature) kaum perempuan. Begitu juga dengan
tanggungjawab jihad yang diwajibkan kepada kaum lelaki tidak diwajibkan kepada
kaum perempuan. Seandainya kaum perempuan berupaya pergi bersama-sama kaum
lelaki ke medan pertempuran, tidaklah ditolak oleh Islam. Bagaimanapun tugas ini
hanya dianggap sebagai sumbangan tambahan. Jelaslah, jihad yang paling utama dan
dituntut kepada setiap perempuan ialah taat kepada suami dan mengakui hak suami,
manakala jihad di luar rumah adalah sumbangan tambahan bagi mereka yang berbuat
demikian.
Oleh sebab itu kita mesti menyakini bahawa berjihad di barisan depan adalah kaum
lelaki, sedangksn jihad kaum perempuan sebagai tulang belakang adalah ketetapan
Allah SWT yang Maha Adil. Kita perlu memahami firman Allah yang bermaksud:
-- WALMWaMNWN WALMWaMNT B'ADhHM AWLYAa B'ADh YAaMRWN BALM'ARWF WYNHWN 'AN ALMNKR
(S. ALTWBt, 9:71), dibaca:
-- walmu'minu-na walmu'mina-ti ba'dhuhum awliya-u ba'dhin ya'muru-na bilma'ru-fi
wayanhauna 'anil mungkari, artinya:
-- Dan orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan
sebahagian mereka (adalah) wali bagi sebahagian yang lain, mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar (At-Taubah, 71).
Alhasil, sudut-sudut jihad perempuan, yaitu:
1. Menjadikan rumahtangga tempat yang bahagia untuk keluarga berkumpul.
2. Mewujudkan suasana Islam dalam proses pendidikan dan pembesaran anak-anak.
3. Menyempurnakan segala urusan rumah tangga menurut syara' dengan penuh
keikhlasan semoga akan beroleh keberkatan.
4. Mengajak sesamanya perempuan memahami prinsip-prinsip Islam dan cara hidup
yang Allah tetapkan.
5. Memerangi perkara-perkara bid'ah, khurafat serta pemikiran yang salah dan
adab-adab yang buruk yang mengusai perempuan masa kini.
6. Menyertai rancangan kemasyarakatan yang berfaaedah untuk umat manusia
umumnya, seperti menjaga anak-anak yatim, organisasi perempuan, sekolah-sekolah
dan bantuan untuk keluarga miskin.
Sebagai kesimpulan, sekali lagi perlu dicamkan bahawa jihad yang utama bagi
perempuan adalah wajib bagi semua muslimah dalam batas kemampuan yang telah
Allah kurniakan. Manakala jihad tambahan yang Allah anugerahkan bersama
keistimewaan tertentu tidak boleh membatalkan jihad yang utama. Jihad utama
mesti dilaksanakan dahulu, yang bagi kaum perempuan keenam butir di atas itu.
WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 15 Januari 2006 [H.Muh.Nur Abdurrahman]