Piringan HitaM

Story CollectioN


Goresan Tinta

Inilah cerpen karya anak desa yang coba hidup dikerasnya ibukota (bener keras rak sie?) hahahahaha

Ramuannya manteb tenan alias sakpore... gabungan antara imajinasi dan opini, imajinasi dan logika serta realita tentunya.

Nikmati dan rasakan kesedapan ceritanya.

Maling NyenrtiK Bag. 1

             Maling! maling! maling! Semua warga kampung berteriak. Semuanya berlarian. Membawa parang, membawa golok, tombak, samurai, clurit, bambu runcing, panah hingga ketapel. Semuanya menyerbu. Semua mengejar. Mengejar si “hitam” yg lenyap di semak belukar dedaunan pohon di malam yang hitam dan kelam. Membuat warga kampung kelimpungan, kebingungan akan si “hitam” yg selalu hilang di telan malam yg hitam. Gerakannya cepat, larinya cepat hilangnya pun cepat. Semua serba instant, seperti noodle instant. Dress code nya serba hitam lalu hilang ditelan gelap malam yg hitam. Sudah 16 rumah yg disatroninya, hilang TV, hilang Tape, hilang duit, hilang keamanan. Dan tak satu pun warga kampong bisa menangkapnya. Tak satu pun anak panah nyangkut di tubuhnya, tak satu pun tombak menancap di dada si “hitam”, tak satu pun golok tertambat di perutnya. Dasar si “hitam”! Warga kampong kewalahan meladeni ketangguhan si “hitam” yg selalu raib di gelap malam yg hitam.

            Semua itu semakin menguatkan keyakinan warga kampong. Bahwa si “hitam” manusia jadi-jadian. Separo manusia, separo makhluk gaib. Manusia yg telah dikendalikan genderuwo krn mempelajari ilmu hitam. Dan kita harus melawannya dgn ilmu putih. Krn demikianlah harusnya, si “hitam” harus dilawan dgn si “putih”. Meskipun tdk sedikit pula, si “putih” terkapar-kapar oleh si “hitam”. Entah dari mana datangnya berita tsb? hingga warga kampong percaya si “hitam” adl manusia jadi-jadian dan ujung-ujungnya warga kampung semakin paranoid. Ah memang benar kata Bung Tan Malaka, bangsa Indonesia memang belum matrealistis. Tidak realistis, masih beraroma mistis, berbau klenik membuat bangsa ini semakin terbelakang, dan gampang di serbu gossip murahan.

            Dan selanjutnya rumah Mbah Slamet—dukun setempat—tdk pernah sepi akan datangnya warga kampong. Meminta ilmu, kekebalan. Meminta jimat, yg akan dibawa terus saat jaga malam, guna lumpuhkan si “hitam”. Tapi anehnya, mereka justru cepat ngantuk ketika matahari telah jatuh di ufuk barat, ketika malam telah menjemput. Jangan-jangan??? ah mana mungkin? Mbah Slamet kan orang yg dihormati, punya dedikasi tinggi terhadap warga kampungnya. Mana mungkin Mbah Slamet si “hitam” itu?? gak mungkin. Kenapa gak mungkin? semuanya seba mungkin terjadi. Apa iya…??

            Menurut analisaku maling itu mencuri rumah penduduk berdasarkan nomer rumah penduduk. Maling tsb mencari nomer rumah penduduk yg bisa dibagi 4 dan membagi 4. Yaitu : 2, 4, 8, 16, 20. Baru aksi malam berikutnya nomer-nomer ganjil. Yaitu : 1,3,5,7. Malam kemarin si “hitam” baru saja membobol rumah Pak Dibyo, nomer rumah 20. Berarti malam ini si “hitam” bakal membobol rumah nomer 9. Dan itu adalah rumahku. Ya, itu rumahku. Si “hitam” akan beraksi membobol rumahku. Aku harus menyiapkan semuanya untuk menangkap si “hitam”. Jebakan, parang, golok dan tombak. Kini si “hitam” tak mungkin bisa hilang lagi, hilang ditelan malam yg hitam.

            Matahari telah menghilang, pertanda malam kan datang Aku telah menyiapkan semua jebakan dan peralatan yg akan melumpuhkan sepak terjang si “hitam”. Aku terus menunggu dan menunggu. Membuat bosan memang, tapi aku harus sabar untuk mencekram si “hitam”. Aku duduk di kursi depan sebelah lemari, membuat aku nampak tak terlihat. Jam di dinding menunjukkan pukul 23:30 malam. Tiba-tiba, GABRUKK, BREKK, BOGHK. Hahahaa. Akhirnya si “hitam” masuk jebakan. Tertangkap. Hahahaha. Bough! bogem mentah meluncur di wajahnya. Bough! pukulan kedua. Bough! pukulan ketiga. Sebelum akhirnya kuikat kedua tangan dan kakinya di kursi makan.

AKU       : “Siapa nama km?” aku bertanya.

Hitam    : “Penting?” Jawab si “hitam” yg kemudian kuhadiahi pukulan keempat. BOUGH!

H           : “Kamto”

A : “Dari kampong mana?”

H : “Harus?” Bough! pukulan kelima telak mengenai hidung.

A : “Dari kampong mana km?

H : “Karang Goyang”

A : “Jancok!!!” Bough! Pukulan ketuju, strike!!! “Kenapa km maling di kampong ini?”

H : “Hukum ekonomi”

A : “Opo maksudmu hukum ekonomi?”

H : “Saya mempunyai pengeluaran tapi saya tdk punya penghasilan dan pemerintah tdk bias create jobs jadilah aku maling seperti ini”

A: “Tai Kucing kw!!!” Prakkk! Kali ini bukan sebuah pukulan melainkan tamaparan. “Gaya sok pake inggris”

H : “Of course, English is international language, we should”

A : “Tai kucing km!” Prakkk! Tamparan keras melayang lagi.

H : “Setidaknya masuk akal bukan? Saya mencuri krn saya miskin, keadaan ekonomi memaksa saya untuk jadi maling, tdk seperti para koruptor2 meski sudah kaya tetep maling duit rakyat, maling duit rakyat jadi gaya hidup pemerintah Indonesia, gak pernah puas maling duit rakyat sampai2 rakyatnya ikut jadi maling seperti saya… korban maling jadi maling”

A : “Intelek juga km ini”

H : “Bukan intelek tapi suara hati”

A : “Ah tai kucing kw!” Bough!!!!

Darah mengucur kental

Mengalir deras,

Butiran merahnya jatuh ke bumi,

Tinggalkan luka,

perih

Bau amis darah memekak dada

Bau amis darah dari raykat msikin

Korban ketidakadailan

Penguasa bajingan

Bau amis darah dari raykat msikin

Yang rela darahnya berubah hitam

Terhisap

Lintah persetan

 

BERSAMBUNG...

Apa yang akan terjadi dengan si Hitam? apakah si Hitam akan mati

ataukah berubah menjadi Genderuwo? dan bagaimana pula dengan

nasib Penulis? 

Saksikan kelanjutan kisahnya minggu depan...

Semalam di Cuba

 Akhirnya kupijakkan kakiku di Cuba. Tanah rebellion, saksi bisu kemenangan Che dan Castro atas Fulgecio Batista, kemenagan para rebellion-revolusioner, kemenangan rakyat atas tumbangnya tirani! Bagai mimpi di terik mentari, siang panas sungguh dahaga. Kemarin aku punya rencana ke Bali, berkunjung ke Electro Hell. Terbawa ke Thailand, mampir ke Golden Triangle—ladang ganja yg sangat luas—hingga aku bertemu Diego, akrab, bersahabat, orang yg menemani hari-hariku di negaranya Fidel Castro.

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya. Aku tdk lagi berkeliling kota tapi aku mengunjungi tempat-tempat bersejarah para rebellion-revolusioner, diantarnya adalah Mr. Che Guevarra dan Mr. Fidel Castro. Aku terkejut, sama seperti saat aku kesetrum kable USB di rumah, aku dibawa Diego ke sebuah lapangan? entah hutan? entah rimba? I don’t know exactly, tapi benar adanya aku berada di sebuah tempat bersejarah. Tanah ini saksi bisu tentara gerilyawan Che dan Castro memenangkan pertempuran atas pasukan battalion Fulgecio Baptista.

Antara percaya dan tidak, seperti saat aku pertama kali bisa jalan didepan Ayah dan Ibuku. Tapi mudah bagiku untuk percaya, krn kakek Diego adl salah satu pasukan gerilyawan dibawah komando Mr. Fidel Castro, hebatnya lagi dlm 55 kali pertempuran kakek Diego tdk pernah tertembak sekalipun.

“Demikianlah sobat kecilku, aku adalah pasukan Divisi II dibawah komandan Castro. Kalo engkau tdk percaya datang ke istana Castro tanyakan apakah dia kenal Gelio Sarossa? Pasukan divisi II, senjata AK 47 bertopi baret?” ungkap Mr. Gelio sembari menghisap cerutu yg katanya pemberian Castro.

            Poto-poto drinya bersama Che dan Castro terpajang di dinding-dinding tembok rumahnya. Bahkan terpajang poto ketika Che Berpidato didepan rakyat Cuba atas kemenangannya ia nampak di belakang Che. Gagah memang Mr. Gelio muda membawa ingatanku pada mendiang kakek. Meski harus saling berkejaran dgn usia, raut wajah beliau nampak semangat, spirit of live nya masih begitu tinggi, sense of rebellionnya masih terpancar diantara dua bola matanya.

            Belum ada satu jam aku menikmati suasana hutan bersejarah itu, kini aku tengah berada dlm perjalanan menuju kedai kopi “Dominoz”. Kata Diego dan kakeknya bahkan orang2 sekitar kedai kopi ini adalah salah satu tempat bersejarah. Che dan Castro sering minum kopi di “Dominoz” sekedar ngobrol-ngobrol sampai mengatur strategy untuk berperang menumbangkan tirani! Terkejut, lagi-lagi aku terkejut kali ini lebih mirip ketika melihat jutaan bintang di langit berteman akrab dgn cahaya rembulan penuh sempurna. Poto-poto Che dan Castro serta poto-poto pasukan gerilyawan benar2 tertata rapi disetiap sudut ruangan kedai kopi itu, it’s fucking amazing. Gak pernah nyangka gw bisa sampai ke tempat ini, liburan semester ini benar-benar akan jadi moment bersejarah untuk kehidupanku selanjutnya. Setidaknya ini bisa membangkitkan sense of rebellion dan sense of revoluisonerku mencapai angka 100%.

            Di kedai kopi itu aku memesan “Black Flamento” kata baristanya (pembuat kopi) minuman itu kesukaan Che dan Castro, mereka mempunyai selera yg sama about coffee but different about cigarette (cerutu). Diambilkan dua buah cerutu untukku, satu kesukaan Che dan satunya kesukaan Castro. Kuambil dua2nya, kuhisap dua2nya aku tahu ini tak akan habis tapi rasa penasaran yg begitu tinggi bercampur sugesti siapa tahu setelah menghisap dua cerutu ini akan muncul new Castro dan new Che yg mempunyai dedikasi tinggi terhadap kaum murba? Menjadikanku melupakan segalanya. Tapi memang berbeda rasa kedua cerutu itu, yg kesukaannya Che terasa lebih keras dan langsung nendang ke paru-paru.

            Malam semakin hitam, hembusan angin semakin tajam. Saatnya kembali ke hotel. Dan seperti malam2 sebelumnya Diego enggan menginap di hotelku tanpa memberikan alasan. Sumpah ini benar-benar gila, gak pernah terpikir olehku untuk sampai ke Cuba, mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan bertemu dgn Mr. Gelio Sarossa eks pasukan divisi II. Seiring kutatap langit-langit kamar, seiring pula mataku terpejam. Kali ini bukan sinar mentari yg keluar dari ufuk timur yg membangunkanku tapi rasa lapar yg mencengkramku. Segera ku turun ke lobi hotel untuk cari makan. Tapi pasti akan seperti kemarin aku gak doyan masakan Cuba, dan yg terjadi bukan kenyang tapi malang!. Segera kuhampiri room boy yg tengah berjalan kira-kira 3 meter tepat di depan mataku.

“Excuse me, can you let me know about MacDonald’s corner around here?

“What??!!” (mimik muka kesal, bingung rada marah)

“Km pikir ini Berlin, bisa dgn mudah mendapatkan outlet2 McD?” Jawab room boy itu dgn nada kesal.

“oke-oke, I am sorry” Balasku.

            Segera kuangkat kakiku untuk kembali ke kamar. Berharap Diego cepat datang, krn aku tdk bisa menghubunginya, he doesn’t has a mobile phone. Pasti krn kapitalisphobia! Belum lima menit kubawa otakku kedlm kondisi kosong. Tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun, der..der..der..der..der..der! dari segala penjuru. Oh shit!! What the hell is happening?aku yakin itu suara senapan M-16. Disusul tembakan yg diulang-ulang dan pasti itu AK-47. oh my God.. save me God.. save me. Diego dimana km?cepet datang! Tolong!.. Tolong! Ini pasti ulah milisi bersenjata yg tengah berseteru dgn pasukan Castro!, pikirku. Namun setelah kuintip dari jendela dugaanku salah!, mereka tentara Cuba yg menyerang hotel ini!. Ada apa dgn hotel ini?! Oh shit!! Aku gak mau mati konyol disini! Tolong! Aku berpikir untuk menelpon Castro minta pertolongan, aku tahu nomer telepon Castro dari Gelio, tapi Castro tdk mengenalku bahkan bertemu pun belum pernah! Sulit bagi Castro untuk mudah mempercayaiku! Tolong!

            Berpikir untuk menghubungi Mr. Hugo Chaves, frontman Venezuela. Berniat mennghubunginya krn dia sahabat mendiang kakek saya. Mr. Chaves dulu satu kelas dgn mendiang kakek saya saat duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Taman Kanak-Kanak itu bernama “TK Gerlyawan”. Kata ayah saya dulu Mr. Hugo Chaves sering mengendong saya saat masih bayi berkeliling kota Pekalongan, makan di “Sego Sotong Usman” (Usman adalah PKI golongan 2) ketika berkunjung ke Pekajangan dlm rangka silaturahmi dgn Kakek saya. Akhirnya kuputuskan untuk menelponnya. Der..der..der.. dor! DOUM! Suara ledakan terus terjadi.

“Halo? Mr. Hugo Chaves?”

“Halo? Who is speaking?”

“I am adhi, Mr., Cucunya Kakek Djumhan”

“Hmmm.. yeh I know.. so where..”

“Saya dlm bahaya Mr. Saya di Cub..” (der..der..der..! der..der..der..!)

Ada suara tembakan dmana km??!!”

 “Saya di Cuba, di Hotel Capitol, tentara Cuba menyerang hotel ini!”

“Oh my God.. shit! Itu hotel milik pengusaha Amerika, hotel itu memang sudah direncanakan akan di hancurkan”

“Tolong saya Mr.”

“oke..oke saya akan menghubungi Castro.. keep yourself kids”

Belum pembicaraan ditelephone usai, alat peluncur roket menghempas ke arah kamarku. Menghancurkan semua yg ada, hitam kelam tak bertuan, gelap bimbang melayang tak terarah. Aku terbang kearah hitam pekat tak bersekat. Lalu kudapati diriku terhempas di sebuah tempat tidur memegang bed cover berlukiskan Uncle Marley. Kutolehkan pandanganku ke arah kiri, kuliat poto diriku terpajang bersama kakak2ku dan orang tuaku, kuarahkan mataku ke ujung dinding dekat lemari, kujumpai potret diriku bersama sahabat2ku, ku paksakan mataku ke arah dinding dekat jendela kuliat poto diriku memegang stick drum. Akhirnya kutengadahkan mataku menatap langit-langit kamar, menuju satu sinar. Sinar lampu yg semalam aku lupa mematikannya.

Maling NyenTriK Bag. 2

                      Pagi telah menjemput. Pagi yang belum matang karna sinar mentari belum datang. Tampakkan cahaya emasnya. Udara dingin menyekap ruang, ciptakan embun di untaian rumput ilalang. Aroma pagi memang khas tidak seperti aroma malam yang sering berubah-rubah. Pagi ini sinar mentari terlambat menjemput, mungkin semalam mentari bercinta dengan sang bintang di tengah kegelapan malam. Akhirnya sinar oranye datang perlahan, sempurnakan pagi. Sinar itu hangatkan jiwa namun tidak untuk membakarnya. KUK KURUYUK. KUK KURUYUK.  Ah… Ayam sekarang memang gak jauh beda dgn kebanyakan manusia. Alias PEMALAS! Aturan, suara Ayam itu telah memanggil 2 jam yang lalu. Pantesan akhir-akhir ini warga kampong banyak yang telat bangun pagi ini pasti karna Ayam dikampung ini pada malas bangun pagi. Sudah terkontaminasi budaya DABLEK! Dasar Ayam!

                        Segera ku bawa si Kamto alias si Hitam ke POSKAMLING. Dugaanku memang benar dan berarti tidak salah, semua warga yang ditugaskan untuk jaga malam terlelap tidur. Padahal semua makanan dan cemilan sudah diberikan berharap bisa usir kantuk dan selalu terjaga. Tapi apa boleh buat tapi kambing memang bulat, makanan ludes, semua tidur pules. Kang Sumitro langsung terjaga dari tidur pulesnya, “Ada apa ini?” “Siapa ini?”

      “Ini kang, maling yg dicari-cari warga alias si Hitam itu” jawabku.

      “Mana dia, mana dia?!” Sergah De Wasno. Sembari reflek mengeluarkan ajian Tapak Sewu. Dan tidak lain, tidak bukan De Wasno tengah mengigau di pagi yang cerah.

      “Kalo begitu kita panggil semua warga. Kita bawa kampret ireng ini (baca: Hitam) ke kelurahan” Kali ini De Wasno tidak sedang mengigau.

      “Gak usahlah De… kita langsung bawa ke Kantor Pulisi saja” aku menyarankan.

      “Tidak bias begitu, kampret ireng ini telah meresahkan warga, jadi biar warga tahu siapa dia dan puas nggebuki (baca: pukul)!”

      AGH DEZEK!!! Kali ini ajian Tapak Sewu De Wasno benar-benar mutlak menghantam si Kampret alias si Hitam alias si Kamto.

                        Malang benar nasib si Hitam alias si Kampret alias si Kamto. Setelah semalam menerima tinjuku berkali-kali kini harus siap menghadapi tinju semua warga kampong yang geram akan sepak terjangnya. Tapi itulah konsekuensi berprofesi sebagai maling, peradilan rakyat bisa menjemput kapan saja. Puas menginterograsi si Hitam, puas menjotosi (baca: pukul) si Hitam akhirnya warga menyerahkannya ke Pulisi (ya Pulisi bukan Polisi, warga kampong tidak kenal Polisi tapi Pulisi. Demikianlah warga kampong memanggil Polisi dgn kata “Pulisi”)

                        Keesokan harinya berita penangkapan si Hitam menyebar cepat. Bagai aliaran air yg deras mengalir tanpa bisa terbendung seperti banjir di Jakarta tatkala musim penghujan telah tiba. Berita ini meyebar lebih cepat ketimbang berita kasus lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, menyebar ke seluruh warga didesa, tetangga desa, bahkan sampai tetangga kecamatan. Dan dalam hitungan detik bahkan lebih cepat dari hitungan detik, namaku menjadi buah bibir alias selebritis dadakan. Semua sudut-sudut desa, semua warga desa membicarakan kehebatanku karma mampu menangkap si Hitam. Warga desa percaya bahwa aku adalah titisan Kyai Kanjeng Sultan Agung, Raja Mataram. Mereka menganggap aku adalah reinkarnasi Raja-raja Mataram. Roh-roh Raja Mataram telah bersatu, berkumpul dalam jiwaku kata mereka.

                        Kini semua warga menghormatiku, memujiku dan menyanjungku. Dan antrian panjang itu tidak lagi di rumah Mbah Slamet tapi berpindah kerumahku. Antrian ini bukan ngantri jatah sembako, bukan ngantri minyak tanah, bukan ngantri BBM dan juga bukan ngantri dana santuan raskin seperti di TV-TV itu. Antrian ini meminta jimat, minta ajian, minta pelet dan segala hal lainnya yg masih saudaraan dengan pelet. Klenik. Mistis. Dan diantara antrian itu terdapat Mbah Darmo, pria kaya raya yg sudah bau tanah, berumur 79 tahun tapi masih doyan nikah, doyan kawin, doyan golek bojo (baca: nyari istri) padahal semua warga tahu dia sudah punya 3 istri. Dasar wong edan! Edan! Memang edan!

“Ayolah dik… Bantu Mbah… biar Lasmi mau dikawin sama Mbah..”

“Pye tho Mbah… Mbah ini kan udah punya 3 kok masih mau  nambah?”

“Loh.. batesnya kan 4… Mbah baru punya 3… ya kurang 1 tho?? Njih mboten?”

“Yo tapi kasian Lasmi tho Mbah… Lasmi iku ayu, semok, bunga desa lha kok dapatnya pria lapuk kaya simbah… opo sih biso ‘ngantop’ Mbah? Udah reot kayak githu? Nanti Lasmi gak bias puas kalo sama simbah”

“Ojo ngece sampeyan… tua-tua kini tapi tenaga masih kuat. Sakpore tenan… sembarangan aja kamu”

“Tapi saya ini bukan dukun Mbah. Bukan saya gak mau bantu… tapi saya ini memang bukan dukun, bukan titisan Kyai Kanjeng Sultan Agung.. Aku yo podo bek simbah… makan nasi keluar tai… aku gak makan beling lho Mbah, aku gak makan paku… aku yo makan nasi podo bek simbah”

                         Semuanya berlangsung begitu cepat. Gossip telah menyebar. Semua warga telah terlanjur percaya kalo aku titisan Kyai Kanjeng Sultan Agung. Aku harus meluruskan semua ini. Aku pun segera mengadakan kumpul warga, kalau bahasa ibukotanya konfrensi pers, klarifikasi. Mulailah aku menjelaskan detil-perdetil, akar dari semua persoalan ini, intinya bahwa aku ini bukan dukun, bukan titisan Sultan Agung, aku iku yo manungso biasa, manganne sego, ngisingi ndodok (aku ini ya manusia biasa, makannya nasi, kalo beol jongkok). Namun warga tidak percaya begitu saja, antrian dirumahku tetep panjang dan semakin memanjang. Hingga akhirnya warga percaya kalo aku bukan titisan Sultan Agung setelah tahu rumahku dibobol maling. 1 kerbau hilang, 3 kambing raib, 1 sepeda ontel lenyap, 1 radio butut juga ikkut dibawa. Dasar maling jancok! Kejadiannya seminggu setelah aku melakukan kumpul warga. Ternyata si Hitam belum musnah, si Hitam masih berkeliaran. Dan ketenangan warga pun hilang lagi terganti oleh kecemasan dan ketakutan. Kalo si Hitam masih berkeliaran lalu siapa si Kamto itu? Apa kamto lari dari bui?

 

 

BERSAMBUNG...

Saksikan kelanjutan kisahnya... kapan? tidak pasti.

Makanya tongkrongin terus Blog ini...

Thanks a LoT

Create a free website at Webs.com