Dasar-dasar Fotografi

 

Untuk melakukan suatu pemotretan, satu hal yang mutlak diperlukan adalah cahaya. Baik cahaya yang tampak seperti pemotretan biasa ataupun cahaya yang tidak tampak seperti dalam pemotretan dengan infra merah atau sinar X untuk rontgen.

Jumlah cahaya yang digunakan untuk membentuk suatu gambar tergantung pada  Kepekaan media (ASA/ISO), Kecepatan/Shutter Speed dan Diafragma.

1. Kepekaan media terhadap cahaya (ASA/ISO).

Media yang dipakai dalam fotografi konvensional adalah suatu lapisan tipis (film) yang peka terhadap cahaya berupa butiran-butiran halus. Kepekaan terhadap cahaya ini dikategorikan dengan satuan ASA/ISO.

Angka untuk ASA/ISO yang digunakan adalah 25, 50, 100, 200, 400 dan seterusnya yang merupakan kelipatan dari angka sebelumnya. Semakin besar angka ASA/ISO maka semakin peka terhadap cahaya dan memiliki butiran yang semakin kasar.

Penggunaan ASA/ISO dengan angka yang besar memungkinkan pemotretan dengan hanya sedikit cahaya seperti dalam ruangan, sore hari/mendung tetapi mempunyai efek hasil gambar yang kasar terutama dalam pencetakan gambar yang besar. Sedangkan ASA/ISO yang kecil membutuhkan banyak cahaya tetapi menghasilkan gambar yang halus dalam pembesarannya.

2. Kecepatan/Shutter speed.

Kecepatan/shutter speed adalah suatu mekanisme di dalam kamera yang mengatur lamanya cahaya yang masuk ke dalam kamera dalam satuan detik.

Angka yang tertera di kamera adalah B, 1, 2, 4, 8, 15, 30, 60, 125, 250, 500 dan seterusnya yang merupakan kelipatan angka sebelumnya. Angka maksimal untuk Kecepatan/Shutter speed tergantung pada kemampuan dari kamera tersebut.

Angka-angka tersebut bukanlah angka yang sebenarnya dalam detik tetapi merupakan penyebut dari pecahan satu per ( 1/x) sehingga dengan angka yang tertera sebesar 60 maka cahaya yang masuk adalah satu per enam puluh detik (1/60 detik).

Efek yang ditimbulkan pada perubahan Kecepatan terutama pada benda bergerak. Benda bergerak yang di ambil dengan kecepatan tinggi akan terlihat diam dan yang diambil dengan Kecepatan rendah akan terlihat garis memanjang.

3. Diafragma

Diafragma adalah suatu mekanisme dalam kamera (lensa) yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke kamera. Bagian ini terdapat dalam susunan lensa berupa lembaran membentuk lubang/lingkaran yang bisa berubah ukuran. Semakin besar pembukaan diafragma maka semakin banyak cahaya yang masuk dan sebaliknya semakin kecil bukaan diafragma maka semakin sedikit cahaya yang masuk.

Angka yang biasanya tertera untuk diafragma adalah 1,4 - 2,8 - 4 - 5,6 - 8 - 11 - 16 dan 22. Angka yang besar menunjukkan bukaan diafragma yang kecil dan angka semakin kecil maka bukaan diafragma menjadi besar.

Banyaknya angka diafragma dalam suatu lensa tergantung juga pada kemampuan lensa untuk meneruskan cahaya. Misalnya lensa Sudut Lebar/Wide angle dengan susunan lensa sedikit dan pendek akan lebih banyak memasukkan cahaya, biasanya angka diafragma bisa mencapai 1,4 sedangkan pada lensa tele yang susunan lensanya lebih banyak dan panjang biasanya diafragma terendah sekitar 4 atau 5,6. Untuk keperluan khusus ada juga lensa tele dengan diafragma hingga angka 1,4 yang biasanya memiliki lensa yang sangat besar.

Diafragma mempunyai efek pada gambar yang disebut Depth of Field atau Ruang Ketajaman. Misalnya dengan menggunakan diafragma 1,4 atau dengan bukaan lebar maka semua benda sebelum dan sesudah obyek akan terlihat buram. Sedangkan pada penggunaan diafragma 22 atau bukaan kecil benda di depan obyek focus dan di belakangnya akan terlihat jelas.

            

Diafragma bukaan lebar (angka kecil).   Diafragma bukaan kecil (angka besar).

4. Hubungan ASA/ISO, Kecepatan dan Diafragma.

Ketiga komponen yang mengatur masuknya cahaya ke dalam kamera tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk jumlah cahaya yang masuk dengan porsi yang sama maka dengan perubahan salah satu faktor tersebut harus diimbangi dengan perubahan yang lainnya.

Sebagai contoh, suatu obyek di foto dengan ASA 100, 1/60 dan 5,6 maka bila kita menggunakan ASA 200 maka akan sama hasilnya dengan urutan 1/125 dengan 5,6 atau menggunakan 1/60 dengan diafragma 8.

Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah dengan asumsi cahaya normal untuk suatu obyek, ASA 100, Kecepatan 1/60 dan diafragma 5,6.

1

2

4

8

15

30

60

125

250

500

25

22

16

11

8

5,6

4

2,8

1,4

50

22

16

11

8

5,6

4

2,8

1,4

100

22

16

11

8

5,6

4

2,8

1,4

200

22

16

11

8

5,6

4

2,8

400

22

16

11

8

5,6

4

800

22

16

11

8

5,6

1600

22

16

11

8

3200

22

16

11

Semua pengaturan dalam tabel di atas akan menghasilkan jumlah cahaya yang sama. Pengaruhnya akan terlihat terutama pada Depth of field. yang akan dibahas secara terpisah.

5. Alat bantu pencahayaan.

Untuk membantu pencahayaan dalam suasana yang redup digunakan lampu atau flash/blitz. Disini hanya akan dibahas mengenai flash.

Pengambilan gambar dengan  flash biasanya maksimal menggunakan Kecepatan 1/60 detik. Beberapa kamera mempunyai kemampuan hingga 1/250 detik bila menggunakan flash. Pada umumnya angka Kecepatan tersebut mempunyai warna yang berbeda di kamera.

Untuk efek khusus dapat digunakan Kecepatan di bawah angka tersebut tetapi tidak dapat menggunakan melebihi angka maksimalnya.

Mengapa bisa menggunakan yang lebih lambat tetapi tidak dapat menggunakan yang lebih cepat ?

Lihat ilustrasi di bawah untuk membandingkan pemakaian flash pada beberapa tingkat Kecepatan/Shutter speed dengan asumsi fasilitas penggunaan flash pada 1/60 detik. (Gerakan sekat bukan kecepatan yang sebenarnya).

Tunggu hingga loading selesai . . . .

Kecepatan 1/30 detik

  Kecepatan 1/60 detik.

  Kecepatan 1/125 detik

 

Pada Kecepatan 1/30 detik, flash menyala pada saat terbuka penuh dan beberapa saat kemudian sekat kedua baru menutup.

Pada kecepatan 1/60 detik (maksimal dari fasilitas kamera). Flash menyala pada saat frame terbuka penuh dan sekat kedua segera menutup sehingga tidak ada tenggang waktu setelah flash menyala.

Pada kecepatan 1/125 detik atau lebih cepat, sebelum sekat pertama mencapai sisi seberang, sekat kedua sudah mulai menutup sehingga frame tidak terbuka secara penuh pada saat flash menyala. Hasil gambar biasanya akan hitam pada salah satu sisinya sebagai bayangan dari sekat yang menutupi film.

Pengaturan diafragma dalam penggunaan flash mengikuti tabel yang tertera pada flash tersebut. Hal ini disebabkan setiap flash mempunyai kekuatan cahaya yang berbeda.

 

NEXT

HOME

LINKS

FOTO

Dasar-dasar Fotografi

Dasar-dasar Fotografi Lanjutan

Setting Akuarium

Tips

Website, disain 3D, Foto dan Materi oleh Agung Ariawan