1. Perpecahan besar pertama Gereja, terjadi pada
tahun 1045 yang disebut “Schisma besar”,
yaitu perpisahan antara Gereja ...... dan ? .........Ä Barat dan Timur yang berpusat di Roma
2. Munculnya
Reformasi Gereja yang dipelopori oleh Marthen Luther tahun 1517 di kota
Witenberg (Jerman) melahirkan Gereja ? .........Ä Gereja Protestan
3. Injil
datang di Indonesia melalui kedatangan orang-orang ........ dalam tahun 1512,
yang membawa misi gereja Katolik Portugis
4. Tahun
1806 datanglah orang-orang Belanda yang beragama Kristen Protestan melalui misi
penginjilan Gereja Protestan Blanda yang biasa dikenal dengan ? .........Ä
NZG
5. Tahun
1817, Pemerintah Belanda di Indonesia mengatur bahwa Gereja di Indonesia harus
diorganisir oleh Pemerintah, sehinggaa Gereja di Indonesia ketika itu menjadi
apa yang disebut ? .........Ä Gereja
Negara
6. Siapa
yang menjadi pionir misi di Minahasa yang datang di Manado pada tahun 1827
bersamaan dengan usaha pendidikan? .........Ä G.J.Helendoorn
7. Pada
tangaal .......... GMIM dinyatakan sebagai Agereja yang berdiri sendiri oleh
GPI (Gereja Protestan di Indonesia) 30 September 1943
8. Sejak
berdiri GMIM telah dipimpin oleh ....... Ketua 12
Ketua Sinode
9. Siapa
Ketua Sinode GMIM pertama? .........Ä Dr. E.A.A. De Vreede (1934 – 1935)
10. Siapa
Ketua Sinode GMIM terakhir? .........Ä Pdt. Dr. A. O. Supit, MA (2005 – sekarang)
11.
Sebutkan
ketua sinode dari pertama hingga ke 12 ? .........Ä
1.
Dr. E.A.A. De Vreede (1934 – 1935)
2.
Ds. C. D. Buenk (1935- 1937)
3.
Ds. H. H. Van Herwerden (1937-1941)
4.
Ds. J. P. Locher (1941-1942)
5.
Ds. A. Z. R. Wenas (1942-1952)
6.
Ds. M. Sondakh (1951-1954)
7.
Ds. A. Z. R. Wenas (1955-1968)
8.
Ds. R. M. Luntungan (1968-1979)
9.
Pdt. Dr. W. A. Roeroe (1979-1990)
10. Pdt. K. H. Rondo , MTh (1990-1995)
11. Prof. DR. W. A. Roeroe (1995-2000)
12. Pdt. Dr. A. F. Parengkuan (2000 – 2004)
13. Pdt. Dr. A.O. Supit, MA (2005-sekarang
12. GBPU
singkatan dari ? .........Ä Garis Besar Pelayanan Umum
13. SBPSL
singkatan dari ? .........Ä Sidang Badan Pekerja Sinode Lengkap
14. Sebutkan
tiga aspek yang tercakup dalam panggilan gereja. ? .........Ä
Persekutuan (koinonia), Kesaksian (marturia) dan Pelayanan (Diakonia)
15. Pada
Abad ke berapa penginjilan dari Asia yaitu orang-orang NESTORIA mengabarkan
Injil sampai ke ujung Asia termasuk Minahasa ? .........Ä
Abad ke 7
16.
Pada tanggal berapakah sesudah penginjil Asia datang Penginjil
Eropa ke Manado dari Ambon dan siapakah mereka ? .........Ä
12
JUNI 1831 mereka adalah
1). JOHANN FRIEDRICH RIEDEL DAN
2). JOHANN GOTTLIEB SCHWARZ
17. Kapan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil dan
Pendidikan Kristen di tanah Minahasa ?
.........Ä 12 JUNI UNTUK THN INI YG
KE-174 TAHUN
18. Mengapa tanggal setiap 12 Juni diperingati
sebagai hari ulang tahun PI dan Pendidikan Kristen di tanah Minahasa? .........Ä Karena pada tanggal tersebut merupakan tanggal tibanya
penginjil dari Eropa dari Ambon dan demi menghormati mereka.
19. Riedel melayani Minahasa sedangkan Schwarz
melayani di Langowan pada tanggal ? .........Ä 12 OKTOBER 1860
20. Apa nama Yayasan Penginjilan Nederland dalam
usaha penginjilan di Minahasa ? .........Ä NZG (NEDELANDS ZENDELING
GENOOTSCHAP) 1959
21. NZG didirikan oleh orang-orang Kristen yang
dipengaruhi oleh PIETISME. Apa yang
dimaksud dengan Pietiems ? .........Ä PIETIEME ADALAH SUATU ALIRAN TEOLOGI
YANG MEMUSATKAN PERHATIAN PADA PERTUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN IMAN DALAM
KEHIDUPAN PRIBADI.
22. Sejarah Penginjilan Minahasa berjalan
bersamaan dengan usaha Pendidikan G.J. Helendroorn yang dapat disebut . ?
.........Ä PIONER MISI DIMINAHASA YANG DATANG DI MANADO TAHUN 1827
23. Kekristenan tersiar di daerah pedalaman
Minahasa sejak 2 orang hasil didikan PIETISME di BERLIN yaitu :… ? .........Ä
JOHANN FRIEDRICH RIEDEL (TONDANO
1829-1860) DAN
JOHANN GOTTLIEB SCHWARZ (KAKAS
DAN LANGOWAN 1831-1850)
24. GMIM dinyatakan
sebagai gereja yang berdiri sendiri dalam persekutuan gereja protestan pada
tanggal ? .........Ä 30 September 1943
25. Pada tanggal 30
September dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun….........Ä GMIM
(untuk yang sekarang HUT ke-63 tahun untuk September 2005)
26. Hari Ulang Tahun
Alkitab jatuh pada tanggal ….........Ä 31 OKTOBER
27. Berapa Jumlah Jemaat
GMIM dan Wilayah hingga sekarang (2005) ….........Ä 818 JEMAAT DALAM 91 WILAYAH
Bermulanya
Minahasa dikenal di Peta Dunia
KUTIPAN DARI Harry Kawilarang
Simon Kos, seorang Belanda, pejabat VOC di Ternate pada tahun 1630 memasuki
tanah Minahasa dibawah pengaruh Spanyol. Kos melaporkan hasil
perjalanannya kepada Batavia yang waktu itu menjadi pusat pemerintahan
dibawah kekuasaan persekutuan dagang, ‘Verenigde Oost-Indiesche
Compagnie.” Kos melaporkan bahwa Sulawesi Utara cukup potensial, baik
lahan maupun posisi letaknya strategis sebagai jalur lintas rempah-rempah dari
perairan Maluku menuju Asia-Timur. Lagi pula jalur lintas niaga laut lebih
tenang bagi pelayaran kapal-kapal kayu dibanding melalui Laut Cina Selatan. Kos
melaporkan bahwa kehadiran Spanyol di Laut Sulawesi hingga perairan
Maluku Utara merupakan ancaman bagi kepentingan niaga VOC bila ingin menguasai
gudang rempah-rempah kepulauan Maluku.
Laporan Simon Kos mendapat perhatian dari Jan Pieter Zoon Coen,
Gubernur-Jendral VOC di Batavia yang ingin mengusir Spanyol dari kepulauan
Maluku Utara guna melakukan monopoli. Usaha perluasan pengaruh di Laut Sulawesi
memperoleh peluang bagi VOC terjadi disaat penduduk Minahasa berjuang
menghadapi kolonialisme Spanyol. Minahasa mengalami rawan sosial, dan wanita
setempat menjadi korban pemerkosaan dari para musafir Spanyol.
Masa itu VOC memperoleh dukungan dari pemerintahannya yang dilanda trauma
kolonialisme Spanyol di Eropa Utara, termasuk Belanda. Invasi itu
menyebabkan Belanda perang kemerdekaan di pertengahan abad ke-16 yang
mashur dengan sebutan Perang 80 tahun. Spanyol kalah, dan kekalahannya
berlanjut hingga Asia-Timur dan Asia-Tenggara serta kawasan Pasifik
Barat-Daya. Selain dengan Spanyol, Belanda juga memusuhi Portugis
yang juga menjadi saingannya dalam usaha perluasan koloni. Yang terakhir
ini juga berlomba adu pengaruh dengan Spanyol memperebutkan gudang
produksi rempah-rempah di Maluku sebelum pembentukan pemerintahan
gabungan Portugis-Spanyol pada 1580.
Menado Dalam Peta Dunia
Pengenalan tanah Minahasa oleh bangsa-bangsa Barat diawali dengan
kedatangan musafir Spanyol pada 1532. Bermula sejak bandar Malaka
didatangi kapal-kapal Portugis pimpinan D'Abulquergue pada 1511 membuka
jalur laut menuju gugusan kepulauan Maluku. Jalur ini kemudian baru
dimapankan pada 1521. Sebelumnya kapal-kapal Spanyol pimpinan Ferdinand Magelhaens
merintis pelayaran dalam usaha tujuan serupa yang dilakukan Portugis. Bedanya
jalur ini dilakukan dari ujung benua Amerika-Selatan melintasi samudera
Pasifik dan mendarat di kepulauan Sangir Talaud di laut Sulawesi.
Sebelum menguasai kepulauan Filipina pada 1543, Spanyol menjadikan pulau
Manado Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar. Dari
pulau tersebut kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi-Utara
melalui sungai Tondano.
Hubungan musafir Spanyol dengan penduduk pedalaman terjalin melalui
barter ekonomi bermula di Uwuran (sekarang kota Amurang) ditepi sungai
Rano I Apo. Perdagangan barter berupa beras, damar, madu dan hasil hutan
lainnya dengan ikan dan garam.
Gudang Kofi
Minahasa menjadi penting bagi Spanyol, karena kesuburan tanahnya dan
digunakan Spanyol untuk penanaman kofi yang berasal dari Amerika-Selatan
untuk dipasarkan ke daratan Cina. Untuk itu di-bangun Manado sebagai menjadi
pusat niaga bagi pedagang Cina yang memasarkan kofi kedaratan Cina. Nama
Manado dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚
pada 1541. Manado juga menjadi daya tarik masyarakat Cina oleh kofi sebagai
komoditi ekspor masyarakat pedalaman Minahasa. Para pedagang Cina
merintis pengembangan gudang kofi (kini seputar Pasar 45) yang kemudian
menjadi daerah pecinan dan pemukiman. Para pendatang dari daratan Cina
berbaur dan berasimilasi dengan masyarakat pedalaman hingga terbentuk
masyarakat pluralistik di Minahasa bersama turunan Spanyol, Portugis dan Belanda.
Kemunculan nama Manado di Sulawesi Utara dengan berbagai kegiatan niaga yang
dilakukan Spanyol menjadi daya tarik Portugis sejak memapankan posisinya di
Ternate. Untuk itu Portugis melakukan pendekatan mengirim misi Katholik ke
tanah Minahasa pada 1563 dan mengembangkan agama dan pendidikan Katholik.
Lomba Adu Pengaruh di Laut Sulawesi
Sebenarnya kedatangan Portugis ke Minahasa adalah kehendak kesultanan Ternate
yang waktu itu berada dibawah kepemimpinan Sultan Hairun yang mengklaim bahwa
Sulawesi-Utara sebagai fazal ekonomi kesultanan yang diganggu Spanyol. Sultan
Hairun juga menggunakan kekuatan Portugis untuk "menjinakkan"
masyarakat "Alifuru" yang tidak ingin tunduk kepada
kepemimpinan kesultanan Ternate.
Kedatangan para musafir Portugis diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk
setempat, tetapi tidak disenangi Spanyol, karena menjadi saingan. Dilain pihak
penduduk setempat tidak menyenangi Spanyol karena sering membuat onar, apalagi
merusak sentra-sentra ¨budaya masyarakat pedalaman. Persaingan Spanyol dengan
Portugis memuncak hingga Minahasa menjadi ajang konflik. Pertikaian berakhir
dan Spanyol memperoleh konsesi di Sulawesi Utara ketika Spanyol dan Portugis
menjadi kesatuan dibawah kepemimpinan raja Spanyol pada 1580.
Penterasi Budaya dan Agama
Minahasa yang semula merupakan tempat persinggahan, oleh Spanyol menjadi
pangkalan penting guna menguasai Filipina dan dipusatkan di Manado dan
Amurang. Juga dijadikan sebagai pusat logistik bahan-bahan pangan guna
menunjang personal mereka di kepulauan Cebu (Filipina) dan Maluku. Hal ini
terjadi setelah gudang produksi beras daerah Kali ditepi Danau Tonsawang
milik masyarakat "Alifuru" dikuasai Spanyol. Sedangkan gudang beras
di
Tondano diperolehnya dengan jalan damai. Sebab para walak yang memimpin
Tondano dikenal sangat ketat dan memberi perlawanan sengit terhadap
penetrasi luar yang merugikan wilayahnya.
Spanyol tidak ingin mengambil risiko untuk berkonfrontasi dengan Tondano agar
tidak membahayakan eksistensinya di Laut Sulawesi guna merebut Filipina
dibawah kekuasaannya. Untuk itu Spanyol melakukan pendekatan atas dasar
persamaan hak dengan para pemuka masyarakat penghuni sekitar tepi danau
Tondano.
Persaingan Adi-Kuasa Eropa dikawasan Laut Sulawesi hingga perairan Laut
Maluku Utara untuk menguasai kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah mulai
berkembang sejak awal abad ke-17. Persaingan itu telah mengganggu
ketenteraman masyarakat Sulawesi-Utara dari lomba pengaruh yang bermula
antara Spanyol dengan Portugis. Posisi Minahasa menonjol sebagai kantong
ekonomi terutama sebagai produsen beras oleh berbagai kerajaan diseputar Laut
Sulawesi dan Laut Ternate.
Pedalaman Minahasa yang kaya sebagai lumbung beras yang dimiliki masyarakat
"Alifuru" diseputar danau Tondano tidak tersentuh oleh penetrasi
luar.
Spanyol dan Portugis secara bertahap memperluas pengaruh budaya Hispanik dan
menyebarkan agama Katolik di pedalaman tanah Minahasa hingga memungkinkan
baginya menguasai pedalaman Sulawesi-Utara.
Penetrasi diplomasi agama dan budaya hingga Spanyol berhasil membentuk dan
menguasai jaringan niaga bagi penyaluran hasil produksi komoditi pedalaman
Minahasa. Akibatnya tata-niaga penduduk setempat mengalami rasa ketergantungan
dari Spanyol. Pendekatan diplomasi budaya dan agama yang berlanjut dengan
menguasai tata-niaga perdagangan berkembang menjadi
kolonialisme hingga Spanyol tidak disenangi penduduk setempat karena
menimbulkan berbagai akibat buruk oleh dominasi ekonomi dan kehidupan sosial
dan selama hampir satu abad.
Pertentangan Eropa Selatan- Eropa Utara di Laut Sulawesi
Keadaan berubah di abad ke-17 ketika Belanda dan Inggris mulai memperlihatkan
supremasi di Asia-Tenggara dan perairan Maluku. Sejak itupun Sulawesi Utara
menjadi penting bagi VOC yang berkedudukan di Batavia dan ingin memperluas
pengaruh hingga Maluku Utara. Sebab kawasan ini sangat strategis untuk
mengawasi Laut Sulawesi terhadap ancaman dari utara. Peranan kota Manado sejak
pendudukan Spanyol mulai menonjol sebagai pusat logistik bahan pangan, terutama
komoditi beras yang dihasilkan pedalaman Minahasa. Kapal-kapal VOC untuk
pertama kali memasuki bandar Manado pada 1607 untuk membeli beras dan bahan
pangan lainnya yang diperlukan sebagai bekal bagi perjalanan menuju daratan
Cina. Namun tidak memperoleh hasil karena larangan Spanyol yang telah menguasai
niaga Sulawesi-Utara.
Pada 1607 Gubernur Cornelis Mattelief dari Batavia mengutus Jan Lodewijk
Rossingeyn menjalin hubungan niaga, namun ditolak oleh Spanyol. Usaha
pendekatan dilanjutkan pada 1610 ketika pimpinan VOC di Batavia mengutus
Kapten Verhoeff yang juga gagal. Verhoeff memberi laporan lengkap mengenai
potensi yang dimiliki Minahasa hingga menarik minat Batavia untuk menguasai
Sulawesi Utara bagi kepentingan keamanan VOC di Maluku.
Pihak VOC mulai melakukan konsolidasi kekuatan untuk merebut Laut Sulawesi dari
Spanyol dipusatkan di Ambon. Pertempuran singkat Spanyol-Belanda berkecamuk
pada bulan Agustus 1614 dikepulauan Siau dengan kemenangan Belanda. Setelah
kekalahan di Siau, Spanyol memusatkan kekuatannya di Manado. Untuk menghadapi
serbuan Belanda, dibangun membangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang
berhadapan dengan pulau Manado Tua.
Kekalahan di Siau menurunkan citra Spanyol di kalangan penduduk sekitar Laut
Sulawesi hingga memperlemah posisinya di Maluku-Utara. Tetapi menguntungkan
posisi VOC memperluas pengaruh di Maluku-Utara dengan Kesultanan Ternate.
Kemenangan gemilang dimungkinkan karena VOC sebelumnya menjalin hubungan
persahabatan dengan para pemuka kesultanan pada 1607 yang dendam terhadap
Spanyol. Hal ini terjadi karena Spanyol menangkap Sultan Sahid Berkat dan
diasingkan ke Manila. Pihak kesultanan Ternate mendekati Belanda sebagai
pengimbang menghadapi kekuatan Spanyol. Jaminan keamanan dari VOC diperoleh
Ternate ketika putera Sahid, Sultan Modafar diangkat menduduki singgasana
kepemimpinan pada 1610 tanpa gangguan Spanyol.
Diplomasi Minahasa
Kehadiran Belanda dan Inggris sebagai Adi-Kuasa di perairan Maluku memberi
angin bagi para walak tanah Minahasa untuk mengusir Spanyol dari Minahasa
dengan melakukan pendekatan kepada pihak Belanda yang telah menguasai Ternate
setelah berhasil menyingkirkan kekuatan Portugis diperairan Maluku.
Pendekatan terjadi ketika tiga kepala walak masing-masing: Supit, Paat‚ dan
Lontoh‚ melakukan misi diplomasi dan berhasil menemui perwakilan VOC di
Ternate pada 1630. Sebelum memerangi Spanyol, pihak VOC mendekati Inggris
untuk tidak mencampuri. Karena Inggris juga memiliki pengaruh dibeberapa
kepulauan Maluku dan hubungan antara Belanda dengan Inggris cukup akrab
karena sama-sama memusuhi Spanyol dan Portugis saling berlomba melakukan
perluasan pengaruh di kawasan Asia-Pasifik.
Inggris sepakat membiarkan Belanda mengusir Spanyol dari Sulawesi-Utara
terutama dari tanah Minahasa. Pada awal abad ke-17 Inggris dan Belanda saling
bahu membahu melakukan pengembangan usaha menuju Asia-Tenggara sebagai hasil
solidaritas mengusir penjajahan Spanyol dari Eropa Utara. Pengembangan East
India Company yang didirikan oleh Inggris tidak beda dengan VOC. Perluasan
persekutuan dagang Belanda dan Inggris sempat dihambat oleh Spanyol dan
Portugis yang merupakan saingan. Namun kedua negeri Hispanik ini tidak berdaya
membendung kekuatan armada laut asal Eropa-Utara ini, hingga kehilangan
pengaruh di Maluku. Tetapi jalinan hubungan akrab Belanda-Inggris tidak abadi
dan berakhir dengan konfrontasi akibat penyakit monopoli menguasai
rempah-rempah. Persaingan serupa juga dialami antara Spanyol dengan Portugis
hingga sejak abad ke-17 kawasan Asia-Tenggara menjadi lomba konflik para
Adi-Kuasa asal Eropa.
Usaha para walak membawa hasil memupuskan kekuasaan Spanyol di tanah
Minahasa. Spanyol kehilangan dominasi terhadap Laut Sulawesi antara penguasa
Spanyol dengan Belanda di Eropa melalui Perjanjian Munster‚ pada tahun 1648.
Sengketa Belanda-Spanyol di Minahasa
Pengaruh VOC di Sulawesi Utara tidak disenangi Spanyol. Sebab Spanyol telah
menanamkan modal dengan pengembangan berbagai komoditi pertanian ekspor
seperti kofi, pisang dan kopra di Sulawesi-Utara. Komoditi ini merupakan
potensi niaga dengan Asia-Timur, terutama daratan Cina. Untuk itu dikirim
Bartholomeus de Soisa dari Filipina mempertahankan posisi Sulawesi-Utara
terutama tempat penghuni masyarakat Minahasa. Spanyol menduduki daerah Uwuran dan
beberapa tempat dipesisir pantai pada 1651 dengan bantuan prajurit asal
Makassar. Karena yang terakhir ini mengklaim Sulawesi-Utara sebagai bagian dari
wilayah kesultanan Makassar. Pendudukan ini menimbulkan reaksi Belanda di
Ternate. Dibawah pimpinan Simon Kos, pada akhir 1655 kekuatan Belanda mendarat
di muara sungai dan langsung membangun benteng.
Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok
sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil
meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat
penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan
menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari
Spanyol.
Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Kos berlayar menuju
Manado disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant pada awal 1661
dari Ternate. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol dan Makassar hingga di Manado
hingga Amurang pada bulan Februari 1661. Belanda memapankan pengaruhnya
di Sulawesi-Utara dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari
beton. Benteng ini memperoleh nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan
oleh Gubernur VOC dari Ternate, [1]Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng
terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950). Sejak
saat itu Spanyol memusatkan koloninya di Filipina sebagai basis kepentingan
ekonomi di Asia-Timur. Kolonialisme Spanyol di Filipina berakhir dan diserahkan
Amerika Serikat pada 1896 akibat kalah dalam perang AS-Spanyol pantai Barat
Amerika-Utara.
Diplomasi para walak mendekati Belanda berhasil mengusir Spanyol dari
Minahasa. Namun konsekwensi yang harus dialami adalah rintisan jalur
niaga
laut di Pasifik hasil rintisan Spanyol sejak ¨abad ke-17 terhenti dan
mempengaruhi perekonomian Sulawesi Utara. Sebab jalur niaga ini sangat
bermanfaat bagi penyebaran komoditi eskpor ke Pasifik. Sejak itupun pelabuhan
Manado menjadi sepi dan tidak berkembang yang turut mempengaruhi pengembangan
kawasan Indonesia bagian Timur hingga Pasifik Barat Daya. Dilain pihak,
pelabuhan Manado hanya menjadi persinggahan jalur niaga dari Selatan (berpusat
di Surabaya, Tanjung Priok yang dibangun oleh Belanda sejak abad ke-XVIII) ke
Asia-Timur melalui lintasan Selat Makassar. Itupun hanya digunakan musiman saat
laut Cina Selatan tidak di landa gelombang ganas bagi kapal-kapal. Sedangkan
semua jalur niaga Asia-Timur dipusatkan melalui Laut Cina Selatan, Selat
Malaka, Samudera Hindia, Tanjung Harapan Atlantik-Utara yang merupakan pusat
perdagangan dunia.
Sebagai akibatnya kegiatan hubungan ekonomi diseputar Laut Sulawesi secara
langsung dengan dunia luar praktis terlantar. Karena penyaluran semua
komoditi diseluruh gugusan nusantara melulu diatur oleh Batavia yang
mengendalikan semua jaringan tata-niaga dibawah kebijakan satu pintu.
Penekanan ini membawa derita berkepanjangan bagi kegiatan usaha penduduk
pedalaman Minahasa.
Pergeseran pengaruh kekuasaan dari Spanyol kepada Belanda telah merubah
sistem tata-niaga dimana komoditi Sulawesi-Utara tidak dapat berhubungan
langsung dengan berbagai pasaran dipaparan Pasifik. Jaringan niaga Laut
Sulawesi di Asia-Timur dan rintisan jalur niaga Pasifik yang menghubungkan
kawasan ini dengan daratan benua Amerika oleh Spanyol praktis tertutup. Semua
komiditi ekspor ekonomi penduduk Sulawesi-Utara dikendalikan melulu dari
Batavia diciptakan sejak zaman VOC dilanjutkan oleh pemerintahan
Hindia-Belanda sebagai penguasa tunggal terhadap imperium kolonial
terbesarnya di Asia-Tenggara.
Namun tekanan ini menimbulkan motivasi tersendiri bagi masyarakat Minahasa
mempertahankan eksistensi keberadaannya dengan pengembangan diplomasi seperti
yang dilakukan para Walak Minahasa dalam cara menghadapi kolonialisme Barat.
Terlepas dari penderitaan yang dialami Minahasa dari penjajahan baik
Spanyol
maupun Portugis, namun hikmah dari kolonialisme Eropa hingga Minahasa
mengenal pengetahuan westernisasi. Pengetahuan ini dijadikan sebagai senjata
penangkal terhadap penetrasi kolonialisme Barat dengan menggunakan
pengetahuan Barat.
Bermulanya_Pertentangan_VOC_Dengan_Pemerintah_Belanda
Ternyata penyakit lomba monopoli menjadi penyebab hingga dampak
dari perang 80 tahun di Eropa-Utara oleh rumpun Hispanik berkembang di
Asia-Timur dan Tenggara dan masing-masing saling berlaga lomba adu pengaruh.
Walau satu benua, tetapi masing-masing memiliki persepsi saling berbeda agama.
Pengaruh reformasi agama di Eropa-Utara hingga perbedaan dengan Eropa-Selatan
turut berperan. Hal ini terlihat dari gaya terapan kolonialisme "Pax
Europeana" dikawasan ini, yang mana masing-masing memiliki caranya
sendiri. Begitu pula dalam pengembangan unsur agama dan penyebaran Kristenisasi
diberbagai koloni. Koloni-koloni Spanyol dan Portugis dialiri pengembangan Jesuitisme,
sedangkan Belanda dan Jerman mengembangkan Protestantisme.
Di Minahasa mulanya berkembang Katolik pada era [1]Conquistadores‚ antara
Spanyol dan Portugis yang pernah membagi peta bumi dalam dua bagian dan
memperoleh titik temunya di perairan Halmahera. Kekalahan Spanyol dan
Portugis dari Belanda digugusan nusantara (kecuali Filipina dan kepulauan
Nusa Tenggara-Timur dan Timor-Timur) dan Pasifik Barat-Daya (penyerahan Irian
dari Spanyol kepada Jerman) posisi geografi kolonialisme Eropa mengalami
perubahan sejak abad ke-19. Asia-Tenggara, Laut Sulawesi, Maluku hingga Pasifik
Barat-Daya bebas dari kolonialisme Spanyol dikuasai Belanda,
Amerika-Serikat dan Jerman (hingga 1918).
Mulanya VOC menghendaki gugusan Nusantara melulu menjadi garapan ekonomi
sesuai fungsi dari [1]Hak Oktroi‚ yang diperolehnya ketika lembaga ini
didirikan pada tahun 1602 melalui persetujuan Staten-General.‚ VOC langsung
berada dibawah pengawasan dari ‘Heren Zeventien,’ yang menempatkan wakil
dari masing-masing provinsi di Belanda menanam modal terwujudnya usaha dagang
sekaligus penunjang ekonomi di negeri Belanda yang dibentuk awal abad ke-17 di
Amsterdam. Namun pertentangan berkembang ketika ‘Staten-General‚’ yang
merupakan lembaga eksekutif tertinggi Belanda pada 1617 memutuskan melakukan
pengembangan Kristenisasi diberbagai wilayah yang dikuasai VOC. Hal ini
dilakukan guna mengimbangi Spanyol dan Portugis yang ketika itu mengembangkan
agama Katolik diberbagai koloninya di Asia-Timur hingga Pasifik. Pengembangan
agama dilakukan dengan dibangunnya berbagai sarana pendidikan Kristen dan
gereja. Hadirnya pengembangan agama Kristen yang dikehendaki oleh pihak
Staten-General tidak disenangi VOC yang ternyata memiliki persepsi sendiri
dalam cara mengembangkan kekuasaannya terhadap imperium terbesarnya digugusan
kepulauan nusantara.